Cerita Misteri
Pintu yang Bergerak Sendiri, Ada Apa Sebenarnya di Rumah Amanda?
Bangunan dari masa lampau memang memiliki pesonanya sendiri. Sekalipun dipoles mengikuti jaman, nyatanya keunikannya tetap ada sebagaimana yang kulihat sekali di rumah Amanda, pada masa SMA dulu.
“Oke, untuk kelompok A jobdesk-nya bikin bubuk warna ya. Silakan berdiskusi mau eksekusi dimana,” titah ketua kelas, Sunny.
Menjelang kelulusan, setiap kelas XII dibebaskan menentukan tema masing-masing untuk photoshoot album sekolah.
Nah, kelas XII A1 memilih tema colourfull dan melibatkan bubur warna-warni berbahan dasar tepung. Kelompok yang ditunjuk untuk jobdesk ini adalah kelompok A, yang terdiri atas aku, Elisa, Olivia, Vita, Amanda, Lingga, Randi, dan Adrian.
“Gimana kalau di rumah Amanda saja? Dekat dari sekolah,” usul Randi.
“Gimana, Man?” tanya Lingga.
Amanda mengangguk. “Boleh kok. Sepulang sekolah langsung gas yok?”
Alhasil, sepulang sekolah kami langsung meluncur ke rumah Amanda yang hanya berjarak 500 meteran saja. Setelah melalui hamparan persawahan luas, kami lalu berbelok di pertigaan dan sekejap sudah sampai di lokasi.
“Bentar ya, kubukain pintunya dulu,” ucap Amanda kemudian berlari ke belakang rumahnya.
Tak lama kemudian, Amanda membuka pintu rumahnya dan mempersilakan kami masuk. Tanpa berlama-lama, kami langsung membuat bubur warna dari tepung beras dan pewarna makanan.
“Nda, ini rumahmu bentuk limas, bener?” tanya Randi.
“Betul.”
“Keren lho,” komentar Lingga seraya mengedarkan pandangan.
“Ini aslinya rumah mbah buyutku dulu. Terus direnovasi dikit, dan ditambah perabotan baru,” jelas Amanda.
Dari luar, rumah Amanda memang mirip rumah-rumah elit di perkotaan. Begitu masuk pun, desain interiornya begitu cantik dan tampak mahal. Bahkan, ada jam gantung besar yang vintage, dengan ukiran yang selaras dengan ukiran di buffet, sofa, meja, bahkan ornamen pada karpet ruangan. Pokoknya kece!
“Oh saka papat ya?” komentar Randi lagi.
Saka papat sendiri adalah empat tiang yang selalu ada dan menopang rumah limas khas Jawa.
“Kalian tahu nggak, kata simbah-simbah jaman dulu…” ujar Randi misterius. Kami kompak diam dari aktivitas dan mendengarkannya dengan seksama. “...rumah ber-saka papat selalu memiliki penunggu di setiap tiangnya.”
“Ah itu takhayul. Rumah nenekku saka papat aman-aman saja,” tukas Lingga.
Adrian tampak terkekeh. “Ngawur kamu, Di!”
Randi hanya tersenyum simpul. Kami kemudian tertawa lepas sebelum melanjutkan kegiatan. Namun, aku justru mendapati momen aneh.
“Oh, Manda. Kucingmu udah pulang main ya?” tanyaku.
Amanda mengerutkan keningnya. “Kucingku hilang dua bulan lalu kok.”
“Oh, ibumu di rumah? Atau ayahmu mungkin?”
“Ayahku masih kerja. Ibuku rapat arisan. Nggak ada orang disini selain kita.”
Aku tercenung. Kutatap pintu penyekat antara ruang tamu dan ruang keluarga di rumah Amanda. Pintu kayu bercat hitam kusam itu, tampak bergerak terbuka dan menutup selama tiga kali. Padahal nggak ada angin sama sekali, dan nggak ada orang lain.
“Itu…pintunya gerak sendiri,” ucapku seraya menunjuk ke arah pintu.
Semua mata kompak menatap pintu kayu tersebut, sambil memasang ekspresi ngeri. Kecuali Vita yang langsung beranjak dan duduk menyempil diantara aku dan Olivia.
Amanda lalu berdiri mendekati pintu tersebut dan membukanya lebar-lebar.
“Nggak ada siapa-siapa lho. Paling kena angin.”
Kami kemudian kembali melanjutkan aktivitas hingga menjelang maghrib. Kemudian bergegas pulang masing-masing.
Namun, sebelum aku menstater motor, Amanda mendekatiku kemudian mengutarakan hal-hal yang sukses bikin aku merinding.
“Yang kayak tadi biasa kok, Fris. Emang kadang ada yang usil.”
“Kamu nggak takut, Manda?”
Amanda terkekeh. “Yang tadi cuman pintu gerak sendiri. Aku bahkan pernah ketemu noni Belanda nangis di dekat kamar mandi.”