Cerita Fiksi
Friska, Lift Aneh, dan Lelaki Berbaju Hitam Pencari Gula Pasir
"Tempat macam apa ini?”
Friska menghentikan laju motor bebeknya, sebelum turun di depan sebuah gedung bertingkat-tingkat. Bukan tipe gedung mewah khas kota metropolitan, melainkan gedung sederhana, dengan beberapa tiang bambu seperti belum selesai masa konstruksi, dengan debu-debu yang beterbangan.
Dia lalu mengedarkan pandangan, dan mendapati situasi gersang di sekitar lokasi ini. Tanah berpasir, debu, angin musim panas yang membuat wajah kering nan berminyak. Friska kemudian mengelap keringan di kening dengan sapu tangan. Kerudungnya yang menjuntai, dia jadikan penutup hidung.
“Oh, kamu sudah datang?”
Saat Friska menepuk-nepuk ujung roknya yang kotor berdebu, muncul seorang lelaki bertubuh tinggi tegap yang menghampiri. Lelaki itu berkulit sawo matang, berambut hitam legam serupa dengan jaket kulitnya, dan tingginya kira-kira 180-an senti. Friska bahkan sampai mendongakkan kepala karena perbedaan tinggi yang ekstrim.
“Sudah menunggu lama?” tanya lelaki itu lagi. “Ayo kita beraksi sekarang saja.”
Lelaki tadi kemudian tersenyum gembira, seraya mengulurkan tangan. Namun saat Friska menolak uluran tangannya dengan sopan, lelaki itu lantas mengangguk setuju.
“Kamu, sebenarnya siapa?” tanya Friska. “Lalu, kita ini ada dimana?”
“Seharusnya aku yang bertanya. Kan kamu sendiri yang kemari,” jawab lelaki itu asal.
“Kamu bukan gangster kan?” Friska mundur beberapa langkah. “Tampilanmu sudah seperti Hayabusa senpai di anime Sakamoto De Suga.”
Lelaki tadi tertawa terbahak. Dia kemudian menendang batu kecil dengan keras. “Gila! Aku disamakan dengan Hayabusa?!”
Friska lantas mencoba meraih gunting di dalam tasnya guna berjaga-jaga. Melihat tindakan itu, lelaki tadi kemudian tersenyum tenang.
“Aku tidak akan aneh-aneh padamu. Aku hanya akan mengajakmu melakukan aksi yang seru.”
“Bukan merampok kan?”
“Bukan. Hanya sebuah tugas kecil. Kujamin, kamu pasti bakal terpesona nantinya. Ayo ikut aku.”
Lelaki tadi kemudian berjalan santai ke arah gedung bertingkat di depan sana. Ujung sepatunya menepuk debu-debu sehingga beterbangan. Seandainya dia memakai topi koboi, melemparkan tali, dan menaiki kuda, Friska pasti mengira dia adalah koboi Meksiko yang nyasar kemari.
Bagaimana tidak? Sudahlah mengenakan jaket kulit tebal di siang panas begini, celana jeans panjang dengan robekan di lutut, dan sepatu tebal. Dia tidak kepanasan apa?
“Gedung itu aman kah?” tanya Friska ragu. “Kita tidak masalah kalau masuk?”
“Tenang. Aman kok.”
Lelaki tadi kemudian memandu Friska memasuki gedung tersebut. Dari luar penampilannya memang agak berantakan, namun begitu masuk, hawanya berubah lebih sejuk dengan penampilan sederhana tetapi bersih. Lantai plesteran semennya nyaris tanpa debu, dan tembok-tembok bata merah tersusun simetris rapi. Ada beberapa perabotan seperti meja dan kursi kayu kecil, serta sofa biru lusuh di sebelahnya.
“Oke. Tugasmu adalah mengumpulkan gula pasir,” kata lelaki itu tiba-tiba setelah mendudukkan diri ke sofa. “Kamu hanya perlu mengambil kantung gula saja. Ini seperti permainan mencari harta karun. Dan aku akan menunggu disini.”
Friska tercenung. “Gula pasirnya…ada di gedung ini?”
“Masuklah dulu ke dalam lift disana. Nanti kamu bakal tahu harus mencari kemana.”
Lelaki tadi menunjuk sebuah lift. Tidak. Itu bukan lift. Bentuknya hanya seperti kardus kulkas, dan berpintu triplek. Friska skeptis. Namun, lelaki tadi justru mendorong tubuhnya masuk ke dalah ‘lift’ dan memintanya menekan tombol di sisi kiri.
“Tekan tombol itu, nanti pintu bakal tertutup otomatis. Begitu nanti terbuka, kamu langsung keluar saja dan cari kantung gula pasirnya. Ambil sebanyak mungkin.”
“Memangnya mau dibuat apa sih gulanya?”
Lelaki tadi justru kembali duduk di sofa lusuh dan memberikan instruksi pada Friska. Perempuan itu menggerutu kesal. Lagian, mana mungkin kardus kulkas ini bergerak? Aneh.
Namun, begitu Friska menekan tombol di sisi kiri, lift ini bergerak. Rasanya seperti naik lift di mall kota. Friska sungguh terkejut. Namun, keterkejutannya berlipat ganda kala pintu triplek terbuka sendiri dan menampilkan suasana pasar yang ramai.
Hiruk pikuk pedagang, pembeli, dan kios-kios yang hidup. Tetapi yang aneh, langit di luar tampak gelap seperti malam. Padahal, Friska ingat bahwa seharusnya ini masih siang hari. Dan, kehadiran lelaki tadi tidak ada sama sekali.
“Kamu Friska ya?” Friska menoleh saat seorang ibu menepuk bahunya. Dia kemudian mengangguk. “Ini gulanya.”
Friska terbengong begitu ibu tadi berlalu, dan dia menggendong satu kantong gula seberat dua kiloan. Dia kemudian teringat pada tugas yang diberikan. Alhasil, Friska malah menyusuri pasar sambil mengambil gula pasir yang terbungkus dalam kantong kain, atau kantong kresek. Kalau ada tempat yang terlewat, pasti ada orang yang memberitahunya.
Setelah merasa cukup, Friska kembali masuk ke dalam lift dan mulai menekan tombol.
“Dapat banyak gulanya?” suara lelaki tadi terdengar begitu pintu lift terbuka.
Friska segera meletakkan gula pasir ke atas meja dengan rasa penasaran. “Tempat apa tadi itu? Gedung ini kan mirip tempat terbengkalai, kok ada pasarnya? Lalu, kok tadi langitnya malam? Di sini kan masih benderang?”
Lelaki tadi terkekeh. “Coba kamu masuk lagi, dan lihat kamu bakal mendarat di mana.”
Friska setuju. Dia kemudian kembali ke dalam lift dan kembali terkejut kala dia mendarat di sebuah perpustakaan. Lewat kaca jendela, dia mendapati langit sore dengan sunset yang menawan. Walau begitu, ada banyak gula pasir yang diberikan orang-orang padanya, sebelum dia kembali masuk ke dalam lift. Rasanya gembira bisa melancong ke beragam lokasi.
“Oke, gula pasirnya sudah terkumpul banyak. Terima kasih atas kerja kerasmu, Friska. Semoga kamu sehat selalu.”
“Lho, aku tidak diberikan upah?”
Lelaki tadi lantas berhenti dari kegiatan mencatat sesuatu di bukunya. “Kamu sudah melancong kemana-mana dengan aneka waktu tadi, masih kurang?”
“Aku sendirian mengangkati gula dari tadi. Serius tidak diberi upah?”
Lelaki tadi menggeleng. “Coba kamu masuk sekali lagi ke lift itu, tapi kali ini tidak usah mengambil gula.”
“Aku…bakal kemana lagi?”
“Coba saja dulu.”
Friska menurut. Dia kembali masuk ke dalam lift kardus dan menekan tombolnya hanya untuk kembali ke dunia nyata dimana dia terbaring di kasur tempat tidurnya.
“Dasar kurang asam!” gerutunya sebelum kembali rebahan.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS