Cerita Misteri
Perempuan Bergaun Kuning yang Duduk di Atap Rumah Lek Salim
Gimana reaksimu ketika mendapati ada sosok perempuan misterius, dengan wajah tertutup rambut sedang nongkrong santai di atap rumah pada malam hari?
Hal ini dialami oleh Ibuk, di suatu malam ketika memetik sayuran untuk campuran mi goreng. Begini kisahnya.
“Perutku lapar deh. Mana nasi sama lauk pada habis,”
Ibuk terbangun dari tidur, dan mendapati ini masih jam sepuluh malam. Ketiga anaknya sudah terlelap. Si sulung dan anak tengah mungkin kelelahan bekerja, sedangkan si bungsu puyeng dengan materi matematika. Sang suami masih berada dinas di luar kota.
Kebetulan, stok nasi dan lauk pauk hari ini sudah habis. Tumis kangkung bumbu belacan dan ayam goreng tepung sukses membuat ludes nasi. Namun, entah mengapa malam ini Ibuk malah terbangun dengan perut keroncongan. Suatu anomali.
“Bikin mi goreng saja kali ya?”
Ibuk ingat masih memiliki beberapa stok mi instan di rak dapur. Jadilah beliau menuju dapur dan mulai merebus air.
“Kasih sayur boleh lah ya. Toh tinggal petik di luar.”
Ibuk sendiri memiliki hobi berkebun, yang mana ada beragam tanaman di halaman belakang rumah. Ada cabai, tomat, empon-empon meliputi: kunyit, kencur, bawang dayak, lengkuas, jahe, dan lainnya. Ada juga beberapa sayuran seperti; kangkung, bayam, kemangi, hingga sawi pakcoy. Jadilah, malam itu beliau dengan percaya diri membuka pintu dapur guna memetik sayuran.
“Hawanya dingin sekali. Apa karena gerimis ini ya?”
Malam ini, gerimis kecil turun seolah senandung hari. Mengirimkan hawa dingin yang aneh. Semilirnya berembus di tengkuk Ibuk. Seakan memperingati ada sesuatu, malam itu.
“Wangi kenanga?”
Ibuk mengernyitkan dahi kala mencium aroma wangi bunga kenanga. Semula tercium tipis, kemudian tercium kuat nan pekat. Seakan-akan ada bunga kenanga di depan hidung.
“Setan mana lagi yang main ini?” tanya Ibuk tidak peduli. Iya, orang ini memiliki kadar keberanian yang tinggi.
Ibuk tetap pada tujuan utamanya untuk memetik sayur, kali ini memetik sawi pakcoy yang subur. Sementara aroma kenanga itu masih tercium pekat. Diiringi dengan suara tangis lirih seorang perempuan. Suaranya lirih, sedikit pedih, dan terdengar perih.
Ibuk mengangkat pandangannya, ke asal suara. Tepatnya arah rumah Lek Salim yang terletak di timur rumah kami.
“Nggak usah nangis. Kamu sudah mati. Sudah nggak mikir cicilan atau julidan tetangga,” kata Ibuk datar.
Asli, kalau aku ada di posisi Ibuk, aku pasti bakal lari tunggang langgang. Atau minimal membeku di tempat sih.
Kedua mata Ibuk terpaku pada sesosok perempuan bergaun kuning gading selutut yang duduk di sudut atap rumah Lek Salim. Perempuan itu bertubuh langsing, dengan kulit pucat seperti orang mati. Rambut hitam panjang tampak menutupi wajah, sehingga tidak ada ekspresi yang terlihat.
Perempuan itu semula menggoyang-goyangkan kaki telanjangnya, seakan sedang bermain atau bersantai. Hingga kemudian terdiam. Dengan arah badan yang kini menghadap ke arah Ibuk sepenuhnya.
“Apa? Mau bantu petik sayur?” Ibuk menunjukkan sawi pakcoy yang barusan dipetik. “Pergi sana. Jangan nangis di sini. Aku sudah capek sama kerjaan rumah, jangan bikin makin capek sama suaramu yang cempreng itu.”
Perempuan itu masih memandang ke arah Ibuk, lengkap dengan aroma bunga kenanga yang semakin pekat saja. Beberapa saat kemudian, sosoknya perlahan menjadi kepulan asap putih sebelum lenyap. Setelah itu, Ibuk kembali berkutat dengan mi goreng miliknya.
“Kenapa nggak lari saja, Buk? Itu demit!” kataku nggak habis pikir. “Jadi orang kok kendel (berani) amat!”
Ibuk terkekeh pagi itu sambil menyesap kopi. “Kalau kita takut, wangsa lelembut macam mereka bakal makin suka menggoda. Makanya kita harus lebih berani.”
“Ibuk nggak merinding apa, lihat sosoknya? Rambutnya ke depan semua kan?” tanyaku memastikan. “Apa iya kuntilanak?”
“Kuntilanak bukannya pakai gamis putih? Yang di atap rumah Lek Salim itu kan gaunnya kuning gading.”
Aku meneguk milk tea sebelum berkomentar. “Mungkin kuntilanak spesies lain?”
“Halah. Palingan juga penghuni tanahnya Lek Salim. Dari pemilik pertama dulu, tanah itu sudah wingit. Sebutannya saja tanah garit.”
“Tanah garit apaan, Buk?” tanyaku tidak paham. “Istilah mana lagi itu?”
Ibuk tersenyum tipis. “Intinya, tanah yang wingit sekali.”
Setahuku, wingit berarti angker alias banyak dihuni makhluk halus. Jadi, kalau tanah milik Lek Salim yang mencakup rumah, pekarangan rumah, hingga kebun belakangnya disebut tanah garit, artinya tanah itu angker sekali.
Tanah seluas ribuan meter persegi itu semula dimiliki oleh Mbah Sum dan suaminya, Mbah Bin. Di lokasi tersebut, mereka banyak menanam pohon-pohon seperti nangka, mahoni, dan aneka tanaman buah. Mbah Sum juga memelihara banyak unggas seperti angsa, ayam, maupun bebek. Namun, sepeninggal Mbah Bin, Mbah Sum kian sakit-sakitan sebelum menyusul tak lama kemudian.
Tanah luas itu lantas dijual oleh anaknya sebelum pergi menetap di kota. Semula, tanah itu dibeli oleh seorang polisi. Namun, tak lama kemudian tanah itu dijual kembali dan dibeli oleh Lek Salim, sebelum membangun rumah yang kini beliau tempati.
“Kira-kira, Lek Salim tahu atau nggak ya kalau tanahnya itu tanah garit?” gumamku bertanya-tanya hingga hari ini.