Cerita Misteri
Surat yang Ditulis oleh Diriku di Masa Depan
Hujan turun sejak sore, meninggalkan jejak air yang mengalir pelan di kaca jendela kamarku. Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada suara kendaraan, tidak ada suara orang berbicara; seolah dunia sengaja diam untuk memberi ruang pada pikiranku yang berisik.
Aku baru saja pulang kerja ketika menemukan sesuatu yang aneh di meja. Sebuah amplop berwarna krem, sedikit kusut di bagian ujungnya, dengan namaku tertulis di bagian depan. Tulisan tangan itu… anehnya sangat familiar. Itu tulisanku. Aku yakin sekali. Bentuk huruf “A” yang sedikit miring, cara menulis “r” yang tidak sempurna, semuanya identik dengan caraku menulis. Tapi aku tidak pernah menulis surat seperti ini sebelumnya. Dan yang lebih aneh lagi, tidak ada cap pos, tidak ada alamat pengirim.
Dengan rasa penasaran yang mulai bercampur dengan kegelisahan, aku membuka amplop itu perlahan. Di dalamnya ada selembar kertas. Aku menarik napas panjang sebelum mulai membaca.
Untuk diriku di masa lalu,
Jika kamu membaca ini, berarti semuanya sudah berjalan seperti yang seharusnya. Aku tahu kamu akan bingung, mungkin juga takut. Tapi tolong, jangan berhenti membaca. Aku adalah kamu. Versi dirimu yang hidup sepuluh tahun lebih lama dari saat ini.
Aku tidak tahu bagaimana surat ini bisa sampai ke tanganmu atau lebih tepatnya, ke tanganku di masa lalu. Tapi jika ada satu hal yang kupelajari selama sepuluh tahun terakhir, adalah bahwa waktu tidak selalu berjalan lurus seperti yang kita kira. Aku menulis ini karena ada hal yang harus kamu ubah.
Aku berhenti sejenak. Jantungku berdetak lebih cepat. Ini pasti lelucon. Atau mungkin seseorang mencoba mengerjaiku. Tapi tulisan ini benar-benar tulisanku. Aku melanjutkan membaca, tanganku sedikit gemetar.
Kamu ingat tanggal 17 Oktober tahun ini? Hari itu terlihat biasa saja. Kamu akan bangun, pergi bekerja, pulang seperti biasa. Tapi di malam hari, kamu akan menerima sebuah telepon dari nomor yang tidak dikenal. Jangan diangkat. Apa pun yang terjadi, jangan jawab panggilan itu.
Aku tahu kamu akan penasaran. Aku tahu kamu akan berpikir, “Apa sih yang bisa terjadi hanya dari satu panggilan telepon?” Aku dulu juga berpikir begitu. Dan itu adalah kesalahan terbesarku.
Aku menelan ludah. Tanggal 17 Oktober… itu tinggal tiga hari lagi. Aku membaca lebih cepat sekarang.
Setelah kamu mengangkat telepon itu, semuanya akan berubah. Awalnya tidak terasa. Hanya percakapan singkat. Seseorang yang mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal. Tapi sejak saat itu, kamu akan mulai melihat hal-hal yang seharusnya tidak ada. Bayangan yang tidak mengikuti gerakanmu. Suara yang memanggil namamu saat tidak ada siapa pun di sekitar.
Dan yang paling buruk, kamu akan mulai kehilangan waktu. Hari-harimu akan terasa seperti potongan-potongan yang hilang. Kamu akan lupa apa yang kamu lakukan, lupa bagaimana kamu sampai di suatu tempat. Dan semakin lama, kamu akan kehilangan lebih banyak dari dirimu sendiri.*
Tanganku terasa dingin. Aku refleks melihat sekeliling kamar. Semuanya masih sama. Tidak ada yang aneh. Tapi kata-kata itu terasa terlalu nyata untuk diabaikan.
Jika kamu ingin tahu apakah ini benar, ada satu hal yang bisa kamu cek. Lihat laci kedua di meja kerjamu. Di sana ada sebuah buku kecil yang sudah lama tidak kamu buka. Buka halaman terakhirnya. Aku akan menulis sesuatu di sana, sesuatu yang belum kamu tulis.
Aku langsung berdiri. Tanpa berpikir panjang, aku menuju meja kerja di sudut kamar. Tanganku gemetar saat membuka laci kedua. Benar saja. Ada buku kecil berwarna hitam yang sudah lama tidak kusentuh. Aku membukanya perlahan, menuju halaman terakhir. Dan di sana ada tulisan tanganku. Tapi bukan aku yang menulisnya.
“Jangan angkat telepon itu. Aku sudah mencoba segalanya, dan ini satu-satunya cara.”
Aku mundur satu langkah, hampir menjatuhkan buku itu. Pikiranku kosong. Ini tidak mungkin. Aku kembali ke surat itu dengan napas tersengal.
Sekarang kamu sudah percaya, bukan? Bagus. Karena ini bagian terpentingnya. Kamu mungkin berpikir bahwa dengan tidak mengangkat telepon itu, semuanya akan selesai. Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Panggilan itu akan datang lagi. Dan lagi.
Setiap kali kamu menolak, sesuatu akan berubah di sekitarmu. Hal-hal kecil pada awalnya. Jam yang berhenti sesaat. Bayangan yang terlambat bergerak. Suara yang terdengar seperti berasal dari dalam kepalamu sendiri. Jangan panik. Selama kamu tidak menjawabnya, kamu masih aman.
Tapi ada satu hal yang harus kamu lakukan. Pada malam tanggal 20 Oktober, tepat pukul 03.00, kamu harus keluar dari rumah. Pergi ke tempat pertama yang terlintas di pikiranmu saat membaca ini. Jangan pikirkan terlalu lama. Tempat itu penting. Aku tidak bisa menjelaskan kenapa. Aku juga tidak mengerti sepenuhnya. Tapi itu adalah satu-satunya titik di mana semuanya bisa dihentikan.
Jika kamu gagal, maka kamu akan menjadi aku.
Aku berhenti membaca. Keringat dingin mengalir di pelipisku. Menjadi dia? Versi diriku di masa depan yang menulis surat ini, yang terdengar seperti hidup dalam ketakutan? Aku menatap kalimat terakhir di surat itu.
Aku tahu ini terdengar gila. Tapi aku tidak punya waktu lagi. Jika kamu ingin tetap menjadi dirimu sendiri, percayalah pada surat ini. Dan apa pun yang terjadi, jangan pernah menjawab telepon itu.
—Dirimu di masa depan.
Aku menjatuhkan surat itu ke meja. Kamar terasa lebih sempit. Udara terasa lebih berat. Tiga hari lagi. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa ini semua hanya kebetulan yang aneh. Tapi tulisan di buku itu tidak bisa dijelaskan.
Tiba-tiba, ponselku bergetar di atas meja. Aku menoleh perlahan. Layar ponsel itu menyala. Nomor tidak dikenal. Jantungku seperti berhenti berdetak. Aku teringat isi surat itu: “Jangan diangkat.”
Getaran itu terus berlanjut. Suaranya terdengar lebih keras dari seharusnya. Tanganku bergerak perlahan mendekati ponsel. Berhenti. Aku menahan napas. Getaran itu berhenti. Layar kembali gelap. Aku menghela napas panjang, hampir lega.
Tapi kemudian layar itu menyala lagi. Kali ini tanpa suara. Tanpa getaran. Hanya satu kalimat muncul di layar:
“Aku tahu kamu membaca surat itu.”