Cerita Misteri

Kisah Nyata: Aa Korban Tumbal

Kisah Nyata: Aa Korban Tumbal
Ilustrasi Cerita Aa Korban Tumbal (Pixabay/freestocks-photos)

Peringatan: Cerita ini adalah kisah nyata dengan nama, tempat kejadian, beberapa peristiwa, serta hubungan antar tokoh disamarkan untuk melindungi privasi.

“Neng, doakan Aa, ya.”

Pesan itu sangat singkat, tapi cukup dalam melubangi hatiku dengan bor kekhawatiran. Ada apa dengan Aa? Ah, Emak memang sungguh misterius. Mengirimkan kabar yang tak kalah misterius. Apakah Aa sudah tiada? Tidak mungkin! Buru-buru kuhapus sekelebat kemungkinan yang melintasi benak.

Cucian baju yang bertumpuk-tumpuk tidak jadi kujamah. Bagaimana bisa? Bahkan untuk menopang tubuh saja kedua kakiku sudah hilang kemampuannya. Terduduk lemas, kehilangan seluruh energi, jantung berdebar hebat, keringat dingin mengucur, seluruhnya menguasai raga saat ini.

Layar telepon genggam berkedip sesaat, notifikasi whatsapp muncul sekejap.

“Aa tiba-tiba pingsan lalu lupa ingatan.”

Ada apa ini? Kalau saja Jakarta dan Subang bertetangga, ku akan berlari secepat mungkin untuk mencari tahu sendiri keadaan Aa. Jujur, ada sedikit rasa lega menyusup karena sekelebat kemungkinan tadi tidaklah benar.

***

Stroke Batang Otak. Penyakit itu yang ternyata dialami Aa. Ia sedang menjalani perawatan di rumah sakit ditemani Emak dan Abah bergantian. Emak akhirnya menelpon dan menceritakan kronologisnya secara lengkap. Tenang, akan kuceritakan lengkap juga kepadamu, Kawan.

Kemarin sore, tepatnya tanggal 22 Maret 2022, Aa pulang kerja dalam keadaan lemas dan pucat, lalu pingsan begitu saja di depan Emak. Tentu Emak panik dan menjerit-jerit. Para tetangga dan saudara datang. Seluruhnya berusaha membangunkan Aa. Salah satu dari mereka memanggil dokter.

Jam terus berputar. Aa akhirnya bangun. Namun, semuanya terkejut, bukan senang. Aa menjadi tidak lancar berbicara. Ingatannya hilang. Bahkan ia lupa namanya sendiri. Tidak ada satupun yang bisa menjelaskan tentang ini. Dokter pun berkata semuanya normal. Hanya saja ia menyarankan untuk diperiksa lebih lanjut di spesialis saraf di rumah sakit besar.

Esok hari, dibawalah Aa bertemu dengan spesialis saraf seperti saran dokter. Setelah berbagai pemeriksaan, diagnosa akhirnya adalah Stroke Batang Otak disebabkan oleh asap rokok yang membuat sebagian otaknya menghitam dan hampir mati.

Panggilan diakhiri dengan pesan Emak, “Aa baik-baik saja di sini. Neng fokus kuliah saja, nggak usah pulang. Pulanglah kalau seluruh ujianmu selesai.”

Memang saat itu aku sedang ujian. Baiklah. Aku tidak ingin membantah Emak.

***

Kabar baik akhirnya datang. Aa sudah pulang dari rumah sakit! Ingatannya semakin pulih. Tapi Aa kehilangan kemampuan untuk berbicara, membaca, menulis, dan berhitung. Kembali lagi seperti anak kecil. Perlu terus dilatih. Otaknya bisa dibersihkan dengan obat saja. Tidak perlu operasi atau apa pun tindakan yang membuat hatiku menjerit. Syukurlah.

Ujianku sudah selesai seluruhnya. Kota rantauan kutinggalkan, bergegas pulang menemui Aa. Rindu sekali rasanya. Pandangan mata terhalang oleh cahaya kebahagiaan sepanjang perjalanan karena Emak mengabari Aa sudah jauh lebih baik. Aku sangat tidak sabar ingin menemuinya. 

Rumah kecil kami sudah terlihat. Kulangkahkan kaki untuk mendekat. Persis di depan pintu, aku justru tercekat. Banyak sekali sanak saudara di sana. Seluruh ekspresi wajah menggambarkan raut sedih dan tangis yang sengaja ditahan. Ada apa ini? Bukankah Aa semakin membaik?

Abah menepuk pundakku, lalu menuntun ke kamar Aa. Aku melihat pemandangan yang paling kubenci sampai akhir hidupku. Pemandangan yang sangat ingin kulupakan detik itu juga.

Aa sedang terduduk di kasur bersama Emak. Tidak ada cahaya sama sekali di wajahnya. Hanya raut putus asa yang terlihat jelas. Emak menangis tersedu-sedu.

“Neng, maafin Aa, ya. Aa nggak bisa apa-apa sekarang.” Suara Aa patah-patah, diselingi napas yang begitu berat.

“Aku bodoh! Aku mau mati saja! Bunuh aku, Mak, bunuh aku!” teriaknya. 

Aku tidak bisa bicara apa-apa. Hatiku panas. Ingin sekali menangis, tapi anehnya, tidak bisa. Mendengar teriakan Aa, para saudara satu persatu menghampiri.

“Sing sabar, nya, Neng. Mugia Aa-na enggal damang (Sabar, ya, Neng. Semoga Aa-nya cepat sembuh).”

***

Ternyata, setelah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, kondisi Aa malah semakin memburuk. Selain itu, banyak sekali kejadian-kejadian aneh menimpa kami. Kondisi Emosional Aa tidak karuan, meledak-ledak tidak terkontrol. kalau yang ini, katanya wajar dialami penderita stroke. Bagi kami, tidaklah wajar. Begini ceritanya.

Pada suatu malam, ketika Abah sedang pergi karena sedang ada urusan, Aa hampir membunuh Emak! Iya, ini sungguhan, Kawan. Bukan Majas. Kerah baju Emak ditariknya, lalu dibentak kencang sekali.

 “Kenapa badanku panas sekali, HAH?!”

Aku tidak tahu apa maksudnya. Emak ketakutan, menyuruhku menjemput Abah. Tanpa pikir panjang, kubawa langkah ini secepat mungkin berlomba dengan kecepatan angin. Tak disangka, lariku kalah cepat dengan Emak yang tiba-tiba sudah berada di depanku sambil menjerit-jerit.

 “Emak mau dibunuh … Emak mau dibunuh ….”

Tepat setelah aku meninggalkan pintu rumah, rupanya Aa mencengkram baju Emak, lalu mengambil parang. Syukur, genggaman Aa terlepas. Lalu Emak berlari kencang sekali mencari pertolongan.

Otomatis, para tetangga yang mendengar jeritan Emak, berdatangan. Kawan, coba tebak apa yang terjadi setelah kami kembali ke rumah? Aa mengamuk? Salah. Aa sudah tertidur! Aneh, bukan? 

Apakah wajar penyakit stroke menyebabkan seorang anak hampir membunuh ibunya? Hari-hari setelahnya, Aa tetap mudah sekali marah. sering membentak, melempar barang, bahkan menyiksa kucing kesayangannya sendiri yang ia urus sedari bayi.

Kejadian aneh selanjutnya adalah perkataan Aa yang kami tidak mengerti. Katanya, dia tidak punya tangan. Pernyataan itu terus diulang-ulang setiap detik. Padahal jelas-jelas kedua tangannya lengkap.

Sampai sebuah mimpi datang menghampiri Emak. Ia melihat Aa sedang berada di suatu tepat bersama beberapa orang asing, dan satu orang saudara dari Abah. Mereka sedang menyiksa Aa dengan kejam, kedua lengannya sudah hancur. Entah apa takwil mimpi itu. 

Kejadian aneh tidak hanya terjadi di waktu-waktu tertentu saja. Namun, terjadi setiap malam! Berulang-ulang. Rasanya, aku tidak mau ada waktu malam. Ingin langsung pagi hari saja.

Setiap malam, aku dan Emak tidak tidur sampai pagi untuk menjaga Aa. Napas Aa tidak stabil, seringkali mendengkur seperti akan kehabisan napas. Aku tidak tega melihatnya. Pikiran negatifku selalu muncul setiap malam. Apakah ini adalah proses sakaratul maut? Selalu kubisikkan ayat-ayat Al-Quran di telinganya sambil menahan perih di hati.

Pada saat berjaga itu, banyak sekali gangguan-gangguan aneh. Seperti ada suara ketukan pintu, suara dentuman seperti bom, suara berisik seperti ada yang berlarian di atap, juga hawa dingin yang tiba-tiba muncul. Pernah Emak merasa tubuhnya seperti ada yang mengelitiki, bahkan terasa seperti ditampar pun pernah.

Jika tentang melihat wujud sosok tak kasat mata, Emak sudah ratusan kali, mungkin. Ada yang tinggi besar seperti raksasa, kakek tua, anak kecil, ada pula yang membawa pasukan banyak sekali. Rumah kami juga sering didatangi hewan seperti ular, kelabang, kaki seribu, lalat, dan masih banyak lagi. Pernah kami didatangi empat ekor ular dalam sehari.

Sebenarnya ada apa ini? Apa yang kami alami seluruhnya terasa sangat tidak masuk akal. Jika kalian bertanya: ‘Kenapa tidak panggil orang pintar saja?’ Jawabannya karena kami tidak percaya orang pintar. Tetapi puluhan ustadz sudah kami mintai bantuan. Sebagian dari mereka jujur, beralasan tidak bisa menangani karena ini adalah ilmu hitam tingkat tinggi. Sebagian lainnya menolak halus dengan berbagai alasan.

Beberapa bulan kemudian, di sela pengobatan medis yang tetap berjalan, kami menemukan kontak tim ruqyah dari luar provinsi. Emak dan Abah rela menghabiskan seluruh uangnya demi mengundang mereka datang ke rumah.

Oh, iya, aku lupa memberitahu kondisi Aa. Kadang bisa diajak mengobrol, kadang tidak. Lebih seringnya, Ia meracau tidak jelas. Tingkahnya pun aneh. Pernah saat bulan ramadhan, Aa memutar jam dinding agar lebih cepat datang waktu maghrib, katanya.

***

Rombongan tim ruqyah datang. Proses ruqyah ini berlangsung selama berhari-hari dan cukup sulit meski dilakukan oleh sepuluh orang yang sangat berpengalaman. Sama seperti alasan para ustadz, ilmu hitam tingkat tinggi. Biar kubocorkan sedikit saja apa yang dilakukan oleh mereka. Ruqyah rumah, mencari buhul sihir, menetralkan dan menghancurkan buhul, menelusuri penyebab, menarik dan mengembalikan sukma, ruqyah setiap anggota keluarga yang ada di sana, dan memagari rumah.

Akhirnya, setelah proses panjang itu selesai, diambillah sebuah kesimpulan mengapa Aa menjadi seperti sekarang. Aa ingin ditumbalkan untuk pesugihan! Yang lebih mencengangkan adalah pelakunya masih satu darah dengan Abah. Sungguh biadab!

Salah satu sukma Aa sudah diambil dan disiksa habis-habisan di alam lain. Jadi, mimpi Emak itu memperlihatkan sukmanya Aa yang sedang disiksa. Perkataan Aa yang berkali-kali bilang tangannya tidak ada, itu karena memang sukma bagian lengannya sudah hancur. Syukur sukma Aa bisa ditarik kembali meski sudah terluka sangat parah. Kalau terlambat, Aa bisa gila selamanya atau mati. Aa bisa diselamatkan dari target tumbal. Jujur, tentang teori sukma ini aku tidak terlalu paham. Silakan kalian cari tahu sendiri saja, kawan.

Setelah ruqyah, kondisi Aa semakin hari semakin membaik. Mulai lancar berbicara, mulai belajar membaca dan menulis dari awal seperti anak TK yang baru belajar. Ingatannya pun semakin pulih.

Bagaimana menurutmu, kawan? Apakah percaya dengan cerita ini?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda