Cerita Fiksi

Ayah, Aku Hanya Ingin Didengar

Ayah, Aku Hanya Ingin Didengar
Ilustrasi ayah dan anak (vecteezy.com/icon ade)

Hujan turun sejak sore ketika Raka tiba di depan rumah yang sudah hampir dua tahun tidak ia tinggali. Rumah itu masih sama. Pagar besi berwarna hitam, pohon mangga yang tumbuh di samping teras, serta lampu kecil di atas pintu yang selalu menyala setiap malam.

Namun, entah mengapa, kali ini rumah itu terasa asing. Raka mematikan mesin motornya dan menarik napas panjang. Ia menatap pintu rumah beberapa saat sebelum akhirnya mengetuk.

Tok... tok... tok...

Pintu terbuka. Seorang perempuan paruh baya berdiri di sana.

"Raka?"

"Ibu."

Mata perempuan itu langsung berkaca-kaca. Ia memeluk anak laki-lakinya erat.

"Kamu akhirnya pulang."

Raka membalas pelukan itu. Ada rasa hangat yang selama ini ia rindukan, tetapi di balik pelukan tersebut tersimpan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

"Ayah mana, Bu?"

Ibu hanya terdiam.

"Di kamar."

Raka mengangguk. Ia masuk ke ruang tamu dan meletakkan tasnya. Belum sempat duduk, suara ayahnya terdengar dari dalam kamar.

"Siapa?"

"Raka, Yah."

Tidak ada jawaban. Raka menghela napas.

Hubungannya dengan ayah memang tidak pernah benar-benar baik. Sejak kecil, ayah selalu keras. Baginya, seorang anak harus mengikuti keputusan orang tua. Tidak ada ruang untuk perdebatan.

Berbeda dengan ibu yang selalu menjadi tempat Raka bercerita. Masalah mereka semakin besar ketika Raka memutuskan untuk meninggalkan kota dan bekerja sebagai fotografer. Ayah menentang keras.

"Fotografi bukan pekerjaan yang bisa menjamin masa depan!"

Itulah kalimat terakhir yang didengar Raka sebelum ia pergi. Selama dua tahun, mereka hampir tidak pernah berbicara. Malam itu, Raka berharap semuanya bisa berubah. Namun, harapan itu ternyata terlalu sederhana. 

Pagi berikutnya, Raka duduk bersama ibu di meja makan.

"Ayah masih marah sama kamu," kata ibu pelan.

Raka menatap piringnya.

"Aku tahu."

"Dia sebenarnya kangen."

Raka tersenyum kecil.

"Kalau kangen, kenapa tidak pernah menghubungiku?"

Ibu tidak menjawab.

Beberapa detik kemudian, ayah keluar dari kamar. Ia duduk di ujung meja tanpa menatap Raka.

"Jadi, berapa lama kamu di sini?"

"Belum tahu, Yah."

"Apa pekerjaanmu masih sama?"

"Iya."

Ayah mengangguk pelan.

"Masih menghasilkan?"

Raka terdiam.

"Masih."

Ayah menatapnya.

"Kalau memang menghasilkan, kenapa pulang?"

Pertanyaan itu membuat suasana meja makan menjadi sunyi.

"Aku pulang karena Ibu meminta."

Ayah meletakkan sendok.

"Jangan jadikan ibumu alasan."

Raka menatap ayahnya.

"Aku juga pulang karena aku ingin memperbaiki hubungan kita."

Ayah tertawa pendek.

"Hubungan apa yang perlu diperbaiki? Kamu sendiri yang pergi."

Raka mengepalkan tangan.

"Aku pergi karena Ayah tidak pernah mau mendengarkan keinginanku."

"Ayah mendengarkan. Kamu saja yang tidak mau mengerti!"

"Yang Ayah dengarkan hanya diri Ayah sendiri!"

Suara Raka meninggi.

Ibu segera berdiri.

"Sudah. Jangan bertengkar."

Tetapi semuanya sudah terlambat. Ayah berdiri dan meninggalkan meja makan. Raka memandang punggung ayahnya dengan perasaan campur aduk.

Dua tahun berlalu, tetapi ternyata luka itu masih ada. Hari-hari berikutnya tidak menjadi lebih baik. Raka mencoba menghindari pertengkaran. Ia menghabiskan waktunya membantu ibu di rumah atau mengambil beberapa pekerjaan fotografi.

Suatu sore, ia mendengar percakapan ibu dan ayah dari dapur.

"Kita tidak bisa terus begini," kata ibu.

"Aku sudah bilang, jangan ikut campur."

"Dia anakmu."

"Aku tahu."

"Kalau tahu, kenapa Ayah terus menyakitinya?"

Tidak ada jawaban. Raka berdiri di balik pintu. Ia tidak ingin mendengar lebih banyak, tetapi sebuah kalimat dari ayah membuat langkahnya terhenti.

"Aku hanya tidak ingin dia mengalami kegagalan seperti aku."

Raka terdiam. Kegagalan seperti aku? Ia tidak pernah tahu bahwa ayahnya pernah gagal. Malam itu, Raka bertanya kepada ibu.

"Ayah dulu pernah gagal?"

Ibu terdiam cukup lama.

"Ayahmu dulu punya usaha percetakan."

"Kenapa aku tidak pernah tahu?"

"Karena usaha itu bangkrut ketika kamu masih kecil."

Raka menunduk.

"Ayahmu kehilangan banyak hal. Rumah pertama kita, tabungan, bahkan beberapa teman. Sejak saat itu, dia berubah."

Raka menatap ibunya.

"Kenapa Ayah tidak pernah cerita?"

"Karena dia malu."

Raka menghela napas. Tiba-tiba ia mulai memahami sesuatu. Mungkin selama ini kemarahan ayah bukan karena membenci dirinya. Mungkin ayah hanya terlalu takut. Takut melihat anaknya mengalami kegagalan yang sama.

Keesokan harinya, Raka menemukan ayahnya duduk sendirian di teras. Ia membawa dua cangkir kopi.

"Yah."

Ayah menoleh.

"Ini."

Raka meletakkan satu cangkir di sampingnya.

"Ayah tidak minum kopi malam-malam."

"Ini pagi."

Ayah melihat jam dinding.

"Sudah siang."

Raka tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ayah tersenyum.

Raka duduk di sampingnya.

"Yah, boleh aku bertanya?"

"Apa?"

"Kenapa Ayah sangat takut aku gagal?"

Ayah terdiam.

Tangannya menggenggam cangkir kopi.

"Karena Ayah tahu rasanya."

Raka menunggu.

"Dulu Ayah juga punya mimpi."

Raka menoleh.

"Ayah ingin punya percetakan besar. Dulu usaha itu berjalan bagus. Tapi Ayah terlalu percaya diri. Ayah meminjam uang terlalu banyak untuk mengembangkan usaha."

Ayah menunduk.

"Lalu semuanya gagal."

"Kenapa Ayah tidak pernah cerita?"

"Karena Ayah ingin kamu melihat Ayah sebagai orang yang kuat."

Raka merasakan dadanya sesak.

"Tapi Ayah tidak harus selalu kuat."

Ayah tersenyum pahit.

"Orang tua sering berpikir anaknya membutuhkan sosok yang tidak pernah salah."

"Padahal aku cuma butuh Ayah."

Mata ayah mulai berkaca-kaca.

Raka menunduk.

"Aku pergi bukan karena membenci Ayah."

"Ayah tahu."

"Aku pergi karena setiap kali berada di rumah ini, aku merasa tidak pernah cukup baik."

Ayah menarik napas panjang.

"Maaf."

Satu kata itu membuat Raka terdiam.

Ia tidak pernah membayangkan ayahnya akan mengatakannya.

"Maaf karena Ayah terlalu keras."

Raka mengusap matanya.

"Aku juga minta maaf karena pergi tanpa menjelaskan."

Ayah menatap anaknya.

"Kamu bahagia dengan pekerjaanmu?"

Raka tersenyum.

"Bahagia."

"Kalau begitu, jangan berhenti."

Percakapan itu sederhana.

Namun, bagi Raka, percakapan tersebut seperti membuka pintu yang sudah lama terkunci. Beberapa minggu kemudian, keadaan rumah mulai berubah. Raka dan ayahnya mulai sering berbicara. Mereka bahkan beberapa kali pergi bersama. Suatu hari, Raka mengajak ayahnya melihat pameran fotografi kecil di sebuah galeri.

Ayah berdiri lama di depan salah satu foto. Foto itu menggambarkan sebuah rumah tua dengan seorang lelaki tua berdiri di depannya.

"Bagus," kata ayah.

"Menurut Ayah?"

"Iya."

Raka tersenyum.

"Itu foto rumah kita."

Ayah memperhatikan lebih dekat.

"Kok rumah kita terlihat berbeda?"

"Karena aku memotret bukan hanya rumahnya."

"Maksudnya?"

"Aku memotret kenangan di dalamnya."

Ayah terdiam.

Raka menunjuk foto tersebut.

"Rumah ini pernah membuatku bahagia. Pernah juga membuatku marah. Tapi pada akhirnya, rumah tetap rumah."

Ayah menatap anaknya.

"Dan keluarga?"

Raka tersenyum.

"Keluarga juga begitu."

Namun, konflik kembali muncul beberapa bulan kemudian.

