Cerita Fiksi

Ayahku Dibunuh Massa, Hari Ini Ia Tak Ikut Upacara Kemerdekaan

Ayahku Dibunuh Massa, Hari Ini Ia Tak Ikut Upacara Kemerdekaan
Ilustrasi cerita fiksi "Ayahku Dibunuh Massa, Hari Ini Ia Tak Ikut Upacara Kemerdekaan" (Gemini AI)

Ayah Narsih meninggal dunia kemarin lusa. Bukan karena perang. Bukan karena senjata. Bukan pula karena penyakit yang diam-diam menggerogoti tubuhnya selama bertahun-tahun. Bukan. Bukan itu.

Sungguh malang nasib ayah Narsih, nyawanya melayang usai dituduh mencuri seekor ayam jago milik Misran, lelaki yang namanya cukup dikenal di pelosok Jember lantaran kegemarannya mengadu ayam.

Orang-orang mengatakan Subagyo tertangkap basah. Orang-orang juga mengatakan ia pantas mendapat pelajaran. Lalu tangan-tangan warga datang. Satu pukulan. Dua pukulan. Entah berapa puluh pukulan setelah itu, tak ada yang sempat menghitung.

Sebab ketika amarah telah menemukan tubuh seseorang sebagai sasaran, hitungan berubah menjadi kerumunan, dan kerumunan kerap merasa dirinya lebih berkuasa daripada hukum.

Subagyo pun babak belur. Wajahnya membengkak. Bibirnya pecah. Tubuhnya tergeletak di tanah dengan napas yang semakin pendek. Ayam jago yang dituduhkan dicurinya telah diamankan, tetapi amarah massa belum juga menemukan alasan untuk berhenti.

Ketika akhirnya orang-orang pergi, meninggalkan tubuh Subagyo dalam keadaan tak berdaya, barangkali mereka mengira urusan telah selesai. Ternyata belum. Subagyo dibawa ke rumah sakit. Lantas beberapa waktu kemudian, ia tak pernah membuka mata lagi.

***

Pagi itu, sebuah ambulans berhenti di depan rumah. Suara pintunya dibuka. Beberapa orang turun. Paman Gatot bersama saudara-saudara Subagyo menggotong tubuh yang telah dibungkus kain.

Narsih berdiri di depan pintu. Gadis kecil berusia tujuh tahun itu semula hanya memandang. Menatap kosong. Matanya mencari wajah yang sangat dikenalnya. Wajah yang setiap pagi selalu memanggilnya dengan suara lembut. "Narsih, bangun. Sudah pagi."

Namun kali ini ayahnya tidak memanggil. Tidak tersenyum. Tidak mengusap rambutnya. Tidak pula bertanya apakah Narsih sudah sarapan atau belum.

"Ayah...!" Teriakan itu pecah.

Narsih berlari. Ia hendak memeluk ayahnya, tetapi Paman Gatot menahannya.

"Jangan, Nduk..."

"Ayahku! Ayahku kenapa, Man?" tanya Narsih polos.

Gadis kecil itu meronta. "Ayah! Bangun! Ayah, bangun!"

Paman Gatot menunduk. Tenggorokannya tercekat.

Bagaimana menjelaskan kematian kepada seorang anak yang bahkan belum selesai memahami arti kehidupan? Bagaimana menjelaskan bahwa ayahnya telah pergi untuk selamanya? Bahwa tubuh yang baru turun dari ambulans itu bukan lagi tubuh seorang ayah yang bisa menggendongnya, melainkan tubuh seorang manusia yang telah kehilangan kesempatan untuk pulang ke rumahnya untuk mengasihi Narsih?

"Ayah cuma tidur, kan, Man?" tanya Narsih lagi, tak percaya.

Tidak ada jawaban.

"Ayah capek?"

Paman Gatot mengusap matanya.

"Nanti ayah bangun, kan?"

Ketika tak ada satu pun orang menjawab, Narsih menjerit semakin keras.

"AYAAAAAAH!"

Jeritan itu menggema di halaman rumah. Membelah pagi. Membelah dada orang-orang yang mendengarnya. Sementara Marniyatun, ibu Narsih, seketika pingsan saat mayat suaminya diturunkan dari mobil putih yang meraung-raung itu.

***

Ayahnya memang bukan manusia sempurna. Narsih tahu itu.

Ia tahu ayahnya miskin. Ia tahu ayahnya sering pulang dengan pakaian lusuh dan wajah lelah. Ia juga tahu ayahnya pernah berbuat salah. Tetapi bagi Narsih, Subagyo tetap ayah terbaik di dunia.

Ayah yang mengajarinya bernyanyi. Ayah yang mengajarinya berdiri tegak. Ayah yang suatu malam pernah menunjuk gambar bendera merah putih di televisi sambil berkata, "Kalau lagu ini dinyanyikan, Narsih harus berdiri."

"Kenapa, Yah?"

"Karena ini lagu untuk negeri kita."

Lalu ayahnya mulai bernyanyi, "Indonesia tanah airku..."

Narsih mengikuti. Suaranya masih kecil dan sering sumbang.

Ayahnya tertawa. Bukan menertawakan, melainkan menemani.

Setiap malam mereka berlatih menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Padamu Negeri sampai Narsih hafal liriknya di luar kepala.

Ayahnya bahkan mengajarinya cara memberi hormat kepada Sang Saka Merah Putih. Tangan kecil Narsih harus terangkat dengan benar. Dada ditegakkan. Mata menghadap bendera.

"Begini, Yah?"

"Ya. Begitu," jawab tegas Subagyo waktu itu.

"Kenapa harus hormat?"

Ayahnya diam sejenak. Kemudian menjawab, "Karena kita harus menghormati sesuatu yang diperjuangkan banyak orang."

