Cerita Fiksi
Cerita-cerita dari Negeri Karmala
Di Negeri Karmala, setiap orang lahir dengan satu benang takdir yang terikat di pergelangan tangan. Benang itu tak terlihat kecuali saat seseorang berbohong. Saat dusta keluar, benang memendek, menarik pemiliknya mendekat ke pusat negeri: Pohon Karmala yang hitam pekat.
Arunika lahir tanpa benang dan itu membuatnya aneh. Penduduk Karmala menjauhinya, karena tanpa benang berarti seseorang tak punya takdir—atau takdirnya terlalu bebas hingga berbahaya.
Suatu hari, benang semua orang mulai memendek bersamaan. Panik pun menyebar. Raja Karmala, yang benangnya paling panjang, memanggil Arunika. "Kau tak punya benang, kau juga tak terikat. Pergilah ke Pohon dan potong akarnya."
Arunika berjalan sendirian melewati ladang kata-kata. Di sana, bunga hanya mekar jika dibohongi. Dia lewat tanpa bicara, dilewatinya bunga yang layu. Sungai kenangan mengalir mundur; orang-orang yang minum darinya lupa siapa diri mereka.
Di kaki Pohon Karmala, Arunika bertemu Bayang, makhluk yang terbuat dari semua benang yang pernah putus. "Pohon ini bukan pohon," kata Bayang. "Ini mesin pengulang cerita. Setiap kali orang berbohong, ia memutar ulang hari yang sama dengan sedikit perubahan kecil. Negeri ini sudah berputar 777 kali."
Arunika menyentuh batang pohon. Tangannya tak memicu benang baru. Justru pohon itu bergetar. Akar-akarnya ternyata adalah benang semua penduduk yang pernah mati—terkumpul, saling anyam, menciptakan ilusi kehidupan.
"Kalau aku potong akarnya, semua cerita berhenti," ujar Arunika.
"Benar," jawab Bayang. "Tapi kalau tak dipotong, kalian akan terus berbohong selamanya, hanya untuk menunda akhir."
Malam itu, Arunika mendaki pohon. Daun-daunnya adalah halaman buku yang belum ditulis. Semakin tinggi, semakin ia melihat masa lalu Karmala: raja pertama yang berbohong demi kekuasaan, ibu yang berpura-pura bahagia demi anaknya, pemuda yang dusta pada cintanya.
Di puncak, ada satu buah hitam mengkilap. Buah itu berdenyut seperti jantung. Arunika memetiknya. Buah itu pecah, mengeluarkan ribuan benang kecil yang beterbangan seperti laba-laba.
Saat itu, seluruh negeri berhenti. Penduduk Karmala terbangun dari pengulangan. Mereka melihat benang mereka—kini putus semua, tergeletak di tanah seperti benang layang-layang yang lepas.
Raja datang tergopoh. "Apa yang kaulakukan? Tanpa benang, kita tak punya masa depan!"
Arunika pun tersenyum tipis. "Justru sekarang kalian punya. Cerita tak lagi diulang. Kalian harus menulisnya sendiri."
Bayang muncul di sampingnya, kini berwujud manusia biasa. "Aku adalah cerita pertama yang pernah dipotong. Terima kasih telah membebaskanku."
Angin berhembus. Benang-benang di tanah mulai terbang, bukan menarik, tapi mengikuti kehendak pemiliknya. Beberapa orang menjalin benang mereka menjadi jembatan. Yang lain menjadikannya layang-layang untuk melihat dunia di luar Karmala.
Arunika memang tak punya benang, tapi kini ia punya banyak teman yang tak lagi takut padanya.
Kini Negeri Karmala sudah tak lagi sama. Pohon hitam itu kini kering, hanya batang kosong. Di bawahnya, orang-orang duduk bercerita—kali ini tanpa dusta dan tanpa pengulangan.
Dan cerita-cerita baru lahir, unik, tak terikat, seperti Arunika.
Setelah Pohon Karmala mati, angin membawa benang-benang kosong ke langit. Penduduk mulai menulis hari pertama yang sesungguhnya. Namun kebebasan ternyata lebih berat daripada pengulangan.
Arunika duduk di bawah batang pohon kering ketika seorang anak kecil mendekat. “Kak Aru, aku tak tahu harus bercerita seperti apa. Sebab, dulu bohong saja sudah cukup.”
Kemudian Arunika mengambil sepotong benang putus dan memberikannya. “Jalin dengan yang kaurasakan hari ini. Tak perlu indah.”
Malam harinya, desa berubah. Seorang penjual roti tak lagi bilang “roti ini paling enak” hanya untuk laku. Ia bilang jujur, “roti ini biasa saja, tapi aku buat dengan tangan yang lelah.” Orang tetap membeli, karena untuk pertama kalinya mereka merasakan kejujuran.
Tapi tak semua orang senang. Beberapa warga merindukan pengulangan. Di sana tak ada kegagalan sejati, tak ada penyesalan abadi. Mereka berkumpul diam-diam, mencoba menjalin benang lama menjadi lingkaran kecil, berharap memutar ulang waktu.
Raja yang kehilangan kekuasaan mutlak mendatangi Arunika. “Kau hancurkan negeri ini. Dulu aku raja karena benangku terpanjang. Sekarang semua sama.”
Arunika menjawab, “Dulu kau hanya aktor dalam cerita orang lain. Sekarang kau bisa jadi penulis.”
Kini Bayang membantu orang-orang yang kebingungan. Ia mengajari mereka bahwa bercerita tak harus sempurna. Cukup jujur saja.
Suatu pagi, Arunika terbangun dengan benang tipis melilit pergelangan tangannya. Bukan dari pohon, tapi dari dirinya sendiri—tumbuh dari keberaniannya memilih. Benang itu tak menarik ke mana pun. Ia hanya mengingatkan: kau bebas.
Negeri Karmala kini penuh suara. Suara tawa yang kadang pecah, tangis yang tak disembunyikan, dan kata-kata yang tak lagi takut memendekkan benang karena benang sudah tak mengikat.
Arunika berjalan ke batas negeri, diikuti Bayang dan anak-anak kecil. Di depan mereka ada hamparan kabut putih. Tak ada peta, ataupun takdir.
“Kita mau ke mana?” tanya anak itu.
Arunika menjawab singkat, “Ke cerita yang belum pernah diceritakan.”
Mereka melangkah masuk. Benang di tangan Arunika berkilau pelan, siap untuk ditulis ulang setiap hari.