Cerita Misteri

Perempuan Muda Bermata Kosong yang Menghilang di dalam Kabin Truk Samsuri

Perempuan Muda Bermata Kosong yang Menghilang di dalam Kabin Truk Samsuri
ilustrasi cerpen Perempuan yang Menghilang (Unsplash/Muhammad Ruqi Yaddin)

Para driver truk ekspedisi antarprovinsi umumnya selalu memiliki keluh kesah yang menjadi ajang diskusi dalam tongkrongan mereka. Baik seputar gonjang-ganjing dunia, harga minyak yang terancam naik imbas perang, pejabat dan aparat yang lucu, keluh kesah pasangan, hingga keruwetan duniawi karena ditekan inflasi dan hukum yang nggak memadai. Namun, ada satu bahasan horor misteri yang ternyata mampu keluar dari mulut para driver truk ekspedisi.

Kisah ini dituturkan oleh Pak Riyanto, salah satu kawan Bapak yang melihat suatu entitas gaib di dalam kabin truk driver lain. Begini kisahnya.

Azan magrib berkumandang, dan petang datang membayang. Para driver truk melepas penat sambil duduk di dipan lusuh warung kopi. Sebagian bergantian pergi sembahyang ke musala kecil terdekat.

“Ah, apes! Niat mengikuti Google Maps, malah nyasar ke jalan tikus!” gerutu salah satu driver.

“Makanya, setel dulu ke kendaraan besar. Oh iya, situ kan gaptek!”

Riyanto yang baru kembali dari musala pun segera memesan seporsi soto ayam di warung, mengabaikan celetukan para driver yang lantas pergi ke musala. Sambil sesekali membalasi pesan-pesan dari istrinya. Hingga Samsuri datang sambil menghela napas panjang.

“Kenapa, Sam?” tanya Riyanto penasaran. “Kena palak preman? Atau nyasar jalan?”

“Bukan, Lek.”

“Lalu apa?”

Samsuri memijat pelipisnya sambil memejamkan mata. “Lek, ternyata laki-laki itu berat tanggung jawabnya. Wajib bekerja, harus tanggung kehidupan anak istri, pun harus mampu menundukkan pandangan ketika kita jauh dari istri begini.”

“Belum lagi kalau duit belanja kurang, siap-siap diomeli istri,” imbuh Riyanto.

Riyanto tak kuasa menahan tawa sewaktu melihat mata Samsuri memerah, dan air mata siap menetes. Sebagai rekan yang berusia lebih tua, Riyanto pun memberikan wejangan sekaligus dukungan dan semangat. Apalagi, mereka ini hanyalah rakyat biasa yang bekerja sebagai buruh, bukannya pejabat yang duduk di kursi empuk dan ruangan ber-AC.

“Ah, mana perutku mulas lagi!” gerutu Samsuri. “Kayaknya air rebusan kopi di Kabupaten G tadi nggak mendidih deh. Diare aku!”

Riyanto kembali tergelak melihat Samsuri langsung ngacir ke toilet. “Awas, pingsan!” pekiknya yang diacungi jari tengah oleh Samsuri.

Setelahnya, Riyanto segera menikmati soto ayam dengan lahap. Perutnya sudah keroncongan karena harus menahan lapar seharian ini.

“Apa ini? Merinding? Memangnya dedemit berani muncul di tempat ramai begini?” gumam Riyanto seraya menyentuh tengkuk.

Tempat yang menjadi lokasi parkir truk-truk ekspedisi ini nggak pernah senyap. Selain karena hanya berjarak beberapa kilo dari pabrik semen bertaraf nasional sekaligus wilayah industri, di sini juga berdiri warung-warung makan, dan para driver yang silih berdatangan. Beberapa kilometer juga terdapat permukiman masyarakat dan juga tambak-tambak karena memang berdekatan dengan laut utara Jawa.

“Halah! Paling juga perasaanku saja.”

Riyanto lantas memandangi beberapa truk ekspedisi yang masih ditinggal istirahat oleh driver-nya. Ada unit yang dia kendarai, dan unit yang dikendarai oleh Samsuri yang terparkir bersisian. Tiba-tiba, pintu truk unit Samsuri terbuka.

“Wah, Samsuri edan! Sudah beristri tapi masih ngajak main perempuan?!”

Riyanto memelototkan mata kala ada sosok perempuan muda yang turun dari kabin truk Samsuri. Perempuan itu bertubuh langsing, berkulit kuning langsat, berambut lurus panjang sepinggang, dan mengenakan gaun terusan selutut. Ada aroma melati ringan yang menguar di udara. Dan, perempuan itu berjalan beberapa langkah sambil bersenandung gembira, dengan kaki polos tanpa alas.

Kala Riyanto ingin beranjak untuk menyelidiki, tubuhnya serasa kaku. Dia tidak bisa bergerak. Terutama saat perempuan cantik yang dilihatnya itu tampak celingak-celinguk, tertawa kecil, hingga matanya yang hitam kosong tanpa jiwa bertemu dengan mata Riyanto. Setelahnya, perempuan misterius itu kembali ke dalam kabin truk Samsuri dan menutup pintu.

“Lek, makan kok sambil bengong?” sapa Samsuri sambil menepuk pundak Riyanto.

“Eh, apa?! Enggak! Tadi aku kepikiran istriku pengin beli rice cooker baru,” kata Riyanto menghindar. “Eh, Sam. Kamu bawa istrimu kemari, ya?”

Samsuri menggeleng. “Nggak, Lek. Istriku di rumah ada kerjaan menjahit. Kenapa?”

“Oh, nggak. Eh, atau kamu bawa saudaramu?”

Samsuri menggeleng heran. Yang justru membuat Riyanto kian merinding. Namun, lelaki itu mencoba menyembunyikan kengeriannya. “Eh, ada bawa cas? Boleh kupinjam?”

“Iya, Lek. Ada di dalam kabin truk. Ini kuncinya,” ucap Samsuri seraya mengulurkan kunci pintu truk.

Riyanto menerima kunci itu dengan jantung berdentam-dentam. Dia segera mendekati unit truk Samsuri dan mencoba membuka pintunya tanpa kunci. “Lho, pintunya terkunci? Lha tadi itu apa? Masa halusinasiku?”

Setelahnya, Riyanto baru menggunakan kunci dan masuk ke dalam kabin truk Samsuri untuk mencari tahu. Bukannya segera mencari cas yang jelas tergeletak di jok penumpang, Riyanto sibuk memeriksa setiap inci ruang kabin. Dia ingin menemukan sosok perempuan misterius bermata kosong tadi. Namun, nihil. Tak ada apa-apa kecuali barang-barang milik Samsuri.

“Wah, betulan demit,” bisik Riyanto lirih yang disusul angin semilir menjalari tengkuknya. Dia cepat-cepat turun seraya berlari menghampiri Samsuri.

“Kenapa, Lek? Kok takut begitu?” tanya Samsuri heran. “Oh, tadi lihat sempak kotorku, ya?!”

“Ah, tai! Sempak kotor bukannya dicuci malah digantung begitu. Busuk!”

Samsuri tergelak heboh. Sedangkan Riyanto mencoba tertawa meskipun pikirannya kembali pada sosok perempuan misterius tadi. Entahlah.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda