Cerita Fiksi
Kerupuk Warna-warni dan Buah Kesabaran Uci
“Bu, Uci boleh minta uang jajan gak? Pengen banget beli kerupuk warna-warni di warung depan rumah,” rengek Uci kepada sang ibu yang tengah sibuk menyapu halaman rumah.
Sang ibu mendesah pasrah, menghentikan sejenak kegiatan menyapu daun dan ranting kering untuk menatap sang buah hati.
Raut lelah di wajah sang ibu seolah menjadi jawaban bagi Uci bahwa ia harus menunda dulu keinginannya itu untuk sementara waktu. Namun, bocah 7 tahun itu tak pantang menyerah. Pasalnya sudah beberapa hari ini ia ingin membeli jajanan itu seperti teman-temannya yang lain, dan belum keturutan karena sang ibu yang belum memiliki uang.
“Ayolah, Bu. Kasih Uci uang buat beli kerupuk, cuma seribu perak saja,” rengeknya lagi.
Seribu perak terdengar sepele sekali, tetapi nyatanya sang ibu saat ini tak memegang uang sepeser pun. Terlebih sang suami atau ayah Uci masih belum pulang dari melaut.
“Tunggu ayahmu pulang dulu ya, Nak! Ibu bener-bener gak punya uang,” jawab sang ibu pasrah. Alih-alih meneruskan kegiatan menyapu halaman untuk mengalihkan perhatian, Bu Hira justru memilih untuk masuk ke dalam rumah. Meninggalkan putri kecilnya dengan kekecewaan.
“Padahal cuma seribu!” hela Uci sedikit kasar. Melihat sapu lidi dan tumpukan daun kering yang belum selesai disapu membuat bocah itu tergerak untuk membantu meneruskan pekerjaan sang ibu. “Sambil nunggu Ayah pulang, Uci nyapu dulu aja,” ujarnya menyemangati diri.
Usai menyapu halaman, Uci memutuskan untuk duduk sebentar di di bawah pohon mangga di halaman rumahnya. Tanpa sadar pandangan bocah itu kembali teralihkan pada kerupuk warna-warni yang tergantung rapi di warung seberang.
Uci menelan ludah, membayangkan rasa renyah dan gurih yang sudah tak sabar ingin ia icipi jika sang ayah pulang nanti dari bekerja. “Sabar, Uci tunggu Ayah pulang dulu,” yakin bocah itu dalam hati.
Gelak suara tawa mencuri perhatian Uci dengan tiba-tiba, memperlihatkan kawanan bocah-bocah remaja di kampung yang tengah melintas sembari membahas permainan apa yang akan mereka mainkan selepas salat isya’ nanti di masjid. Pandangan Uci kembali tersita pada warna-warni cantik di tangan para remaja kampung itu. Lagi-lagi kerupuk yang ia idam-idamkan itu memanggilnya untuk segera pergi ke warung.
Ya, hampir setiap anak kecil dan remaja di kampung ini sedang menggemari jajanan tersebut. Tak terkecuali teman-teman sebaya Uci yang selalu janjian tiap pulang mengaji untuk membeli kerupuk itu bersama-sama.
Hanya Uci seorang yang belum berkesempatan untuk mencicipinya hanya karena sang ibu tak mempunyai uang.
“Huh, kalau Uci gak berhasil beli kerupuk itu bareng-bareng dengan teman mengaji setelah maghrib nanti pasti mereka gak mau lagi main dengan Uci,” pikirannya semakin kalut.
Sore itu Uci masih belum juga mampu untuk mewujudkan keinginannya. Berjam-jam menunggu kehadiran sang ayah, tetapi beliau juga tak terlihat pulang seperti yang diharapkan. Hingga hari semakin larut, sore berganti malam, dan pagi pun datang menyingsing. Keinginan itu masih belum terwujud.
Rupanya ayah tak pulang hari itu, kata sang ibu ayah Uci pergi melaut ke daerah lain dan baru akan kembali setelah 2 atau 3 hari lagi.
“Huh, makin lama dong Uci beli kerupuk warna-warninya, Bu,” gerutu gadis kecil itu saat mendengar penjelasan sang ibu. Ia berpikir untuk mengutang saja ke warung depan rumah. Namun, idenya tersebut terdengar begitu buruk, dan sontak membuatnya merasa bersalah. Pasalnya sang ibu sudah memiliki tumpukan catatan utang di sana untuk biaya makan sehari-hari. Ia tak tega untuk menambah jumlahnya.
“Sabar ya, Nak,” hanya itu yang bisa diucapkan oleh sang ibu.
Pagi berganti siang, sore pun datang menjelang, dan pikiran Uci kembali berkecamuk. Kemarin malam saja ia kembali ditanyai teman sebayanya apakah sudah membeli kerupuk warna-warnai yang tengah hits di kampung mereka itu. Uci hanya mampu menggeleng kecil sambil menundukkan kepala.
Lalu, bagaimana dengan malam ini? Bukankah kalau dia tak jadi membeli lagi kerupuk itu dan memamerkannya pada teman-teman sebayanya, mereka akan kembali mencemoohnya.
Pikiran yang terus berkecamuk itu membawa pandangan Uci pada tumpukan kerupuk warna-warni di warung seberang. Kantong plastik yang menampungnya di sana terlihat penuh karena baru saja diisi oleh pemilik warung. Gadis itu tiba-tiba berjalan mendekat, dan melihat keadaan sekitarnya.
Tak ada satu pun orang yang terlihat lewat dan penunggu warung tampak sibuk di dalam. Dengan berat hati Uci mengambi satu bungkus, memasukkannya ke kantong celana dan berjalan menjauh setelahnya.
Bukankah ini namanya mencuri? Mengambil tanpa izin itu mencuri! Pikiran Uci semakin berkecamuk dan merasa bersalah, toh Ibu juga tak pernah mengajarkan ia untuk berbuat hal buruk seperti itu.
Saking merasa bersalahnya, tiba-tiba bocah itu menghentikan langkahnya, niat hati ingin pergi ke rumah teman untuk memamerkan kerupuk warna-warni yang berhasil ia beli. Sedikit berbohong demi tak dijauhi teman-temannya. Namun, hati kecilnya berkata lain.
Uci akhirnya kembali berbalik arah, mendekati warung seberang rumah itu, dan mengembalikan bungkus kerupuk warna-warni itu ke tempatnya. Sejenak ia mematung, memandangi tumpukan makanan ringan yang begitu menggoda dan ingin sekali ia cicipi sejak beberapa hari lalu. Namun, lagi-lagi ia masih harus menunggu waktu yang tepat. Menunggu sang ayah yang masih bekerja di luar sana.
“Loh, Uci, kenapa diam di situ? Mau beli apa, Nak?” tanya sang pemilik warung yang tiba-tiba muncul dari dalam.
Sontak, bocah itu berjengit dan sedikit kaget. Kedua bola matanya melebar dan mulai takut saat ia menatap sang pemilik warung, Hampir saja ia mengambil satu bungkus tanpa membayar dan membuatnya merasa begitu bersalah.
“Itu, Bu, U-uci, ma-mau beli kerupuk warna-warninya, tapi ibu bilang belum punya uang. Jadi, Uci cuma lihat-lihat aja,” balas Uci sembari sedikit terbata, keinginan untuk menangis karena rasa bersalah yang mengintai pun tak lagi terbendung.
Di tengah isakan kecil yang keluar dari bibir bocah itu, tiba-tiba ibu pemilik warung mengambil 2 bungkus kerupuk warna-warni itu dan menyodorkannya ke arah Uci.
“Ini ambil saja buat Uci, gak usah bayar,” seru sang pemilik warung dengan iba.
Uci yang masih terisak pun menerima 2 bungkus kerupuk warna-warni itu dengan gemetar, sebelum mengucapkan terima kasih yang banyak kepadanya. Tak lama kemudian kaki kecilnya membawa Uci berlari kencang menuju rumah untuk memberi tahu sang ibu.
“Bu …! Uci dapat kerupuk warna-warni akhirnya!” seru Uci begitu memasuki rumah.
Sang ibu yang tengah sibuk menyiapkan bahan masakan di dapur itu pun menatapnya dengan penuh keheranan. “Dapat dari mana? Uci ngutang di warung?” tanyanya penasaran.
Menarik napas dalam, dan tersenyum lebar setelahnya bocah itu pun langsung membuka bungkus kerupuk warna-warni di tangannya dan mulai mencicipinya. Tak lupa ia juga menawarkannya kepada sang ibu, yang tentu saja ditolak karena sang ibu ingin membiarkan Uci menikmati jajanan itu sendiri dengan puas.
Ternyata rasanya benar-benar gurih dan juga renyah seperti yang Uci bayangkan selama ini. “Satu lagi mau Uci simpan buat dibawa mengaji ya, Bu,” seru Uci setelah menghabiskan satu bungkus pertamanya.
Sang ibu mengangguk dan mengelus pelan puncak kepala anak itu. “Maafin, Ibu, ya Uci,” serunya lembut.
“Gak papa, Bu, ini Uci juga dapat gratis dari Bu Minah waktu Uci main di depan warungnya,” jawabnya. Bocah itu pun memutuskan untuk menyimpan satu bungkus kerupuk yang masih tersisa ke dalam kamarnya, sebelum berpamitan untuk mandi sore kepada sang ibu.
Hanya demi menikmati kerupuk warna-warni yang harganya cuma seribu itu, Uci belajar banyak hal hari ini. Untuk selalu sabar dan tak memilih terjerumus dalam kesalahan. Nyatanya, ia justru mendapatkan balasan yang lebih baik dari Tuhan dan bisa menikmati jajanan yang selama ini ia inginkan.
Dalam hati, bocah itu terus bersyukur dan berharap sang ayah cepat kembali dengan membawa rezeki yang lebih agar ia dapat membeli kerupuk warna-warni itu lebih banyak lagi.