Cerita Fiksi

Tangis di Balik Pintu Kelas

Tangis di Balik Pintu Kelas
Ilustrasi Bima (ChatGPT)

Bel sekolah berbunyi nyaring ketika Bima menendang pintu kelas hingga terbuka lebar.

“Bima! Kamu lagi?”

Suara Bu Rani, wali kelasnya, terdengar lelah.

Bima tidak menjawab. Ia berjalan menuju bangkunya, melempar tas begitu saja, lalu duduk sambil menyandarkan kepala ke dinding. Seragamnya kusut. Ada lebam samar di dekat pelipis yang ia tutupi dengan rambut.

“Kenapa kamu tadi berkelahi lagi?” tanya Bu Rani.

“Dia yang mulai.”

“Setiap kali ditanya, jawabannya selalu begitu.”

Bima diam. Teman-temannya mulai berbisik. Sebagian menatapnya dengan takut, sebagian lagi dengan tatapan mengejek. Bima sudah terbiasa.

Di sekolah, ia dikenal sebagai anak pembuat masalah. Ia pernah memecahkan kaca jendela karena marah. Pernah membentak guru. Pernah berkelahi dengan kakak kelas. Pernah meninggalkan kelas saat pelajaran berlangsung. Nilainya juga semakin buruk.

Tidak ada yang benar-benar tahu mengapa. Bagi sekolah, Bima adalah masalah yang harus diselesaikan. Bagi teman-temannya, Bima adalah anak nakal yang sebaiknya dijauhi. Bahkan bagi beberapa guru, Bima dianggap tidak mau berubah.

Padahal, tidak ada seorang pun yang pernah bertanya kepadanya dengan sungguh-sungguh,

“Bima, sebenarnya kamu sedang menghadapi apa?”

Hari itu, pertanyaan itu akhirnya datang. Tetapi semuanya sudah terlambat.

“Mulai besok, Bima tidak perlu datang ke sekolah lagi.”

Kalimat kepala sekolah itu membuat ruangan mendadak terasa sunyi. Ayah Bima duduk di sebelahnya. Wajahnya keras. Tangannya mengepal di atas meja.

“Sekolah sudah memberikan banyak kesempatan,” lanjut kepala sekolah. “Tapi Bima terus mengulangi kesalahan yang sama. Kami sudah melakukan pembinaan, memanggil orang tua, bahkan memberikan surat peringatan.”

Bima menunduk. Ia tidak membantah. Untuk apa? Tidak ada yang akan mendengarkan.

“Baik,” jawab ayahnya singkat.

Di perjalanan pulang, tidak ada percakapan. Motor melaju cepat membelah jalan. Bima memandangi aspal dari balik helm. Dalam kepalanya, hanya ada satu kalimat.

Aku sudah tidak punya sekolah.

Anehnya, ia tidak menangis. Mungkin karena ia sudah terlalu sering menahan tangis.

Rumah itu tidak pernah terasa seperti rumah. Sejak ayah dan ibunya bercerai tiga tahun lalu, semuanya berubah. Ibunya kemudian menikah lagi dengan seorang pria yang tinggal di kota lain. Sejak saat itu, Bima tinggal bersama ayahnya.

Awalnya, ibunya sering menelepon. “Bima sudah makan?”

“Belajar yang rajin, ya.”

“Kalau ada apa-apa, cerita sama Ibu.”

Namun, telepon itu semakin jarang. Satu minggu sekali berubah menjadi dua minggu sekali. Kemudian sebulan sekali. Lalu hanya pesan singkat saat ulang tahun.

Bima tahu ibunya memiliki kehidupan baru. Ia juga tahu ibunya bahagia. Karena itu, Bima memilih untuk tidak mengganggunya.

Ia tidak pernah mengatakan bahwa setiap malam ia sering mendengar ayahnya pulang dalam keadaan marah.

Ia tidak pernah mengatakan bahwa kesalahan kecil bisa berubah menjadi pukulan.

Ia tidak pernah mengatakan bahwa beberapa kali ia tidur dengan tubuh menggigil karena takut ayahnya kembali marah.

Dan ia tidak pernah mengatakan bahwa lebam di tubuhnya bukan berasal dari perkelahian di sekolah. Lebam itu berasal dari rumah.

Malam itu, setelah pulang dari sekolah, ayahnya mengetahui bahwa Bima dikeluarkan.

“Apa yang kamu lakukan sampai sekolah mengeluarkanmu?”

Bima diam.

“Jawab!”

“Bima cuma berkelahi.”

Tamparan keras mendarat di pipinya.

“Cuma?”

Bima terhuyung.

“Kamu memang tidak pernah bisa membuat Ayah bangga!”

Kalimat itu jauh lebih sakit daripada tamparan. Bima menatap lantai. Untuk pertama kalinya hari itu, air matanya jatuh. Bukan karena sakit. Tetapi karena ia sadar, tidak ada satu pun tempat yang benar-benar menginginkannya.

Sekolah tidak. Ayahnya tidak. Dan ia merasa ibunya juga sudah tidak membutuhkannya.

Malam semakin larut. Bima duduk sendirian di teras. Ia memandangi langit yang gelap. Dulu, ketika masih kecil, ibunya sering duduk di sampingnya sambil menunjukkan bintang.

“Kalau Bima sedih, lihat langit. Bintang itu selalu ada, meskipun kadang tertutup awan.”

Bima tersenyum tipis mengingatnya. Lalu ia mengambil ponsel. Jarinya mengetik sebuah pesan.

"Bu, Bima dikeluarkan dari sekolah."

Ia berhenti. Menghapusnya. Mengetik lagi.

"Bu, Bima kangen"

Hapus lagi. Akhirnya hanya satu kalimat yang dikirim.

"Ibu masih sayang Bima?"

Pesan itu terkirim. Bima menunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Setengah jam.

Tidak ada jawaban.

Ia mematikan ponselnya dan menundukkan kepala. Namun beberapa menit kemudian, layar ponselnya menyala.

"Ibu: Bima, tentu Ibu sayang. Maaf kalau selama ini Ibu terlalu jauh. Kenapa? Ada apa? Cerita sama Ibu."

Bima membaca pesan itu berulang kali. Kemudian air matanya pecah. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menangis tanpa berusaha menyembunyikannya.

Keesokan paginya, sebuah ketukan terdengar di pintu rumah. Ayah Bima membuka pintu. Di sana berdiri Bu Rani bersama kepala sekolah.

“Kami ingin berbicara dengan Bima,” kata Bu Rani.

Ayah Bima terlihat tidak senang.

“Untuk apa? Dia sudah dikeluarkan.”

“Kami tahu,” jawab Bu Rani pelan. “Tapi setelah memikirkan kembali semuanya, kami merasa ada sesuatu yang selama ini tidak kami lihat.”

Bima yang berada di dalam kamar mendengar percakapan itu. Ia keluar perlahan. Bu Rani memandangnya. Tidak ada kemarahan di wajahnya. Hanya kesedihan.

“Bima,” katanya, “Ibu mau bertanya sesuatu.”

Bima menunduk.

“Apa?”

“Kenapa kamu selalu marah?”

Bima terdiam. Pertanyaan sederhana itu justru terasa paling sulit untuk dijawab. Bibirnya bergetar.

“Aku... capek, Bu.”

Bu Rani mendekat.

“Capek karena apa?”

Bima akhirnya menangis.

“Aku capek pura-pura baik-baik saja.”

Ruangan itu mendadak sunyi. Bima menceritakan semuanya. Tentang perceraian orang tuanya. Tentang ibunya yang menikah lagi. Tentang kesepian. Tentang ayahnya. Tentang pukulan yang selama ini ia sembunyikan. Tentang malam-malam ketika ia berharap bisa menghilang saja.

Bu Rani menangis. Kepala sekolah menunduk. Baru saat itu mereka menyadari sesuatu.

Selama ini mereka sibuk menghukum perilaku Bima, tetapi lupa mencari tahu luka yang berada di balik perilaku tersebut. Beberapa bulan kemudian, hidup Bima mulai berubah.

Ia mendapatkan pendampingan dari guru dan konselor. Ibunya mulai lebih sering berkomunikasi dengannya. Sekolah juga membantu mencari jalan agar pendidikannya tetap berlanjut.

Tidak semua masalah selesai dengan cepat. Ayahnya masih menjadi bagian dari persoalan yang harus ditangani orang dewasa dan pihak yang berwenang.

Namun untuk pertama kalinya, Bima tidak lagi menghadapi semuanya sendirian. Suatu pagi, Bima berdiri di depan gerbang sekolah.

Bu Rani menghampirinya. “Siap memulai lagi?”

Bima mengangguk.

“Siap, Bu.”

“Bima.”

“Iya?”

“Kalau suatu hari kamu marah lagi, jangan dipendam sendirian.”

Bima tersenyum.

“Baik, Bu.”

Ia kemudian berjalan memasuki halaman sekolah. Bukan sebagai anak yang tiba-tiba menjadi sempurna. Bukan pula sebagai anak yang seluruh masalahnya telah selesai.

Ia hanya seorang anak yang akhirnya menemukan seseorang yang mau mendengarkan. Dan terkadang, bagi seorang anak yang terlalu lama terluka, didengarkan adalah awal dari sebuah penyembuhan.

Hari itu Bima belajar satu hal. Tidak semua anak yang berteriak sedang mencari masalah. Kadang, mereka sedang berteriak agar seseorang menyadari bahwa mereka sedang terluka. Dan untuk pertama kalinya, ada seseorang yang akhirnya mendengar teriakannya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda