Cerita Misteri
Bayangan yang Mengetuk dari Dalam Dinding
Tidak ada yang aneh dengan rumah itu—setidaknya, begitulah yang Ardi pikirkan saat pertama kali pindah. Rumah kecil di ujung gang itu tampak sederhana, dengan cat putih yang mulai menguning dan jendela-jendela tua yang berderit setiap kali dibuka. Harganya murah, jauh di bawah pasaran, dan bagi Ardi yang baru saja kehilangan pekerjaannya, itu seperti keberuntungan yang datang tanpa diminta.
Tetapi keberuntungan jarang datang tanpa harga.
Malam pertama, Ardi tidur tanpa gangguan. Ia terlalu lelah untuk memperhatikan suara-suara kecil yang mungkin muncul. Namun, pada malam kedua, ketika hujan turun tipis di luar dan angin menggesek dedaunan, ia mendengar sesuatu.
Tok... tok... tok...
Suara itu pelan, seperti ketukan jari di permukaan kayu.
Ardi membuka mata. Ia menahan napas, mencoba memastikan apakah suara itu nyata atau hanya imajinasinya. Rumah itu sunyi, kecuali suara hujan yang semakin deras. Ia hampir kembali memejamkan mata ketika suara itu terdengar lagi.
Tok... tok... tok...
Kali ini lebih jelas.
Ardi bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan perlahan menuju dinding di samping ranjangnya. Tidak ada apa-apa di sana, hanya cat putih yang retak di beberapa bagian. Ia mengetuk balik, setengah bercanda.
“Siapa di sana?” gumamnya.
Tidak ada jawaban.
Ia menggeleng, merasa bodoh, lalu kembali ke tempat tidur. Namun, ketika ia hampir tertidur, suara itu kembali terdengar—lebih cepat, lebih mendesak.
Tok-tok-tok-tok!
Ardi menutup telinganya dengan bantal. “Cuma suara rumah tua,” bisiknya pada diri sendiri. “Kayu memuai, atau pipa... ya, pasti pipa.”
Namun, jauh di dalam dirinya, ada sesuatu yang terasa tidak beres.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan tenang. Tidak ada ketukan di siang hari. Bahkan, Ardi mulai berpikir bahwa malam itu hanyalah halusinasi karena kelelahan.
Sampai malam ketujuh.
Ia terbangun tepat pukul tiga pagi. Tidak ada suara hujan kali ini. Tidak ada angin. Hanya keheningan yang pekat.
Dan kemudian—
Tok...
Satu ketukan.
Ardi menatap dinding itu.
Tok... tok...
Dua ketukan.
Ia bangkit, kali ini dengan jantung berdebar lebih cepat. Ada sesuatu yang berbeda. Suara itu tidak lagi terdengar seperti dari dalam kayu, melainkan… dari baliknya.
Seolah-olah ada ruang lain di sana.
“Ini nggak lucu,” katanya pelan.
Ia mendekat, menempelkan telinganya ke dinding.
Dan ia mendengarnya.
Suara napas.
Pelan. Berat. Seperti seseorang yang sedang berusaha tidak bersuara.
Ardi terlonjak mundur. Tubuhnya gemetar. Ia menatap dinding itu, berharap apa yang ia dengar barusan hanyalah ilusi.
Namun kemudian, suara itu datang lagi—bukan ketukan.
Melainkan bisikan.
“...tolong...”
Ardi membeku.
Suara itu lemah, seperti berasal dari seseorang yang sudah lama tidak berbicara.
“...buka...”
“Si-siapa kamu?” Suara Ardi bergetar.
Tidak ada jawaban langsung. Hanya suara gesekan, seperti sesuatu yang bergerak di balik tembok.
Lalu—
Tok-tok-tok!
Kali ini keras, tergesa-gesa.
“Buka!”
Ardi mundur semakin jauh, sampai punggungnya menyentuh lemari. Ia tidak tahu harus percaya atau tidak. Logikanya mengatakan bahwa tidak mungkin ada orang di dalam dinding. Tapi telinganya mendengar jelas.
Dan hatinya—hatinya mengatakan sesuatu yang lebih buruk.
Bahwa itu bukan manusia.
Keesokan harinya, Ardi mencoba melupakan semuanya. Ia keluar rumah, berjalan-jalan, bahkan mengunjungi tetangga terdekat, seorang pria tua bernama Pak Rahmat.
“Pak, rumah saya itu... sebelumnya siapa yang tinggal di sana?” tanya Ardi dengan hati-hati.
Pak Rahmat menatapnya lama, seolah mempertimbangkan sesuatu.
“Kamu dengar sesuatu, ya?” tanyanya akhirnya.
Ardi terdiam.
Pak Rahmat menghela napas. “Sudah kuduga.”
“Memangnya kenapa, Pak?”
“Rumah itu... dulu milik seorang wanita. Hidup sendiri. Orang-orang bilang dia aneh. Jarang keluar rumah. Tapi suatu hari, dia menghilang.”
“Menghilang?”
“Ya. Polisi datang, tapi tidak menemukan apa-apa. Tidak ada tanda-tanda dia pergi. Tidak ada barang yang hilang. Seolah-olah... dia lenyap begitu saja.”
Ardi menelan ludah.
“Dan sejak itu,” lanjut Pak Rahmat pelan, “orang-orang mulai mendengar ketukan dari dalam rumah itu.”
Malam itu, Ardi tidak bisa tidur.
Ia duduk di sudut ruangan, menatap dinding dengan lampu menyala terang. Ia bertekad untuk tidak terkejut lagi, untuk menghadapi apa pun yang ada di sana.
Pukul tiga pagi tiba.
Dan seperti yang ia duga—
Tok...
Ketukan pertama.
“Kalau kamu memang ada di sana,” kata Ardi dengan suara tegas, meski tangannya gemetar, “tunjukkan dirimu.”
Hening sejenak.
Lalu—
Tok... tok... tok...
Ketukan itu berubah pola. Seperti kode.
Ardi memperhatikan dengan saksama. Ia pernah membaca tentang kode morse, dan entah kenapa, pola itu terasa seperti pesan.
Pendek. Panjang. Pendek.
Ia meraih ponselnya, mencoba menerjemahkan.
Dan jantungnya berhenti ketika ia menyadari artinya.
“DI DALAM.”
Ardi perlahan menoleh ke dinding.
“Di dalam... apa?”
Tidak ada jawaban.
Namun kemudian, suara retakan terdengar.
Krakk...
Cat di dinding itu mulai mengelupas. Garis retak muncul, membentuk sesuatu yang tidak wajar. Seperti... jari.
Dari dalam.
Ardi menjerit dan mundur, tapi ia tidak bisa berpaling. Dinding itu bergerak. Sesuatu mendorong dari baliknya.
Dan kemudian—
Sebuah tangan muncul.
Pucat. Kurus. Tidak manusiawi.
Jari-jarinya panjang dan kaku, mencakar permukaan dinding seperti mencoba keluar dari dunia lain.
“...buka...” Suara itu kembali, kini lebih jelas. Lebih dekat.
Ardi terjatuh ke lantai. Ia ingin lari, tapi tubuhnya tidak bergerak.
Tangan itu semakin keluar. Diikuti oleh sesuatu yang lebih besar—bayangan yang tidak memiliki bentuk pasti.
Ia tidak tahu berapa lama ia terdiam di sana.
Sampai akhirnya—
Ketukan itu berhenti.
Semuanya berhenti.
Dinding kembali normal. Tidak ada retakan. Tidak ada tangan. Tidak ada suara.
Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Keesokan paginya, Ardi sudah tidak ada di rumah itu.
Tetangga-tetangga bilang ia pergi tanpa pamit. Tidak membawa banyak barang. Tidak meninggalkan pesan.
Namun, beberapa malam setelah itu, Pak Rahmat mulai mendengar sesuatu dari rumah kosong itu.
Tok... tok... tok...
Dan kali ini, bukan hanya satu suara.
Ada dua.
Satu dari dalam dinding.
Dan satu lagi—
menjawab dari luar.