Cerita Fiksi
Tuhan Belum Selesai Menuliskan Cerita Hidupmu
"Gimana, Sri, sudah sampai belum kiriman uang dari suamimu?"
Asri menghirup napas dalam, lalu menoleh ke arah sang ibu dengan tatapan sayu. Ingin rasanya ia menjawab pertanyaan itu dengan kabar yang gembira, tetapi sayangnya ia tak ingin berbohong kepada perempuan yang telah melahirkannya itu.
"Belum, Bu. Entah mengapa kali ini lama banget sampainya. Sepertinya Mas Indra salah memasukkan nomor rekeningnya. Tapi, biasanya juga langsung sampai kan tiap kali dia kirim uang jatah bulanan untuk kita," jelas Asri pasrah.
Sang ibu yang baru saja datang ke kamar Asri untuk menanyakan perihal uang kiriman dari sang suami pun ikut menghela napas. Bahunya sedikit turun karena perasaan kecewa. Pasalnya, uang kiriman yang sudah berhari-hari mereka nantikan itu tak hanya akan mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan harian saja. Namun, ada uang tambahan yang memang sudah disiapkan Indra untuk kebutuhan menghadiri acara pernikahan saudara mereka.
"Kalau begitu, apa kita batalkan saja rencana kita pergi ke resepsi pernikahan Isna? Kita tunggu dulu kiriman uang dari Indra sampai atau kalau tidak lain kali saja jika ada rezeki lebih kita datang sendiri ke sana satu keluarga," usul sang ibu.
Sebenarnya ide sang ibu ada benarnya juga. Asri tak ingin memaksakan diri untuk tetap ikut pergi ke acara pernikahan saudaranya tanpa bisa membawa uang sebagai hadiah. Pasalnya mereka sudah mendapatkan undangan pernikahan itu jauh-jauh hari. Asri juga sudah ngobrol dengan Indra untuk mengirimkan uang lebih agar dia dan sang ibu bisa pergi bersama.
"Aku juga berpikir demikian, Bu. Besok, coba aku berbicara dengan Om Ardi kalau kita gak jadi ikut ke pernikahan Isna," sahut Asri dengan lemah lembut, sembari mengelus pelan punggung sang ibu.
Keputusan untuk membatalkan ikut ke acara pernikahan sang saudara sebenarnya juga membuat hati Asri merasa tidak enak. Pasalnya Om Ardi, saudara dekat mereka sudah berbaik hati menawarkan tumpangan mobil tanpa perlu membayar ongkos atau uang bensin. Seharusnya Asri bisa lebih mengirit uang mereka jika saja mereka jadi ikut mobil milik Om Ardi.
Namun sayangnya, tiba-tiba uang kiriman dari sang suami yang kini tengah bekerja di kota justru tak kunjung tiba.
Meki sudah berkeluarga, Asri tinggal bersama sang ibu dan kedua anaknya saat sang suami memutuskan untuk merantau ke kota demi mendapatkan perkerjaan dengan gaji yang lebih layak. Indra rajin mengirimi uang setiap bulannya untuk kebutuhan keluarga kecilnya, dan berjanji akan membawa mereka tinggal di kota jika ia sudah sukses nanti.
Dengan harapan besar yang ia sematkan untuk sang suami, Asri menjalani kehidupan yang sederhana di desa. Tak berlebih, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Asri juga tak tinggal diam di rumah saja. Selain merawat kedua buah hati yang kini telah duduk di bangku sekolah dasar, ia juga menyibukkan diri dengan menjual kue sebagai usaha tambahan.
Namun, tak sedikit pula yang meremehkan kehidupan sederhana mereka. Bahkan beberapa saudara dekat dan tetangga kerap membandingkan pekerjaan suami Asri dengan pekerjaan anak-anak mereka yang notabene telah sukses. Itulah yang membuat Asri kadang merasa tak enak hati. Termasuk harus membatalkan rencana ikut menghadiri pernikahan saudara jauh mereka dengan alasan tak memiliki uang.
Tetapi, apa mau dikata lagi. Acara pernikahan Isna akan digelar esok dan pagi-pagi buta sekali mereka setidaknya harus sudah berangkat agar sampai di tujuan tak terlalu kesiangan.
"Maaf ya, Om Ardi, sepertinya aku dan Ibu gak jadi ikut pergi menghadiri pesta pernikahan Isna. Uang kiriman Mas Indra belum sampai, dan kami tak enak hati jika tak memberi amplop," jujur Asri pada sang paman.
Om Ardi memaklumi hal tersebut, bahkan sempat menawarkan diri untuk meminjamkan uang terlebih dahulu agar Asri dan ibunya tetap bisa ikut ke pesta pernikahan saudara mereka besok. Namun, Asri terpaksa menolak. Lirikan mata sang tante yang sedikit sinis ketika Om Ardi berniat meminjaminya uang sudah cukup menjadi alasan kuat untuk Asri menolak tawaran tersebut.
"Makasih, Om, gak usah repot-repot. Lain kali saja aku dan Ibu main ke rumah Isna dan bersilaturahmi," balas Asri sebelum berpamitan.
Keesokan harinya Om Ardi dan sang istri berangkat ke pesta pernikahan Isna dengan menggunakan mobil miliknya seperti yang sudah direncanakan. Asri dan ibunya pun ikut mengantar mereka sebentar saat berpamitan setelah subuh.
Seharian Asri merasakan perasaan yang tak karuan. Tak hanya masih memikirkan sikap sedikit sinis dari sang tante. Namun, ada sesuatu hal yang membuatnya resah dan gelisah. Pagi berganti siang hingga sore datang menjelang perasaan itu pun tak kunjung hilang.
Hingga suara pengumuman dari Masjid membuat Asri dan sang ibu tertegun dalam duduk dan isak tangis.
"Innalillahi wa inna illaihi rojiun ...!" suara pengumuman berita duka itu terus terngiang di telinga Asri dan sang ibu. Keduanya saling berpelukan sembari menangis terduduk karenanya.
Bagaimana tidak, pengumuman berita duka itu tak lain dan tak bukan menyebutkan nama sang tante, istri Om Ardi yang telah berpulang ke sisi Sang Maha Pencipta karena mengalami kecelakaan mobil saat melakukan perjalanan pulang dari pesta pernikahan Isna, saudara jauh mereka. Sedangkan kondisi Om Ardi sendiri kini tengah dirawat di rumah sakit terdekat.
Tak hanya sedih dan terkejut atas berita kehilangan yang baru saja ia dengar. Namun, Asri juga merasakan kebesaran Tuhan yang sesungguhnya. Bahwa hidup dan mati itu sudah ada ketentuannya. Kalau belum tiba saatnya, maka Tuhan masih menyelamatkanmu dari segala musibah yang ada.
Sempat ia berpikir jika saja uang kiriman dari sang suami tak terlambat dan mengalami masalah, mungkin saja Asri dan Ibunya bisa saja mengalami kejadian yang sama.