Cerita Fiksi

Pelita Kecil di Kolong Langit

Pelita Kecil di Kolong Langit
Ilustrasi cerpen Pelita di Kolong Langit. (ChatGPT)

Di sudut pasar malam yang selalu riuh oleh suara musik dangdut dari wahana komedi putar, aroma minyak gorengan bercampur debu jalanan yang pengap, dua buah bayangan kecil duduk bersandar di balik bilik papan warung kopi yang sudah tutup. Malam itu, angin bertiup agak kencang, membawa hawa dingin yang menusuk tulang.

Ibay, bocah berusia 12 tahun dengan rambut keriting yang kusam dan kaus kebesaran berlubang di bagian bahu, sedang sibuk memilah lembaran uang kertas yang lusuh. Jemarinya yang berlepotan oli bekas menghitung pecahan seribuan dan dua ribuan dengan sangat teliti. Di sampingnya, Gala—bocah sembilan tahun yang kurus dengan mata bulat yang selalu terlihat berbinar—sedang menekuk lutut sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya untuk mencari kehangatan.

"Dapat berapa hari ini, Bang?" tanya Gala dengan suara serak. Tenggorokannya agak gatal karena seharian berteriak menawarkan jasa menyemir sepatu dan membantu membawakan belanjaan pengunjung pasar.

Ibay mengembuskan napas pendek, lalu tersenyum tipis. Ditepuknya bahu Gala dengan lembut. "Totalnya ada empat puluh dua ribu, Gal. Cukup buat makan kita besok, plus buat beli obat batukmu di apotek kecil depan terminal."

Mata Gala membulat. "Wah, banyak juga! Tapi, uang buat tabungan kita gimana, Bang? Katanya Abang mau beli sepatu sekolah bekas yang di lapak Pak Kumis?"

Ibay menggeleng pelan, menyimpan sisa uang itu ke dalam botol plastik bekas yang kemudian ia masukkan ke dasar ransel hitamnya yang sudah robek di sana-sini. "Sekolah masih bisa nunggu, Gal. Yang penting kamu sembuh dulu. Kalau kamu sakit parah, siapa yang mau jagain Abang pas ketiduran di emperan toko?"

Gala terkekeh pelan. Meski hidup di jalanan, tidak ada raut kesedihan yang mendalam di wajah kedua anak itu. Jalanan memang keras, tetapi rasa persaudaraan yang mereka bangun dari sama-sama tidak memiliki siapa-siapa telah menjadi perisai paling ampuh melawan dinginnya dunia.

Ibay dan Gala bukanlah saudara kandung. Mereka bertemu dua tahun lalu di kolong jembatan saat hujan deras merobohkan tempat persembunyian Ibay. Gala, yang kala itu baru saja kehilangan neneknya—satu-satunya kerabat yang ia kenal—sedang menangis sesenggukan memeluk kardus basah. Ibay yang sedikit lebih tua tidak tega meninggalkannya. Sejak hari itu, mereka berikrar untuk selalu berjalan berdampingan.

Di dunia anak jalanan yang kerap dicap buruk oleh masyarakat, Ibay dan Gala memilih jalan yang berbeda. Mereka kerap melihat teman-teman sebaya mereka terjebak dalam lingkaran pergaulan yang kelam: mengamen dengan kasar, mencuri barang pedagang, atau mengonsumsi lem untuk melupakan rasa lapar. Namun, Ibay selalu mengingat pesan almarhum ibunya sebelum meninggal di rumah sakit daerah tanpa biaya.

“Biarpun kita tak punya rumah, jangan pernah mengambil milik orang lain. Bekerjalah dengan jujur, karena kejujuran adalah satu-satunya harta yang tak bisa dicuri orang dari kita.”

Pesan itu dipegang teguh oleh Ibay, dan ia ajarkan pula kepada Gala. Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar terbit dari balik gedung-gedung bertingkat, mereka berdua sudah bangun. Setelah menumpang mandi di kamar mandi umum stasiun, mereka membawa peralatan tempur mereka: kotak kayu berisi semir sepatu milik Ibay, dan kantong plastik besar tempat Gala mengumpulkan botol-botol bekas.

Pagi itu, cuaca kota terasa sangat terik. Asap kendaraan bermotor mengepul tebal di persimpangan jalan utama. Ibay sedang berlutut di atas trotoar, menyikat sepatu kulit milik seorang pria berkemeja rapi yang sedang menunggu lampu merah. Dengan sigap, tangan Ibay yang kecil bergerak cepat memoles semir hitam hingga sepatu itu berkilat.

"Ini, A', sudah mengkilap seperti baru," ujar Ibay sambil tersenyum ramah, mengusap keringat di dahinya dengan lengan kaus.

Pria itu melihat sepatunya, lalu tersenyum puas. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan lembaran uang lima puluh ribuan. "Ini kembalinya ambil saja, Dik. Makasih ya, kerjamu rapi sekali."

Mata Ibay membelalak. Uang lima puluh ribu adalah jumlah yang sangat besar bagi mereka. Namun, alih-alih langsung mengantonginya, Ibay merogoh saku celananya sendiri. "Maaf, Pak. Jasa semir cuma sepuluh ribu. Kalau Bapak mau memberi tip, lima ribu sudah sangat banyak buat saya. Tapi kalau lima puluh ribu, saya tidak ada kembaliannya dan ini terlalu banyak."

Pria berkemeja rapi itu tertegun. Ia menatap Ibay dari ujung kepala sampai ujung kaki. Di mata pria itu, terlihat keheranan yang luar biasa. "Kenapa tidak kamu ambil saja? Kamu kan butuh uangnya?"

"Saya butuh uang, Pak, tapi saya cuma mau uang dari hasil keringat yang wajar," jawab Ibay polos namun mantap.

Pria itu terdiam sejenak, lalu tersenyum hangat. Ia mengambil uang lima puluh ribu itu, lalu menggantinya dengan pecahan dua puluh ribuan dua lembar dan satu lembar sepuluh ribu. "Kalau begitu, saya beli jasa semir kamu untuk dua kali ke depan. Nanti kalau saya lewat sini lagi, kamu harus semir sepatu saya tanpa dibayar lagi. Setuju?"

Ibay berpikir sejenak, lalu mengangguk riang. "Setuju, Pak! Terima kasih banyak!"

Dari kejauhan, Gala berlari menghampiri Ibay sambil membawa karung plastik yang sudah terisi setengah oleh botol bekas. Wajahnya berseri-seri. "Bang Ibay! Bang Ibay! Lihat, Pak RT di perumahan sebelah izinkan aku ambil semua botol plastik di tempat sampahnya!"

Ibay merangkul bahu Gala. "Bagus itu! Yuk, kita kumpulkan sampai penuh, habis itu kita jual ke Pak Haji Botol. Nanti siang kita bisa makan nasi bungkus pakai ayam goreng!"

Sorak kegembiraan kecil itu pecah di antara kebisingan klakson mobil. Bagi mereka, kebahagiaan tidak diukur dari seberapa mewah tempat tinggal mereka, melainkan dari piring yang terisi nasi dan rasa tenang karena tidak merugikan siapa pun.

Namun, kehidupan jalanan tidak pernah sepi dari ujian. Suatu sore saat hujan deras mengguyur kota, Ibay dan Gala berteduh di teras sebuah toko kelontong yang sudah tutup. Tubuh mereka basah kuyup dan menggigil. Gala mulai terbatuk-batuk lagi, kali ini lebih parah dari biasanya.

Saat mereka sedang merapatkan tubuh untuk mencari kehangatan, seorang lelaki tua renta dengan tongkat kayu berjalan tatih-tatih melintasi teras toko itu. Lelaki tua itu membawa sebuah kantong kain lusuh. Tiba-tiba, karena lantai teras yang licin oleh genangan air hujan, lelaki tua itu terpeleset dan jatuh terjerembap.

BRUK!

Isi kantong kainnya berserakan di jalanan yang becek. Beberapanya adalah gulungan uang kertas dan obat-obatan. Lelaki tua itu meringis kesakitan, memegangi pinggangnya yang tampaknya terkilir.

Ibay dan Gala tidak berpikir dua kali. Tanpa menghiraukan hujan yang menyiram tubuh mereka, keduanya langsung berlari mendekati lelaki tua tersebut.

"Kakek tidak apa-apa?" tanya Ibay cemas sambil membantu memapah lelaki tua itu untuk duduk di kursi kayu teras toko.

Sementara Ibay memapah sang kakek, Gala dengan sigap mengumpulkan seluruh gulungan uang kertas yang basah serta obat-obatan yang berserakan di jalan. Meskipun air hujan mengguyur matanya hingga perih, Gala memastikan tidak ada satu lembar uang pun yang hanyut ke dalam selokan.

Setelah semua terkumpul, Gala menyerahkan kantong kain itu kepada si kakek. "Ini barang-barang Kakek, semuanya sudah lengkap, tidak ada yang hilang."

Lelaki tua itu, yang ternyata adalah Pak Kusno, seorang pensiunan guru yang tinggal tak jauh dari sana, menatap kedua anak itu dengan pandangan haru. Ia memeriksa kantongnya, lalu menatap wajah lugu Ibay dan Gala yang gemetaran karena kedinginan.

"Kalian... kalian tidak mengambil uang ini?" tanya Pak Kusno dengan suara bergetar.

Ibay tersenyum lembut meski giginya berkerotok menahan dingin. "Tidak, Kek. Itu kan milik Kakek. Kami cuma mau bantu. Kakek ada yang sakit? Mau saya panggilkan warga?"

Pak Kusno menggelengkan kepala, air mata menetes di pipinya yang keriput. Selama ini, ia sering mendengar stigma negatif tentang anak-anak jalanan yang dianggap suka mencuri dan membuat ulah. Namun hari ini, di hadapannya, dua anak jalanan yang pakaiannya compang-camping justru menunjukkan kemuliaan hati yang luar biasa.

"Kalian anak-anak yang sangat baik," bisik Pak Kusno. "Siapa nama kalian?"

"Saya Ibay, dan ini adik saya, Gala," jawab Ibay bangga.

Kejadian sore itu menjadi titik balik dalam kehidupan Ibay dan Gala. Pak Kusno tidak sekadar mengucapkan terima kasih. Setelah cedera pinggangnya membaik, ia mencari keberadaan Ibay dan Gala di sekitar pasar dan persimpangan jalan.

Ketika menemukan mereka sedang duduk membaca buku bekas yang mereka temukan di tempat sampah, hati Pak Kusno semakin tersentuh. Ia melihat potensi dan ketulusan yang luar biasa dari kedua anak tersebut.

Pak Kusno mengajak Ibay dan Gala berkunjung ke rumah sederhananya. Di sana, Pak Kusno menawarkan sesuatu yang selama ini hanya menjadi mimpi di siang bolong bagi Ibay dan Gala: kesempatan untuk belajar secara teratur dan tempat tinggal yang layak.

"Saya ini mantan guru, dan saya hidup sendiri di rumah ini," kata Pak Kusno sore itu di ruang tamunya. "Saya tidak punya siapa-siapa lagi. Kalau kalian mau, kalian bisa tinggal di kamar belakang. Kalian bisa bantu-bantu saya menjaga rumah, dan sebagai gantinya, saya akan ajari kalian membaca, menulis, berhitung, dan membantu kalian masuk sekolah kesetaraan."

Ibay dan Gala saling pandang. Mata Gala berkaca-kaca, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Sementara Ibay terdiam, meresapi setiap kata dari Pak Kusno.

"Tapi, Kek... kami tidak punya uang untuk bayar sewa atau ganti makanan," kata Ibay ragu, masih memegang prinsipnya untuk tidak menjadi beban orang lain.

Pak Kusno tersenyum manis, lalu memegang tangan Ibay. "Kebaikan dan kejujuran kalian waktu menolong Kakek di tengah hujan deras itu sudah membayar semuanya. Dunia ini butuh lebih banyak anak-anak jujur seperti kalian. Jangan biarkan masa depan kalian habis di jalanan."

Hari itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Ibay dan Gala meneteskan air mata kebahagiaan. Perjuangan mereka menahan lapar, menolak godaan untuk berbuat jahat, dan tetap berbuat baik di tengah kerasnya jalanan akhirnya membuahkan hasil.

Beberapa bulan berlalu. Suasana di rumah Pak Kusno kini terasa jauh lebih bernyawa. Setiap sore, terdengar suara Gala yang sedang mengeja kalimat dari buku cerita dengan bimbingan Pak Kusno. Batuk Gala pun sudah sepenuhnya sembuh berkat perawatan yang layak.

Sementara itu, Ibay tidak begitu saja meninggalkan sifat mandirinya. Di pagi hari, ia tetap membantu Pak Kusno merawat kebun sayur kecil di belakang rumah, yang hasilnya mereka jual ke pasar. Di sore hari, Ibay belajar dengan tekun untuk mengejar ketinggalannya. Semangat belajarnya begitu membara karena ia tahu, pendidikan adalah tangga yang akan membawanya memetik cita-cita.

Suatu malam, Ibay dan Gala duduk di teras depan rumah Pak Kusno, memandang langit malam yang dihiasi ribuan bintang. Suasana begitu tenang, jauh dari kebisingan mesin dan debu jalanan yang dulu menjadi makanan sehari-hari mereka.

"Bang Ibay," panggil Gala pelan.

"Kenapa, Gal?"

"Aku senang banget sekarang kita punya tempat tidur yang empuk, tidak perlu takut kehujanan lagi," ujar Gala sambil tersenyum menatap langit. "Tapi aku tidak akan pernah lupa waktu kita masih nyemir sepatu bareng-bareng."

Ibay merangkul bahu adiknya itu, sama seperti yang selalu ia lakukan di jalanan dulu. "Iya, Gal. Kita tidak boleh lupa dari mana kita berasal. Jalanan sudah mengajarkan kita caranya jadi manusia yang kuat. Tapi kejujuran dan kebaikan yang bikin kita sampai di sini."

Gala mengangguk setuju. Ia tahu, jalan panjang menuju masa depan masih terbentang luas di hadapan mereka. Akan ada banyak tantangan baru yang harus dihadapi saat mereka mulai bersekolah nanti. Namun, mereka tidak takut lagi. Selama mereka memegang teguh kejujuran, saling menyayangi, dan pantang menyerah, tidak ada badai kehidupan yang tidak bisa mereka lalui.

Di bawah naungan langit malam yang damai, dua anak yang pernah dipinggirkan oleh dunia itu kini menatap masa depan dengan kepala tegak dan hati yang penuh dengan harapan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda