Cerita Fiksi
Cerita dari Desa Majona
"Dari mana kau mendapatkan itu, Kai? Mengapa tampak seperti benda yang pernah dibawa Alpumere?"
Mainewa menunjuk ke leher Kai penuh rasa ingin tahu. Benda yang mengikat leher Kai terlihat tebal dan warnanya menunjukkan jika itu terbuat dari emas murni.
"Aku memperolehnya dari lautan. Beruntung, karena tangkapanku semalam tak memuaskan.”
Mainewa menatap tak percaya pada ucapan lelaki berambut ikal di depannya. Ia tahu benda itu berharga mahal, karena Alpumere pernah menawarkan benda itu padanya. Jika ia tak salah ingat, Alpumere menyebut benda itu ‘kalung’.
Apa Kai menemukan harta karun dari kapal karam?
Ah, tapi tidak mungkin. Apalagi tak mudah untuk mencapai dasar lautan. Benak Mainewa bertikai sendiri sambil memandangi punggung Kai yang menjauh.
Tentang Kai yang menemukan kalung emas dari lautan segera saja tersebar di Kedai Palulu, ketika sebagian besar nelayan Desa Majona tengah menikmati Kahlebi usai melaut.
"Jangan asal bicara, Mainewa. Mungkin kalung itu dibelinya dari Alpumere, si Saudagar Tua yang datang setiap tiga musim sekali ke desa kita."
"Ya, Palulu benar. Lagi pula aku pernah menyelam di sepanjang Tanjung Boue. Tak ada kapal karam di sana,” sela Opu Lai.
Orang-orang di kedai mengangguk-angguk. Mereka tak menyangsikan kemampuan menyelam lelaki bertubuh kecil itu. Ia mampu menahan napas hingga menjangkau Lebuna, gua yang berada di dalam laut. Menurut Opu Lai, gua tersebut penuh dengan Udara Suci, yang membantunya mencapai dasar laut dan kembali lagi ke daratan, karena dapat tersimpan lama dalam paru-parunya.
"Soal harta karun dalam kapal karam memang dugaanku saja. Kai sama sekali tidak bicara soal itu." Mainewa malu-malu mengakui bahwa ia menambah-nambahkan cerita.
"Ah, lalu apa yang diucapkan Kai sebenarnya?"
Palulu yang sibuk mengaduk Kahlebi, minuman khas Desa Majona berisi campuran daging kelapa, susu kambing, ditambah getah pohon agloeu, tak tahan untuk tak kembali berkomentar. Mainewa menerawang, mengingat-ingat.
"Tak ada lagi kurasa. Kai hanya menyebut kalung itu dari lautan. Lalu mengeluhkan tangkapan ikannya."
Semua orang yang berada dalam kedai merasa tak memperoleh petunjuk sama sekali dari kata-kata Mainewa.
"Daripada terus menduga-duga, lebih baik kita bertanya langsung pada Kai sekarang juga!" Tambo, nelayan yang sebelah matanya buta karena pernah terkena racun ekor pari, berteriak menggelegar.
Tak menunggu waktu lama, segerombolan orang yang penasaran tergesa-gesa keluar dari Kedai Palulu. Orang yang mereka cari tampak sedang memperbaiki jaring di muka pondoknya. Kai nyata sekali terkejut melihat orang-orang yang mendadak muncul dengan langkah-langkah beringas. Tambo yang kemudian lebih dahulu buka suara.
"Kai! Kami mendengar soal kalung emasmu dari Mainewa. Kami tak percaya kalau itu kau dapatkan dari kapal karam. Jadi, dari mana sebenarnya?!"
Kai mematung beberapa saat sebelum tertawa tergelak-gelak.
"Dasar Mainewa, orang tua penggosip! Sudah kukatakan kalungku ini dari lautan. Bukan berarti dari kapal karam. Aku menemukannya dalam perut salah seekor ikan Joluta hasil tangkapanku semalam."
Kai mengelus kalung emas di dadanya yang telanjang. Orang-orang dari kedai yang mengelilinginya terlihat berkasak-kusuk.
"Kau buang sauhmu di mana semalam sampai bisa mendapatkan ikan itu? Salueta? Jotaue?"
"Ah, bukan. Di Laut Doaen, perbatasan Negeri Jauh."
"Gila! Berarti kau sudah membuka jalur Arus Barouna. Apa kau tidak sadar bahayanya, Kai?!"
Kai mengelus-elus kalungnya sambil menatap tajam ke arah Tambo sebelum menjawab, "Aku hanya melihat uang dan masa depan, Tambo. Kau boleh percaya larangan Onulaikiki. Namun, Dewa Keseimbangan Alam hidup di masa lampau. Aturan yang dulu berlaku tak bisa diterapkan di masa sekarang."
"Lancang kau, Kai! Kau lihat sendiri nanti akibat perbuatanmu!"
Keesokan harinya seekor hiu ekor putih terdampar di pantai. Kegemparan terjadi. Orang-orang mengerubungi binatang raksasa tersebut penuh rasa ingin tahu. Di mulut hiu yang menganga, Mainewa bersama beberapa orang mengeluarkan benda-benda asing.
"Ahh, coba lihat bagian celah insangnya juga terganjal benda-benda. Pantas saja dia mati!"
"Hei, Loupopu, apa yang kau dapatkan itu?"
"Tidak tahu, Apaktua. Benda beroda dua ini berat. Berbeda dengan gerobak Ongku Poumiri yang biasa membawa hasil panen dari lereng gunung."
Anak lelaki yang dipanggil Loupopu itu keluar dari mulut bangkai hiu, sambil mendorong benda temuannya. Sepanjang hari penduduk desa disibukkan mengeluarkan aneka macam benda dari mulut dan celah insang hiu raksasa tersebut.
Ada sebuah benda bulat yang melontarkan anak-anak kecil ke atas, saat mereka mencoba melompat di atasnya. Ada pula benda mirip kursi di Desa Majona, tapi tidak keras, permukaannya berlapis kain lembut. Lalu berbagai perkakas lain yang tidak mereka ketahui gunanya, hingga penduduk desa menumpuknya begitu saja di halaman Baleramba, tempat penduduk biasa mengadakan pertemuan.
"Hei, apa aku tidak salah desa? Mengapa Surga Biru kalian jadi sehitam ini?"
Alpumere, saudagar yang menjual perhiasan emas, perabotan perak, dan aneka kain, turun dari kapal dengan terheran-heran. Lelaki tua berperut buncit itu membebat hidung dengan selembar kain, membuat suaranya tak terdengar jelas.
Para perempuan Desa Majona berkerumun di tepi dermaga, tak sabar menunggu anak buah Alpumere menurunkan barang-barang dagangannya. Mereka semua juga mengikat selembar kain di hidung seperti yang dilakukan sang saudagar.
"Tombu, dari mana kau memperoleh benda di puncak kepalamu? Bukankah itu berasal dari Negeri Jauh?"
Alpumere terkekeh begitu tiba di hadapan Tombu, yang tampak bangga dengan barang baru hasil temuannya dari mulut bangkai hiu dulu.
"Bagaimana? Pantaskah aku memakainya?" Tombu bergaya di depan sang saudagar yang kembali terkekeh.
"Di Negeri Jauh benda itu disebut topi dan dipakai kaum perempuan. Tidakkah kau lihat bunga kuning besar di bagian mukanya?"
"Benarkah? Ah, sial."
Tombu mencampakkan topi yang dikenakannya. Alpumere menepuk-nepuk bahu lelaki setengah buta tersebut, sebelum mengajaknya ke Kedai Palulu. Di sana semua orang berwajah lesu, tak seperti pagi biasanya saat mereka begitu bersemangat karena hasil tangkapan melimpah dari lautan.
"Kami cuma dapat bangkai-bangkai ikan. Isi tubuh mereka mirip seperti benda yang kau pakai untuk membungkus kain-kain daganganmu."
"Ikan-ikan tersebut juga bukan jenis ikan yang biasa kami tangkap. Mungkin terbawa ke sini karena ulah Kai yang melanggar larangan Onulaikiki, agar tak membuang sauh di perbatasan laut Negeri Jauh, hingga jalur Arus Barouna terbuka."
"Bangkai ikan-ikan beserta sampah dari Negeri Jauh terbawa sampai kemari, seperti bangkai hiu tiga musim lalu yang penuh benda-benda aneh. Tapi sayangnya, aku tak menemukan kalung emas seperti milik Kai."
Mainewa menambahkan cerita yang disampaikan para pengunjung Kedai Palulu. Semua orang memakai kain penutup di depan hidung, karena bau busuk dari lautan terbawa semilir angin hingga ke dalam kedai.
Alpumere mendengarkan segala keluh kesah mereka penuh saksama. Ia sendiri sempat melihat kasur, motor, mesin cuci, dan segala macam benda yang biasa ia jumpai di Negeri Jauh, menumpuk di depan Baleramba saat akan menuju kedai. Dirinya sangat yakin, sesuatu yang dikatakan mirip benda pembungkus kain yang dimaksud Tombu tadi adalah plastik.
"Lalu di mana Kai sekarang? Bukankah ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya?" tanya Alpumere setelah beberapa jenak.
"Si pandir Kai kabur! Sepertinya ia melarikan diri ke Negeri Jauh. Tinggal kami yang harus menanggung kekacauan akibat ulahnya!" teriak Tombu menjawab pertanyaan Alpumere.
Alpumere menarik napas dalam-dalam. Ia ingin menyampaikan sesuatu kepada penduduk Desa Majona. Mungkin apa yang nanti ia katakan akan sulit diterima, tapi setidaknya akan sedikit membantu mereka untuk menghadapi musibah yang tengah terjadi.
"Kawan-kawanku, izinkan aku bicara. Kai memang bersalah karena membuka jalur Arus Barouna. Tapi, biang keladi dari menghitamnya laut kalian beserta hanyutnya bangkai ikan-ikan dan sampah sampai ke perairan di sini, itu semata-mata karena ulah penduduk Negeri Jauh."
Suara seruan tertahan bermunculan dari segala sudut. Alpumere mengangkat tangannya untuk meredam kegaduhan tersebut.
"Negeri Jauh bertolak belakang dari Desa Majona. Harus kukatakan peradaban mereka lebih maju, pembangunan sangat pesat, tapi semua itu tidak dibarengi dengan kecerdasan pola pikir masyarakatnya.
“Banyak dari mereka yang tak menghargai alam, sengaja mengotori lautan dengan limbah industri, sampah rumah tangga, dan barang-barang rongsok yang tak mereka inginkan lagi.
“Itulah sebabnya satwa laut di perairan mereka banyak yang mati, karena sumber makanan mereka sudah digantikan dengan sampah-sampah, seperti yang kalian lihat tersimpan dalam bangkai ikan-ikan."
"Lalu bagaimana agar laut kami menjadi jernih kembali, wahai Alpumere?"
"Ya, bagaimana caranya mengembalikan ikan-ikan kami?"
"Apakah kami bisa meminta penduduk Negeri Jauh bertanggung jawab?"
Alpumere kembali mengangkat kedua tangannya. Orang-orang dalam kedai kembali terdiam, menunggu jawaban Alpumere.
"Jelas akan sangat lama untuk mengembalikan Surga Biru kalian yang sudah menghitam. Sebagai langkah awal, yang bisa kalian lakukan mungkin dengan menutup kembali jalur Arus Barouna."
"Kami sudah melakukan upacara untuk menutup jalur tersebut musim lalu. Tapi, sepertinya terlambat karena lautan kami masih saja pekat. Atau Onulaikiki belum memaafkan kelalaian kami."
"Tak ada kata terlambat. Langkah selanjutnya, bersihkan lautan dari semua sampah. Lakukan terus-menerus. Semua orang harus bergerak. Terlibat!"
Secercah harapan mulai timbul di hati orang-orang mendengar ucapan Alpumere. Mereka memercayai kata-kata sang saudagar karena tahu lelaki tersebut sering bepergian ke banyak negeri.
"Jika kami sudah melakukan itu semua apakah ikan-ikan akan hidup kembali?"
Palulu menyodorkan Kahlebi ke tangan Alpumere yang penuh sukacita menerimanya. Palulu merasa lelaki itu pantas mendapatkan minuman cuma-cuma, karena memberikan titik terang untuk masalah yang tengah mereka hadapi.
"Apa yang telah mati tak akan mungkin hidup kembali, Palulu. Tapi, kita bisa menyemai benih kehidupan dari awal. Jika lautan kalian kembali bersih, aku akan membawa benih ikan-ikan untuk ditebar di perairan ini. Aku pernah singgah di Negeri Mangota Sakeke—lautannya sejernih lautan milik kalian dulu. Dari sanalah benih-benih itu akan kubawa. Tapi, tentu saja, semua itu butuh waktu. Kita harus bersabar."
Suara-suara menyerupai dengung lebah kembali terdengar. Kali ini Alpumere tak lagi mengangkat tangannya. Ia biarkan mereka mulai merencanakan segala hal untuk melaksanakan gagasannya.
Alpumere berpikir, andai orang-orang Negeri Jauh mudah digerakkan seperti penduduk Desa Majona, mungkin sekali lautan di sana kembali sejernih ribuan tahun lalu.
Ya, andai saja.