Cerita Misteri
Pocong yang Membesar sambil Menyeringai Gila di Kebun Pisang
Saat pergi mengurus beberapa dokumen ke kantor kecamatan, ada satu lokasi di jalan penghubung yang membuatku mengenang memori lama. Iya, satu penampakan sosok pocong putih yang semakin dilihat semakin besar ukurannya, dengan seringaian gila yang membuatku girap-girap (ketakutan sampai nggak berani tidur/nggak nyenyak tidur).
Begini kronologinya.
“Nanti sekalian beli bakso mau? Atau beli sate gule saja?” tanya Bapak.
“Sate gule boleh, Pak? Sekalian buat lauk nasi di rumah,” kataku.
Kami lalu berangkat selepas isya. Sebetulnya, Bapak hendak membeli onderdil kendaraan di satu toko yang terletak di sekitaran kantor kecamatan sepulang dari mengantarku check up dari klinik kesehatan, sebab beberapa waktu lalu aku mengalami kecelakaan sepulang sekolah. Tidak parah, tapi sakit.
Oh ya, toko itu adalah toko yang paling lengkap barangnya, mulai dari onderdil sepeda motor, aneka onderdil mobil tahun lama atau tahun baru, hingga onderdil truk pun ada. Intinya, toko besarlah.
Nah karena Bapak ini orang yang pemberani, alih-alih melewati jalan raya, kami pun melintasi jalan tembusan yang mana melewati pedesaan dan sawah ladang. Sebenarnya jalan ini tidak menyeramkan, karena penerangan jalan berfungsi dengan baik. Namun, ada dua titik yang menurutku mengerikan, yakni kebun pisang kepok di dekat pertigaan perbatasan dua dusun, dan sebuah rumah berlantai dua yang mangkrak bertahun-tahun.
“Kenapa nggak lewat jalan raya saja sih, Pak?”
“Lha kenapa? Kamu takut?” Kudengar Bapak tertawa. “Jalan ramai begini, apa sih yang kamu takutkan? Makanya, jangan banyak-banyak nonton film horor.”
Aku tertawa. “Kan Bapak yang suka nonton film horor Suzanna. Ya aku ikutan nonton jadinya.”
Bapak kembali tertawa, sebelum melajukan motor lebih kencang, sebab khawatir kalau-kalau toko onderdil segera tutup.
Begitu sampai di lokasi, bapak tersenyum lega saat toko onderdil masih buka, bahkan sedang ramai pembeli. Jadilah, Bapak lekas berbelanja onderdil yang diperlukan, lantas kami mampir ke kedai sate gule, kemudian langsung pulang. Kami kembali melintasi jalan tembusan yang tadi, toh keadaan masih ramai lalu lalang kendaraan. Bahkan di pertigaan dekat kebun pisang, kami harus berhenti sebelum mengambil jalur. Betulan ramai, Rek.
“Wah, itu kalau pisangnya berbuah barengan, pasti kaya raya pemiliknya,” gumamku sambil mengamati kebun pisang.
Area kebun pisang tampak temaram, mungkin karena tersorot cahaya rembulan. Kunikmati lembutnya purnama, sambil berangan-angan menjadi tuan tanah pemilik kebun pisang.
“Itu karung ya?” tanyaku memastikan begitu tampak satu titik putih di balik salah satu pohon pisang. “Karung atau kain?”
Pertigaan masih ramai, dan kami masih harus berhenti dengan beberapa pengendara motor lainnya. Namun angin dingin menerpa tengkukku secara aneh, sangat tiba-tiba.
“Lho, karung kok ada lampu stopnya?”
Objek itu tampak berwarna putih, persis karung beras di balik pohon pisang. Kemudian, ada nyala cahaya kemerahan. Cahaya yang semakin memperjelas wujudnya, hingga ekspresi apa yang sedang dia tampilkan.
Aneh. Aku tidak bisa mengalihkan pandangan, pun tidak bisa sekadar berkedip. Napasku pun tertahan sewaktu objek yang seukuran orang itu lantas terlihat tersenyum.
Ah bukan, kedua matanya tampak menghitam bak lubang tak berdasar. Sekujur tubuhnya terbalut kain putih bersih, yang makin menyala diterpa cahaya purnama. Ada bercak merah kecokelatan di wajahnya. Lalu yang paling ingin membuatku menangis, dia justru tersenyum. Hm, sepertinya lebih ke menyeringai. Satu seringaian gila, sebagaimana seringaian psikopat di suatu film thriller.
Sosok itu mengamatiku, masih dengan seringaiannya yang kini bertambah lebar. Perlahan, wajah mengerikan tersebut menghilang, lebih tepatnya tertutup bayangan pepohonan pisang. Menyisakan sepasang mata kelamnya yang terus mengawasi.
Tubuhnya yang semula seukuran orang biasa, justru membesar dan kian meninggi. Meninggi sampai setinggi pohon pisang kepok. Matanya seakan tidak pernah melepaskanku dari pandangannya. Hingga Bapak melajukan motor dan kami berbelok ke barat. Hal itulah yang memutus pandanganku dengan sosok mengerikan tadi.
“Pak, tadi lihat pocong apa tidak?” tanyaku berusaha tenang. Aslinya, jantungku masih berdentam tidak karuan. “Di kebun pisang dekat pertigaan?”
“Halah! Mungkin itu cuma bayanganmu saja.”
Ingin rasanya aku menggeplak helm Bapak. “Bukan, Pak. Tadi kulihat sendiri. Itu pocong warnanya putih. Makin dilihat, dia makin besar dan tinggi.”
Bapak terdiam sejenak. “Apa Medon ya?”
“Medon apaan, Pak?” tanyaku meminta penjelasan. “Kalau mendoan, aku doyan.”
“Medon itu konon hantu yang bisa mengubah ukuran dirinya sendiri. Makin dilihat, makin gede ukurannya.”
“Pak, jangan nakut-nakuti orang begitulah,”
Bapak tertawa. “Lha kamu sendiri yang bertanya.”
Bahkan hingga bertahun-tahun kemudian, aku masih tidak yakin dengan apa yang kulihat waktu itu. Apakah sosok tersebut adalah pocong, medon, atau mungkin hanya objek sepele yang tampak menyeramkan di malam hari. Ah, atau barangkali hanyalah efek pantulan cahaya purnama yang temaram?
Entahlah. Lagipula, kenapa dia menyeringai kepadaku?