Cerita Fiksi

Baju Baru yang Disimpan di Langit Hati

Baju Baru yang Disimpan di Langit Hati
Ilustrasi cerita fiksi Baju Baru yang Disimpan di Langit Hati (Gemini AI/Nano Banana)

Ramadan baru saja pergi meninggalkan hari-hari Nayla. Kepergian bulan itu terasa seperti tamu yang sangat dicintai namun harus pulang sebelum sempat dipeluk lebih lama. Bagi Nayla, Ramadan selalu punya suara, seperti gemerincing sendok saat berbuka bersama, langkah kaki kecil menuju masjid, dan lantunan ayat-ayat suci yang mengalun pelan di antara lampu-lampu masjid yang temaram.

Kini semuanya telah usai.

Malam-malam tanpa Tarawih terasa lebih sunyi. Halaman masjid yang biasanya riuh oleh tawa anak-anak kini kembali menjadi halaman biasa. Bahkan suara jangkrik terdengar lebih jelas dari biasanya.

Namun Idul Fitri selalu datang membawa sesuatu yang lain, harapan kecil yang dibungkus dengan kain baru, sandal baru, dan senyum-senyum yang saling memaafkan.

Pagi itu, matahari pertama Syawal menyusup pelan melalui jendela rumah sederhana Nayla. Di atas kursi kayu di ruang tamu, terlipat rapi sebuah baju baru berwarna biru muda. Di sampingnya ada jilbab putih dengan renda kecil di ujungnya, juga sandal baru yang masih kaku karena belum pernah dipakai.

Itu semua untuk Nayla. Tetapi wajah Nayla tidak seperti anak-anak lain yang biasanya melompat kegirangan saat melihat pakaian baru. Senyumnya tipis. Bahkan cenderung cemberut. Hal itu tentu saja tidak luput dari perhatian ibunya.

“Kan sudah pakai baju baru, kenapa masih pasang muka cemberut begitu, Sayang?” tanya Bu Ningsih sambil merapikan kerah baju Nayla.

Bu Ningsih sudah tujuh tahun hidup hanya berdua dengan putrinya. Sejak suaminya, Pak Suaib, pergi untuk selamanya, hidup terasa seperti jalan panjang yang harus ditempuh sendirian. Pak Suaib meninggal dalam sebuah kecelakaan tabrak lari ketika mengayuh sepeda ontelnya menuju pasar sambil membawa sayur hasil kebun.

Saat itu Nayla bahkan belum lahir. Sejak hari itu, Bu Ningsih belajar memikul dunia sendirian. Ia bekerja sebagai pembantu di rumah Nyonya Stevi. Setiap pagi sebelum matahari muncul, ia sudah berangkat. Membersihkan rumah orang lain, mencuci pakaian, memasak, dan baru pulang menjelang sore. Semua demi satu hal, hanya Nayla.

“Aku tidak mau pakai baju baru sendirian,” jawab Nayla pelan.

Bu Ningsih tersenyum tipis.

“Siapa bilang Nayla sendirian? Teman-teman Nayla juga pakai baju baru. Fatma, Icha, semuanya.”

Nayla menggeleng keras.

“Pokoknya aku tidak mau kalau ibu tidak pakai baju baru juga.”

Kalimat itu jatuh seperti kerikil tajam di dalam dada Bu Ningsih. Ia terdiam. Bukan karena ia tidak ingin baju baru. Bukan juga karena ia tidak sempat membeli. Tetapi setiap kali menerima gaji dari Nyonya Stevi, pikirannya selalu berjalan jauh ke masa depan Nayla.

Sebentar lagi Nayla akan masuk sekolah dasar. Seragam, tas, sepatu, dan buku. Semua itu membutuhkan uang.

Tas Nayla yang lama sudah mulai robek di sudutnya. Sepatunya bahkan sudah bolong di bagian depan. Jika hujan turun, kaki kecil Nayla sering basah ketika pulang sekolah.

Maka setiap lembar uang yang ia simpan terasa seperti jembatan menuju masa depan anaknya.

“Iya… ibu juga punya baju baru,” kata Bu Ningsih akhirnya, berusaha terdengar yakin.

Namun Nayla justru menangis.

“Ibu bohong… ibu tidak punya.”

Tangis Nayla pecah di ruang tamu. Ia memeluk boneka Doraemon yang warnanya sudah mulai pudar.

Bu Ningsih merasa dadanya diremas pelan oleh sesuatu yang tidak terlihat.

“Ada kok,” katanya lembut. “Ayo lihat di lemari.”

“Masa?” Nayla menantang.

“Iya… tapi ibu ke dapur dulu. Sayurnya takut gosong.”

Namun ketika menjauh dari Nayla, langkah Bu Ningsih tidak menuju dapur.

Ia menuju lemari tua di kamar kecil mereka. Di bagian paling bawah lemari, ia membuka kotak kardus tempat menyimpan plastik pembungkus baju Nayla yang baru dibeli seminggu lalu.

Plastik itu masih rapi. Dengan tangan sedikit gemetar, Bu Ningsih mengambil salah satu baju lamanya. Baju yang warnanya sudah pudar karena terlalu sering dicuci.

Ia melipatnya perlahan, seolah sedang melipat rahasia. Lalu memasukkannya ke dalam plastik bening itu. Sekilas, dari luar, baju itu tampak seperti baju baru.

Bu Ningsih menarik napas panjang. Barangkali kebohongan kecil ini tidak akan melukai siapa pun. Ketika semuanya siap, ia memanggil Nayla.

“Ayo, kita lihat.”

Nayla menghapus air matanya dengan punggung tangan. Rasa penasaran perlahan mengalahkan tangisnya.

Ia membuka pintu lemari. Di rak paling atas, plastik itu tergeletak rapi. Mata Nayla berbinar.

“Ibu punya baju baru!”

Bu Ningsih hanya tersenyum.

Hari itu Nayla akhirnya mengenakan baju biru mudanya. Ia berjalan ke rumah tetangga bersama teman-temannya, bersalaman, tertawa, dan sesekali memamerkan sandal barunya.

Untuk pertama kalinya sejak pagi, senyum Nayla benar-benar merona. Namun dua hari berlalu, Nayla tidak pernah melihat ibunya mengenakan baju baru itu. Setiap kali ditanya, Bu Ningsih selalu punya jawaban.

“Belum sempat.”

“Nanti saja dipakai.”

“Atau disimpan dulu biar tidak cepat kotor.”

Suatu sore di hari ketiga lebaran, Nayla duduk di depan rumah sambil memperhatikan ibunya menjemur pakaian. Angin sore meniup lembut ujung jilbab Bu Ningsih yang sudah memudar warnanya. Tiba-tiba Nayla berdiri dan berlari memeluk ibunya dari belakang.

“Ibu…”

“Iya, Sayang?”

“Aku tahu sesuatu.”

Bu Ningsih berhenti menjemur.

“Apa?”

Nayla menatap wajah ibunya dengan mata yang sangat jernih.

“Ibu tidak punya baju baru.”

Jantung Bu Ningsih berdegup pelan.

“Tapi tidak apa-apa,” lanjut Nayla.

Nayla tersenyum. Senyum kecil yang hangat.

“Karena ibu sudah memberi Nayla semuanya.”

Angin sore berembus lebih pelan seolah ikut mendengar. Bu Ningsih tidak berkata apa-apa. Ia hanya memeluk Nayla erat. Dan pada saat itu, tanpa perlu baju baru, Bu Ningsih merasa menjadi orang paling kaya di dunia, sebab ada satu pakaian yang tidak pernah bisa dibeli oleh siapa pun di dunia ini.

Pakaian itu bernama cinta seorang ibu yang diam-diam ia kenakan setiap hari, tanpa pernah ingin terlihat baru.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda