Cerita Fiksi

Menanam Cahaya di Negeri Kelelawar

Menanam Cahaya di Negeri Kelelawar
Ilustrasi AI cerita fiksi 'Menanam Cahaya di Negeri Kelelawar' (Gemini AI/Nano Banana)

Palu hakim itu menghantam meja kayu dengan dentum yang seolah meretakkan langit-langit ruang sidang. Suaranya bukan sekadar kayu bertemu kayu, melainkan suara pintu masa depan yang tertutup rapat di depan wajah Malaka.

"Atas dasar bukti-bukti yang ada, terdakwa Malaka dinyatakan secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi dalam proyek strategis nasional 'Karsa-Pustaka' dan penyalahgunaan wewenang pada program 'Langkah Mandiri'. Menjatuhkan pidana penjara selama delapan belas tahun!"

Malaka tidak bergeming. Ia berdiri di tengah ruangan yang pengap oleh hawa kebencian, dibalut kemeja putih yang kini terasa seperti kain kafan bagi cita-citanya. Di sekelilingnya, kilatan lampu kamera wartawan menyambar seperti petir di malam badai. Mereka tidak sedang mencari kebenaran, mereka sedang mengabadikan kejatuhan seorang raksasa.

"Ada tanggapan, Saudara Terdakwa?" tanya Hakim Ketua dengan nada dingin, seolah ia sedang berbicara pada seonggok sampah, bukan pada pria yang setahun lalu dipuja sebagai penyelamat pendidikan Konoha.

Malaka menarik napas panjang. Paru-parunya terasa menyempit. "Di negeri ini," suaranya tenang namun bergetar oleh emosi yang tertahan, "ternyata lebih mudah memenjarakan orang yang ingin mencerdaskan bangsa daripada menangkap mereka yang memakan uang bangku sekolah."

Riuh rendah cemoohan terdengar dari kursi penonton. Malaka berpaling sejenak, menatap wajah-wajah yang dulu menyambutnya di bandara dengan kalungan bunga saat ia pulang dari London. Kini, tangan-tangan yang sama mengepal ke udara, menuntut agar ia segera diseret ke balik jeruji besi.

Ingatan Malaka melayang pada hari pertama ia duduk di kursi menteri. Ia adalah anomali di kabinet Konoha. Ia bukan politisi, bukan pemilik partai, dan bukan jenderal. Ia hanyalah seorang pengusaha yang menghabiskan belasan tahun di luar negeri, sebelum akhirnya dipanggil pulang untuk membenahi sistem yang sudah karatan.

Ia datang dengan konsep 'Paradigma Terbuka'. Ia ingin murid-murid di Konoha tak lagi menjadi robot yang hanya pintar menghafal tahun peperangan atau rumus yang tak pernah mereka pakai. Ia ingin mereka berani bertanya, berani mengkritik, dan berani menjadi manusia.

"Kita harus memangkas birokrasi ini, Pak," ucap Malaka pada seorang pejabat tinggi di bulan pertamanya menjabat. "Anggaran harus langsung sampai ke meja murid melalui sistem 'Digital-Saku'. Tanpa perantara."

Pejabat itu hanya menyesap kopinya dengan perlahan, matanya menyipit. "Tanpa perantara berarti tanpa 'pelumas', Malaka. Mesin di Konoha ini besar sekali. Kalau tidak ada pelumas, mesinnya bisa macet. Dan kalau macet, orang-orang di dalamnya akan marah."

Malaka keras kepala. Ia menutup semua pintu negosiasi di bawah meja. Ia membatalkan kontrak-kontrak pengadaan buku yang selama puluhan tahun dikuasai oleh kartel yang dekat dengan penguasa. Sebagai gantinya, ia meluncurkan 'Karsa-Pustaka', sebuah inisiatif pengadaan perangkat belajar digital yang transparan dan murah.

Ia tidak sadar, saat ia sedang sibuk membangun jembatan pendidikan untuk anak-anak di pelosok, orang-orang di sekelilingnya sedang sibuk menggali lubang jebakan di bawah kakinya.

"Pak Malaka, ada laporan masuk. Sistem 'Digital-Saku' Anda dituduh memiliki celah keamanan yang disengaja untuk mengalirkan dana ke rekening asing," lapor sekretaris pribadinya suatu sore dengan wajah pucat.

Malaka tertawa. "Celah apa? Sistem itu diaudit oleh lembaga internasional. Itu hanya isu."

Namun di Konoha, isu yang diulang seribu kali akan menjelma menjadi kebenaran tunggal. Media sosial mulai dibanjiri oleh narasi bahwa Malaka adalah "Agen Asing" yang ingin menjual data murid Konoha ke luar negeri. Tuduhan korupsi mulai ditiupkan. Kasus pengadaan laptop yang harganya dianggap tidak wajar mulai digulirkan ke kejaksaan, padahal Malaka tahu betul bahwa spesifikasi yang ia minta adalah yang terbaik untuk ketahanan di wilayah tropis.

Puncaknya adalah pengkhianatan dari dalam. Seorang bawahannya yang paling ia percaya, orang yang sering ia ajak berdiskusi hingga larut malam tentang masa depan literasi, memberikan kesaksian palsu di bawah sumpah. Ia menyebut bahwa Malaka secara pribadi menerima persentase dari setiap perangkat yang terdistribusi.

Saat itu Malaka sadar, ia tidak sedang bertarung melawan kebodohan, melainkan melawan sebuah sistem yang merasa terancam jika rakyatnya menjadi pintar. Rakyat yang pintar sulit dikendalikan, dan Malaka adalah ancaman bagi stabilitas kemiskinan intelektual di Konoha.

"Terdakwa dipersilakan meninggalkan ruang sidang!"

Petugas keamanan menarik lengan Malaka dengan kasar. Di lorong gedung pengadilan, ia berpapasan dengan Menteri Penggantinya, seorang pria yang dulu paling keras mengkritik program 'Langkah Mandiri' sebagai program yang "terlalu liberal".

Pria itu berbisik tepat di telinga Malaka saat mereka berpapasan, "Terima kasih atas jalannya, Malaka. Programmu bagus, tapi sekarang kamilah yang akan 'mengelola' anggarannya dengan cara kami sendiri. Istirahatlah dengan tenang."

Malaka merasakan sesak yang luar biasa di dadanya. Bukan karena takut akan penjara, tapi karena ia membayangkan apa yang akan terjadi pada program-programnya. Ia membayangkan platform digital yang ia bangun akan dipenuhi iklan, anggarannya akan dipotong untuk baliho kampanye, dan murid-murid akan kembali dipaksa menghafal kebohongan yang dicetak di buku-buku mahal.

Mobil tahanan menunggu di luar. Saat pintu jeruji mobil itu ditutup, Malaka melihat ke luar jendela yang berteralis. Di kejauhan, ia melihat sebuah sekolah dasar negeri yang dindingnya mulai retak dan catnya memudar. Di halaman sekolah itu, anak-anak sedang berbaris di bawah terik matahari, mendengarkan pidato panjang dari seorang pejabat tentang "kesetiaan pada negara".

Malaka menyandarkan kepalanya pada besi yang dingin. Ia pulang membawa api untuk menerangi kegelapan, namun ia lupa bahwa mereka yang terbiasa hidup di kegelapan akan merasa kesakitan saat melihat cahaya. Mereka tidak akan berterima kasih; mereka akan memadamkan api itu dan menghukum si pembawa obor.

Tujuh ratus tiga puluh hari telah berlalu di balik tembok beton. Malaka kini lebih banyak diam. Ia menghabiskan waktunya di perpustakaan penjara yang berdebu, memperbaiki buku-buku yang rusak.

Suatu sore, seorang penjaga penjara baru yang masih sangat muda datang ke selnya. Ia membawa sebuah amplop cokelat besar tanpa nama pengirim.

"Ini untuk Anda, Pak. Ada yang menitipkannya di gerbang tadi pagi," ucap si penjaga dengan nada hormat yang ganjil.

Malaka membuka amplop itu. Di dalamnya terdapat sebuah foto satelit dari sebuah desa terpencil di ujung timur Konoha. Di foto itu, terlihat sekelompok anak duduk di bawah pohon besar, masing-masing memegang sebuah perangkat digital yang masih menyala, perangkat dari program 'Karsa-Pustaka' yang sempat ia kirimkan sebelum ia ditangkap.

Di balik foto itu terdapat sebuah tulisan tangan yang sangat rapi: "Akar yang Anda tanam sudah terlalu dalam untuk dicabut oleh mereka yang hanya bisa menebang batang. Kami sedang menunggu fajar, Malaka. Apakah Anda masih memegang korek apinya?"

Malaka tertegun. Ia merogoh ke dalam saku baju penjaranya yang kusam. Jari-jarinya menyentuh sesuatu yang keras dan dingin, sebuah flashdisk kecil yang selama ini ia sembunyikan dengan nyawa sebagai taruhannya. Di dalam benda kecil itu, tersimpan data asli seluruh aliran dana gelap para penguasa Konoha yang ia kumpulkan selama enam bulan masa jabatannya.

Tiba-tiba, lampu di lorong penjara padam. Kegelapan total menyergap. Suara langkah kaki sepatu lars yang berat terdengar mendekat ke arah selnya, bukan langkah kaki penjaga biasa, melainkan langkah kaki yang terburu-buru dan mengancam.

Malaka menggenggam flashdisk itu erat-erat. Ia berdiri di tengah kegelapan selnya, menatap ke arah pintu yang perlahan mulai terbuka.

Apakah ini akhir dari segalanya, ataukah justru awal dari sebuah keruntuhan yang lebih besar bagi mereka yang telah mengkhianatinya? Di Konoha, jawaban atas pertanyaan itu sering kali terkubur bersama mereka yang terlalu berani untuk mencintai negaranya.

Pengkhianatan terbesar bukanlah ketika musuh menyerang, melainkan ketika negara yang kau bela dengan segenap jiwa justru menjadi pihak yang menikammu demi menjaga kenyamanan segelintir penguasa.

Namun, ingatlah bahwa kebenaran itu seperti benih, semakin dalam kau menguburnya, semakin kuat ia akan mendobrak tanah untuk tumbuh menjadi pohon yang akan meruntuhkan tembok-tembok tirani. Keadilan mungkin tertunda oleh hukum manusia, tetapi ia tidak akan pernah bisa dihapuskan dari ingatan sejarah.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda