Cerita Misteri
Mata yang Mengintip dari Dalam Air
Air di desa itu selalu tampak tenang. Terlalu tenang, bahkan bagi mereka yang sudah terbiasa hidup berdampingan dengan sungai sejak lahir. Sungai yang membelah desa itu dikenal dengan nama Sungai Lembayung. Bukan karena warnanya merah seperti senja, melainkan karena kabut tipis yang sering muncul di permukaannya saat pagi hari, menciptakan bayangan seperti warna lembayung yang samar.
Arga tidak pernah benar-benar percaya pada cerita-cerita lama tentang sungai itu. Baginya, semua itu hanya cara orang tua menakut-nakuti anak-anak agar tidak bermain terlalu jauh. Tapi semuanya berubah sejak malam itu, malam ketika ia melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada.
Malam itu, Arga pulang terlambat dari kota. Motor tuanya melaju pelan melewati jalan tanah yang gelap, hanya diterangi lampu depan yang redup. Udara dingin menggigit kulit, dan suara jangkrik terdengar lebih nyaring dari biasanya. Saat melewati jembatan kayu yang melintang di atas Sungai Lembayung, motornya tiba-tiba mati.
“Ah, sial…” gumamnya pelan.
Ia turun, mencoba menyalakan kembali mesin, tapi tidak berhasil. Dengan terpaksa, ia menuntun motor ke tepi jembatan. Saat itulah ia mendengar suara.
Plung.
Seperti sesuatu jatuh ke dalam air. Arga menoleh ke arah sungai. Airnya gelap, hampir seperti cermin hitam yang menelan cahaya bulan. Ia mengerutkan kening. “Mungkin ikan,” pikirnya.
Namun, beberapa detik kemudian, suara itu terdengar lagi. Plung. Kali ini lebih dekat. Arga merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia melangkah mendekat ke pagar jembatan dan menunduk, mencoba melihat ke dalam air. Awalnya tidak ada apa-apa, hanya gelap. Namun perlahan, sesuatu muncul.
Sepasang mata.
Mata itu terbuka lebar dari dalam air, menatap lurus ke arahnya. Tidak berkedip. Tidak bergerak. Hanya menatap. Arga tertegun. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah pantulan, mungkin ilusi dari cahaya bulan. Tapi mata itu terlalu jelas, terlalu nyata. Dan yang membuatnya semakin takut, mata itu berada di dalam air, bukan di permukaan. Seolah-olah ada seseorang, atau sesuatu, yang mengintip dari kedalaman.
Arga mundur dengan cepat, hampir terjatuh. Napasnya memburu. “Tidak… ini tidak mungkin…”
Ia segera menuntun motornya menjauh dari jembatan. Anehnya, begitu ia menjauh beberapa meter, mesin motor tiba-tiba bisa menyala kembali. Tanpa berpikir panjang, Arga langsung tancap gas menuju rumah. Malam itu, ia tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, bayangan sepasang mata itu muncul lagi. Dingin dan kosong, tapi penuh dengan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Keesokan harinya, Arga mencoba menceritakan kejadian itu kepada Pak Wiryo, tetua desa yang dikenal sebagai penjaga cerita-cerita lama. Pak Wiryo diam lama setelah mendengar cerita Arga.
“Apa matanya… terlihat seperti manusia?” tanyanya pelan. Arga mengangguk ragu. Pak Wiryo menghela napas panjang. “Kau tidak boleh kembali ke sungai itu sendirian.”
“Kenapa, Pak?” Arga mulai gelisah.
“Itu bukan pertama kalinya seseorang melihatnya,” jawab Pak Wiryo. “Dulu, ada anak kecil yang hilang di sungai itu. Tidak pernah ditemukan. Sejak saat itu, beberapa orang mengaku melihat sesuatu di dalam air. Mata yang mengintip.”
Arga menelan ludah. “Maksud Bapak… itu arwah?”
Pak Wiryo menggeleng pelan. “Kalau hanya arwah, seharusnya tidak akan tetap di sana selama ini.”
Ucapan itu membuat Arga semakin tidak tenang. Hari-hari berikutnya, ia berusaha melupakan kejadian itu. Namun, sesuatu mulai berubah. Ia mulai mendengar suara air, bahkan saat tidak berada di dekat sungai. Di malam hari, suara itu terdengar jelas dari dalam kamarnya.
Plung. Plung.
Seperti sesuatu terus jatuh ke dalam air. Suatu malam, ia terbangun karena suara itu terdengar sangat dekat. Dengan jantung berdebar, Arga bangkit dari tempat tidur. Lantai kamarnya basah. Air merembes dari bawah pintu. Dengan tangan gemetar, ia membuka pintu perlahan. Lorong rumahnya tergenang air. Dan di ujung lorong itu, genangan air tampak lebih dalam, seperti sebuah kolam kecil.
Arga berdiri membeku. Dari dalam air itu, sesuatu bergerak. Lalu perlahan, muncul lagi sepasang mata. Sama seperti yang ia lihat di sungai. Mata itu kini berada di dalam rumahnya. Menatapnya. Lebih dekat dan lebih jelas. Dan kali ini, Arga bisa melihat sesuatu yang lain: sebuah wajah.
Namun wajah itu tidak sepenuhnya manusia. Kulitnya pucat kebiruan, seperti telah lama terendam air. Rambutnya melayang-layang seolah masih berada di dalam sungai. Mulutnya terbuka perlahan, dan dari dalamnya keluar air yang terus mengalir tanpa henti. Arga ingin berteriak, tapi suaranya tidak keluar.
Makhluk itu mulai naik perlahan dari dalam air, seolah tertarik oleh sesuatu, atau oleh seseorang. Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu menarik kakinya. Arga menunduk. Air di lantai kini telah mencapai betisnya. Dan dari dalam air, tangan-tangan pucat mulai muncul, mencengkeram kakinya. Ia berusaha melawan, tapi semakin ia bergerak, semakin kuat tarikan itu.
Makhluk bermata itu kini hampir sepenuhnya keluar dari air. Dan ia tersenyum. Senyum yang terlalu lebar untuk wajah manusia. Sebelum semuanya menjadi gelap, Arga mendengar satu suara terakhir. Bukan dari luar, melainkan dari dalam kepalanya sendiri.
“Sekarang… kau bisa melihat kami dari dalam.”
Keesokan paginya, warga desa menemukan rumah Arga kosong. Namun lantainya basah, seperti baru saja kebanjiran. Dan di dalam ember air di dapur, beberapa orang bersumpah melihat sesuatu: sepasang mata, mengintip diam-diam dari dalam air.