Raka mendapat tawaran pekerjaan besar di luar negeri. Ia harus pergi selama hampir satu tahun.

Ketika menyampaikan kabar itu, ayah kembali diam.

"Kapan berangkat?"

"Bulan depan."

Ayah mengangguk.

"Jangan pergi."

Raka terkejut.

"Kenapa?"

"Kamu baru saja kembali."

"Aku bukan pergi untuk meninggalkan keluarga."

"Tapi kamu akan jauh."

Raka menatap ayahnya.

"Aku harus mengambil kesempatan ini."

Ayah berdiri.

"Selalu pekerjaan!"

"Yah..."

"Ayah kira setelah semua yang terjadi, kamu akan memilih keluarga."

Raka merasa marah.

"Kenapa Ayah selalu membuatku memilih?"

"Ayah hanya tidak ingin kehilanganmu lagi."

"Kalau begitu, percayalah kepadaku!"

Mereka kembali bertengkar.

Raka masuk kamar dan menutup pintu keras-keras.

Malam itu, ia berpikir untuk membatalkan keberangkatannya.

Tetapi ibu datang ke kamarnya.

"Jangan batalkan."

Raka menatap ibu.

"Tapi Ayah..."

"Ibumu mengenal ayahmu lebih lama daripada kamu."

Ibu tersenyum.

"Dia bukan marah karena tidak mendukungmu. Dia takut."

"Aku capek selalu harus memahami ketakutannya."

"Dan mungkin Ayahmu juga sedang belajar memahami keberanianmu."

Raka terdiam.

"Pergilah," lanjut ibu. "Keluarga bukan berarti harus selalu berada di tempat yang sama."

Hari keberangkatan tiba.

Raka berdiri di ruang tamu dengan koper di sampingnya.

Ibu memeluknya erat.

"Jaga diri."

"Iya, Bu."

Raka kemudian menatap ayah.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.

Akhirnya ayah mendekat.

Ia memberikan sebuah benda kecil kepada Raka.

Sebuah kamera tua.

Raka terkejut.

"Ini kamera Ayah?"

Ayah mengangguk.

"Dulu Ayah membelinya saat masih muda. Tidak pernah sempat digunakan dengan baik."

Raka memegang kamera tersebut.

"Kenapa diberikan kepadaku?"

"Karena sekarang kamera itu lebih berguna di tanganmu."

Mata Raka berkaca-kaca.

"Ayah masih marah?"

Ayah tersenyum.

"Masih sedikit."

Raka tertawa.

"Kenapa?"

"Karena kamu tetap keras kepala."

"Keturunan siapa?"

Ayah ikut tertawa.

Untuk pertama kalinya, tawa mereka terdengar seperti tawa dua orang yang tidak sedang menyimpan luka.

Sebelum Raka pergi, ayah memeluknya.

Pelukan itu terasa canggung pada awalnya.

Tetapi kemudian menjadi erat.

"Pergilah mengejar mimpimu," bisik ayah.

"Dan pulanglah ketika kamu rindu rumah."

Raka mengangguk.

"Aku pasti pulang."

Setahun kemudian, Raka kembali.

Ia membawa banyak cerita, penghargaan, dan pengalaman baru.

Namun, hal pertama yang ia lakukan bukan menunjukkan penghargaan atau hasil pekerjaannya.

Ia langsung menuju rumah.

Pintu terbuka.

Ibu menyambutnya dengan air mata bahagia.

Ayah berdiri di belakangnya.

"Kurus," kata ayah.

Raka tertawa.

"Baru juga pulang sudah dikritik."

Ayah tersenyum. Mereka makan malam bersama. Tidak ada lagi percakapan tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Tidak ada tuntutan untuk menjadi sempurna.

Malam itu, Raka menyadari bahwa keluarga bukanlah tempat tanpa konflik. Keluarga adalah tempat di mana seseorang belajar bahwa konflik tidak harus menjadi akhir dari sebuah hubungan.

Kadang-kadang, orang yang paling keras justru adalah orang yang paling takut kehilangan. Kadang-kadang, orang yang memilih pergi bukan berarti berhenti mencintai.

Dan kadang-kadang, kata "maaf" yang terlambat tetap mampu menyembuhkan luka yang sudah bertahun-tahun. Raka memandang ayah dan ibunya dari ujung meja. Rumah itu masih sama.

Pagar hitam, pohon mangga, lampu kecil di atas pintu. Namun kali ini, rumah tersebut tidak lagi terasa asing. Karena Raka akhirnya mengerti.

Rumah bukan sekadar tempat untuk pulang. Rumah adalah tempat di mana hati, sejauh apa pun ia pergi, selalu menemukan jalan untuk kembali.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda