“Kamu yakin mau ke sana?” Gia masih memandangku ragu. Aku menghentikan aktivitas sejenak untuk menatapnya.
“Kita sudah membicarakan hal ini berulang kali dan kamu masih saja khawatir. Kamu tenang saja, Sayang. Tidak akan terjadi apa pun kok,” ucapku berusaha meyakinkan istriku.
“Ya sudah, aku percaya kamu bisa jaga diri. Cuma sehari dan besok pulang, kan?” tanyanya untuk yang kesekian kalinya.
“Iya, Sayang.”
Setelah itu, Gia kembali membantuku menyiapkan perbekalan. Aku mengecek satu per satu isi tas. Tak lama, suara klakson terdengar dari luar pagar. Mobil jemputan telah tiba. Aku berpamitan dan berangkat menuju Pantai Kebon Duren yang berjarak sekitar 73 kilometer dari rumah. Perjalanan akan memakan waktu dua sampai tiga jam.
Sebelum berangkat, aku tak lupa membaca doa. Pantai Kebon Duren terkenal indah, tapi juga menyimpan mitos yang meresahkan. Beberapa wisatawan pernah hilang tersedot arus saat berenang terlalu ke tengah. Biasanya, pemuka adat melakukan ritual dengan sesajen untuk menyelamatkan korban. Ada yang kembali, ada yang tidak. Konon, ada penunggu bawah laut yang menguasai dunia gelap.
Namun, kejadian itu disebut hanya menimpa mereka yang bersikap tidak baik atau melanggar aturan tak tertulis. Pengunjung yang sekadar menikmati pemandangan dari tepi pantai tidak pernah mengalami apa-apa.
Kami tiba pukul delapan tiga puluh. Hangat matahari menyambut ketika kami keluar dari mobil. Debur ombak dan angin laut langsung menyapa. Aku semakin bersemangat mengabadikan momen. Aku memang menyukai fotografi. Beberapa teman sering memakai jasaku untuk merekam momen bersejarah mereka.
“Haikal! Ayo kita bangun tenda dulu!” panggil Candra.
Kami pun membagi tugas. Sebagian membangun tenda, sebagian mengumpulkan kayu bakar. Setelah selesai, kami berpencar melakukan hal yang diinginkan. Aku mengambil kamera dan mulai membidik objek. Tak lama, Candra minta difoto. Bayu, Yuda, dan Ihsan ikut berebut gaya di depan kamera. Aku tertawa melihat tingkah mereka yang seperti anak-anak, padahal usia kami sudah 23 tahun.
Setelah puas memotret, aku menyimpan kamera dan bergabung dengan Bayu serta Yuda untuk berenang. Air lautnya biru jernih. Pasir putih lembut terasa di telapak kaki. Tempat ini benar-benar menakjubkan. Seharusnya aku mengajak Gia ke sini.
“Yud, jangan ke tengah. Bahaya!” Bayu memperingati.
Tubuh kami sudah basah. Aku dan Bayu masih dekat bibir pantai, sementara Yuda semakin menjauh.
“Ini belum ke tengah kok. Aku masih bisa menginjak pasirnya,” kilah Yuda. Padahal air sudah hampir menenggelamkan lehernya.
“Tetap saja, Yud. Leher kamu sudah hampir tenggelam.”
Aku ingin menyusul Yuda, tapi wajah khawatir Gia dan peringatan Bayu menahanku. Air laut terasa begitu menyegarkan, menggoda untuk menyelam lebih jauh.
“Kamu ingat kan, kalau minggu lalu ada orang hilang karena berenang terlalu ke tengah? Balik, Yud!” Bayu berseru lagi.
“Sekarang lagi tidak ada ombak, Bay.” Yuda tetap asyik.
Semakin lama tubuhnya makin tak terlihat karena terendam air. Bayu mulai gelisah. “Kal, Yuda bandel banget tidak bisa dikasih tahu. Balik yuk. Perasaanku kok tidak enak.”
Kami pun menepi. Saat menginjak pantai, langit masih cerah. Namun, tiba-tiba udara terasa lebih panas. Tak lama, gerimis turun. Hujan panas. Aku membalik badan. Laut tampak kosong. Semua orang bergegas ke tepi. Yuda tidak terlihat.
“Kal, kamu mau ngapain?” tanya Bayu saat aku melangkah ke bibir pantai. “Yuda mana?” tanyanya lagi.
“Kalian mau sampai kapan di situ? Ayo berteduh,” ajak Candra.
“Aku sudah buat kopi untuk kalian,” tambah Ihsan.
“Yuda tidak ada! Tadi dia masih berenang di tengah!” teriakku panik.
“Haikal, kamu jangan buat kita takut deh,” ujar Ihsan.
“Yuda!” Aku berteriak sekuat tenaga.
“YUDA!” Bayu ikut membahana.
“Kalian yakin tadi Yuda masih berenang di situ?” tanya Candra.
“Yakin banget. Dia berenangnya sama kita!” Bayu mulai emosional.
Awan berubah kelabu. Kilat menyambar, disusul guntur menggelegar. Kami spontan menutup telinga. Aku takut. Logika mendadak lumpuh. Berlari ke tengah mustahil dilakukan, terlalu berisiko. Candra dan Ihsan menyeretku serta Bayu ke tenda. Sesampainya di sana, seorang pria paruh baya datang.
“Permisi, Mas. Apa teman Mas barusan berenang ke tengah?” tanyanya.
“I-iya, Pak. Bagaimana bapak bisa tahu?”
“Saya dengar suara teriakan Mas barusan. Dan hujan panas dan guntur seperti ini hanya terjadi kalau ada orang hilang di laut, Mas. Pasti ada pengunjung yang melanggar peraturan tidak tertulis di pantai ini.”
Bulu kudukku meremang.
“Kita harus bagaimana, Pak?” tanya Candra.
“Ritual. Prosesi adat adalah satu-satunya jalan untuk membawa korban kembali ke pantai.”
“Lakukan, Pak. Lakukan apa pun yang penting teman kami kembali,” pinta Bayu.
Pria itu berjalan menuju gubuknya. Kami mengikuti. Di dalam, dupa dibakar. Buah-buahan tersusun rapi. Serabut kelapa berserakan di depan tempat duduknya. Ia duduk dan mulai merapal mantra.
Jujur saja, aku tidak suka ritual seperti ini. Bau dupa membuatku tidak nyaman. Namun, aku diam karena teman-temanku percaya. Katanya, upacara ini biasanya berhasil. Tiba-tiba terdengar suara gaib.
“Apa lagi yang mau kamu lakukan, Supri? Kenapa kamu selalu saja mengganggu tamu-tamuku? Dia datang dengan sukarela ke tempatku.”
“Kamu lihat anak-anak muda ini? Tamumu punya keluarga dan teman-teman yang mengkhawatirkannya, Sri. Bawa dia kemari,” titah pria tua itu.
“Bawa kemari katamu? Aku hanya bisa mengembalikan mereka yang datang dengan terpaksa, Supri. Kamu tahu itu, kan.”
“Terus sekarang aku harus bagaimana? Kamu lihat teman-teman dia sudah pucat seperti orang mati di sini.”
“Anak muda, dengar aku baik-baik. Teman kalian tidak bisa menjaga sikapnya dengan baik. Dia menginjak kaki salah satu anakku. Tidak hanya itu, dia juga kencing sembarangan! Pas kalian bikin tenda tadi, dia mengencingi rumah para jin. Dia juga menabrak anakku setelah selesai kencing sembarangan. Jadi, bagaimana bisa dia dimaafkan?”
Deg! Aku teringat Yuda sempat buang hajat sembarangan tadi. Kami tidak menyadari telah mengganggu makhluk lain.
“Kalian tahu? Teman kalian sudah masuk ke pasar jin. Dia masuk tanpa kupanggil. Jiwanya memang kotor, aku tidak heran kalau dia mau bergabung dengan jin-jin itu,” imbuh Sri.
“Aku akan melakukan ritual untuk menjemputnya,” ucap Supri.
“Lakukan apa pun sesukamu karena itu hanya akan sia-sia. Anak muda itu sudah terisap ke dasar laut dan bergabung dengan para jin. Di sini sangat ramai. Jangan mengganggu karena kami tidak segan-segan melakukan perhitungan bagi siapa pun yang merusak acara kami.”
Bau dupa bercampur kemenyan membuatku pusing. Asap terasa sengaja mengarah ke hidungku. Kepalaku semakin berat. Bayu dan Candra menggeleng, menepis asap di wajah mereka. Sri tertawa melengking. Suaranya seperti di film horor, tapi jauh lebih mengerikan karena terdengar nyata. Teman-temanku mengusap tengkuk, bulu roma mereka berdiri. Sementara itu, tubuhku melemas. Pandanganku kabur, napas tersengal.
Aku mendengar Candra dan Bayu berteriak memanggil namaku, mencoba menarik kesadaranku. Namun mataku sudah terpejam, dan dunia perlahan menjadi gelap.