Tentu saja Narsih belum mengerti. Ia baru tujuh tahun.

***

Hari ini, Senin, 17 Agustus 2026, bendera merah putih berkibar. Hari kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia.

Orang-orang mengenakan seragam. Anak-anak berdiri rapi. Lagu Indonesia Raya terdengar dari pengeras suara.

Ketika suara musik mulai mengalun, Narsih berdiri di antara barisan anak-anak. Tangannya terangkat. Matanya memandang bendera. Namun bibirnya bergetar.

Ia teringat ayah. Lalu air mata jatuh.

Satu. Dua. Kemudian semakin deras.

"Indonesia tanah airku..." suara Narsih tersendat.

Ia menoleh ke sisi kanan lapangan. Sejenak ia membayangkan ayahnya berdiri di sana sembari mengenakan kemeja lusuh. Lalu berkata seperti dulu, "Yang keras suaranya, Narsih. Jangan malu menyanyikan lagu kebanggaan itu."

Narsih tiba-tiba ingin berlari kepadanya. Ingin menggenggam tangannya. Ingin berkata bahwa ia sudah hafal lagu Indonesia Raya. Ingin menunjukkan bahwa ia sudah bisa memberi hormat dengan benar.

Namun pojok kanan lapangan itu kosong. Ayahnya tidak ada. Subagyo tidak akan pernah lagi mengajarinya bernyanyi. Tidak akan pernah lagi mengusap kepalanya. Tidak akan pernah lagi mengangkat tubuh kecilnya ke atas bahu.

Narsih menangis sesenggukan sambil tetap memberi hormat kepada bendera merah putih.

***

Malamnya, rumah menjadi sunyi. Semua orang telah tidur. Namun Narsih belum. Ia duduk di dekat jendela.

Bulan menggantung pucat. Suara jangkrik bersahutan. Sesekali terdengar suara katak dari sawah di belakang rumahnya.

Narsih memeluk lutut.

"Kenapa, Yah?" ia bertanya kepada malam yang gelap.

"Kenapa mereka pukul Ayah?"

Tak ada jawaban.

"Karena ayam?"

Air matanya jatuh.

"Kalau Ayah salah, kenapa tidak dibawa ke polisi?" Narsih mengusap air matanya.

"Kenapa harus dipukul ramai-ramai?"

"Kenapa orang boleh membunuh orang lain cuma karena marah?"

Suara Narsih semakin lirih. Lalu pertanyaan yang selama berhari-hari bersarang di kepalanya akhirnya keluar.

"Kalau mencuri ayam membuat Ayah mati, kenapa orang-orang yang mencuri uang banyak sekali tidak selalu mati?"

Narsih tidak memahami hukum. Ia tidak mengerti korupsi. Ia tidak mengerti pengadilan. Ia tidak tahu apa arti vonis. Yang ia tahu hanya satu, ayahnya telah tiada.

Dari televisi yang kadang ia tonton bersama ayahnya dulu, ia pernah melihat orang-orang berdasi keluar dari gedung pengadilan. Mereka tersenyum. Ada kamera. Ada pengawal. Ada mobil. Ada pengacara. Ada hukuman. Ada penjara. Lalu suatu hari mereka bisa kembali pulang.

Narsih tidak mengerti mengapa dunia seperti memiliki timbangan yang berbeda. Mengapa tubuh ayahnya harus menerima pukulan bertubi-tubi hanya karena seekor ayam, sementara pencurian yang nilainya jauh lebih besar bisa berakhir dengan proses panjang, pengadilan, remisi, dan kesempatan untuk memulai hidup kembali.

"Ayah cuma salah mencuri ayam, Yah..." Narsih terisak.

"Tapi kenapa Ayah tidak diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan?"

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Kali ini Narsih tidak menangis karena kehilangan. Ia menangis karena merasa dunia telah berlaku tidak adil kepada ayahnya.

***

Pagi berikutnya, Paman Gatot menemukan sesuatu di meja kecil kamar Narsih. Sebuah kertas. Di atasnya terdapat tulisan dengan huruf-huruf besar dan tidak rapi.

AYAH, BESOK KALAU ADA UPACARA LAGI, AKU AKAN MENYANYI SENDIRIAN.

Di bawah kalimat itu ada gambar bendera merah putih. Tetapi ada satu hal yang membuat Paman Gatot terdiam lama.

Di bawah gambar bendera, Narsih menulis, AKU JUGA AKAN HORMAT UNTUK AYAH.

Paman Gatot mengusap wajahnya. Lalu matanya tertuju pada kalimat terakhir yang ditulis dengan pensil, sedikit miring, seolah dibuat sambil menangis.

Tapi kalau nanti aku besar, aku tidak mau jadi orang yang memukul orang lain hanya karena semua orang ikut memukul.

Paman Gatot terpaku. Ia membaca kalimat itu sekali lagi. Lagi dan lagi.

Di luar rumah, suara anak-anak mulai terdengar. Mereka sedang berlatih ikut lomba gerak jalan delegasi dari sekolah. Paman Gatot menatap kertas itu dengan dada sesak.

Barangkali Subagyo memang tidak sempat mengajarkan banyak hal kepada anaknya. Tetapi dari sebuah kematian yang mengerikan, Narsih justru menemukan pelajaran yang paling sulit diajarkan kepada orang dewasa, bahwa kemerdekaan bukan sekadar mampu mengibarkan bendera. Bukan sekadar berdiri tegak. Bukan sekadar menyanyikan Indonesia Raya.

Namun, kemerdekaan juga berarti mampu menahan tangan ketika amarah menyuruh kita memukul. Mampu membedakan kesalahan dengan alasan untuk menghilangkan nyawa, serta berani bertanya ketika hukum terasa memiliki timbangan yang berbeda. (*)

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda