Cerita Fiksi
Takdir dalam Seragam Putih
Lima belas tahun bukanlah waktu yang singkat bagi Aldi dan Fira. Bagi dua insan yang kini menyatu dalam ikatan pernikahan, angka itu adalah kumpulan tawa, tangis, dan perjuangan yang tak habis-habisnya.
Sambil melamun, ingatan Fira berkelana ke masa sekolah. Ia teringat betapa lucu dirinya dulu; hanya berani mencuri pandang ke arah Aldi dari depan kelas saat jam istirahat.
Kala itu, Aldi adalah 'King' di sekolahnya, anggota tim basket yang tampan dan memikat banyak gadis. Fira tidak pernah menyangka bahwa di saat yang sama, Aldi pun diam-diam mengamatinya dari kejauhan.
Fira tersenyum sendiri. Lalu ia meraih figura di atas nakas, menatap foto akad nikah mereka. Di sana, ia melihat dirinya 15 tahun lalu, anggun dalam balutan kebaya serba putih.
"Cantik," bisik Aldi saat itu.
Sebuah pujian sederhana yang membuat Fira merasa menjadi wanita paling spesial di dunia.
"Sedang apa, Sayang?"
Suara berat Aldi memecah lamunan Fira. Pria itu kini sudah duduk di sampingnya.
"Happy Anniversary," ucap Fira tulus, menyambut kehadiran suaminya dengan senyum hangat.
"Happy Anniversary juga untuk istriku yang cantik."
Aldi mengecup kening Fira lembut. Ia kemudian mengeluarkan sebuah kotak beludru merah berisi gelang yang indah.
Kejutan itu membuat Fira terperanjat; Aldi bukanlah tipe pria romantis yang rajin memberi hadiah. Tanpa kata, Fira langsung menghambur ke pelukan suaminya.
Namun, kebahagiaan itu segera terusik. Fira mendesis kesakitan, memegangi kepalanya.
Dengan sigap, Aldi mengambil obat di samping tempat tidur dan membantu istrinya meminumnya.
"Masih sakit?" tanya Aldi dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
Fira mencoba tersenyum, meski getir.
"Kamu harus mulai terbiasa, Mas. Sebentar lagi kamu akan sendirian."
Sejak kanker bersarang di tubuhnya, Fira telah sampai pada tahap pasrah. Namun tidak dengan Aldi.
Ia berjuang habis-habisan, menguras seluruh tabungan, dan mengerahkan segala kemampuannya sebagai dokter demi kesembuhan sang istri. Meski kondisi Fira sempat membaik enam bulan lalu, serangan rasa sakit seperti ini masih sering datang tanpa diundang.
****
Setelah Fira terlelap, Aldi memandangi figura yang tadi dipegang istrinya. Pikirannya melayang ke masa lalu.
Cinta monyet mereka saat SMP sempat terputus karena beda sekolah saat SMA. Tiga tahun mereka berpisah, menjalani hidup masing-masing, bahkan sempat singgah di hati yang lain.
Namun, takdir punya rencana sendiri. Mereka dipertemukan kembali di bangku kuliah, di jurusan yang sama: Pendidikan Kedokteran.
Di sanalah cinta lama itu bersemi kembali dengan lebih dewasa. Bagi mereka, patah hati di masa lalu adalah cara Tuhan menyelamatkan mereka dari orang yang salah, demi mempertemukan mereka pada "tujuan" yang tepat.
"Will you marry me?"
Pinangan Aldi kala itu dijawab Fira dengan anggukan mantap dan air mata bahagia. Lima bulan kemudian, mereka resmi menikah.
Wajah cantik Fira dalam gaun putih malam itu terekam abadi dalam ingatan Aldi, putih yang melambangkan awal baru.
****
Pukul 3 sore, Fira terbangun. Aldi tidak ada di sampingnya. Mungkin sedang menangani pasien, pikirnya.
Merasa bosan terus berbaring, Fira mencoba bangkit dan berjalan menuju jendela. Ia merindukan taman yang dulu ia rawat dengan tangannya sendiri sebelum penyakit ini merenggut kebebasannya.
Namun, baru beberapa menit berdiri, rasa sakit yang luar biasa menghantam kepalanya. Fira mencoba berteriak, tapi suaranya tercekat hingga ia jatuh pingsan.
Beruntung, Nelsi—perawat yang bertugas—segera menemukannya dan langsung menghubungi Aldi.
"Ra, bertahanlah. Kamu wanita kuat. Kamu pasti bisa," bisik Aldi berulang kali sambil mengecup punggung tangan istrinya yang pucat.
Melihat kondisi yang kritis, Aldi mengambil keputusan besar: ia akan mengoperasi istrinya sendiri.
Lima jam di ruang operasi terasa seperti keabadian. Meski sudah puluhan kali membedah pasien, kali ini tangan Aldi terasa berbeda.
Ada getaran ketakutan yang ia tekan dengan doa. Di sela-sela fokusnya, batinnya tak henti memanggil nama Tuhan.
"Ya Allah, hamba berserah pada ketetapan-Mu. Jika kepergian Fira adalah yang terbaik, buatlah hati ini ikhlas. Namun jika Engkau mengizinkan keajaiban, sembuhkanlah istri hamba..."
Operasi selesai. Rekan-rekan dokter—Fino, Jeremi, Dika, dan Husni—memeluk Aldi bergantian. Mereka telah melakukan segalanya yang manusia bisa lakukan. Kini, sisanya hanyalah kehendakNya.
****
Aldi masih setia menunggu di samping tempat tidur Fira saat efek bius mulai menghilang.
"Al-Aldi..." suara lirih itu membuat Aldi tersentak.
"Jangan banyak gerak dulu, Sayang. Kamu masih lemah," bisik Aldi lembut, matanya berkaca-kaca melihat istrinya membuka mata.
"Terima kasih... terima kasih sudah berjuang sampai detik ini," ucap Fira terbata.
Aldi pun memeriksa istrinya. Tanpa diduga, hasil menunjukkan sesuatu yang luar biasa. Kondisi Fira stabil dan menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang signifikan. Sebuah keajaiban telah terjadi di ruang operasi.
"Alhamdulillah," ucap Aldi syukur, masih mengenakan seragam dokter serba putihnya.
Fira tersenyum, menatap suaminya dengan penuh cinta.
"Kamu ingat kan, aku suka warna putih? Pas kamu melamar, aku pakai putih. Pas akad nikah, aku pakai putih. Dan sekarang, saat Allah memberiku kesempatan hidup kedua, kita berdua sama-sama pakai baju putih."
Hari itu, mereka belajar satu hal penting: Tugas manusia hanyalah berusaha dan berdoa tanpa henti. Karena di titik kepasrahan yang paling dalam, keajaiban seringkali lahir sebagai jawaban.