Cerita Misteri

Tumbi Jatuh Cinta

Tumbi Jatuh Cinta
Tumbi Jatuh Cinta (ChatGPT/AI)

Jika aku menampakkan wujud di hadapan manusia, mereka kerap menyangka aku bocah tersesat, atau terpisah dari orang tua yang abai ketika tengah jalan-jalan di pasar malam. Kemudian mereka akan sibuk menanyaiku, menenangkan, atau berusaha menghibur dengan aneka makanan dan minuman, sembari ribut mencari-cari orang tuaku. Dan aku menikmati situasi itu.

Aku akan memasang tampang sedih selama yang aku mau. Sesekali merengek, merintih, menangis. Ketika upaya mencari orang tua--yang tentu saja tak pernah ada--telah buntu, selalu ada di antara mereka yang sukarela menampungku untuk sementara di rumahnya. Atau, yang paling mudah, mengantarku ke kantor polisi terdekat. Biasanya jika sampai di titik itu aku telah kenyang dan puas. Kedua pasang taringku mencuat dari bibir, bola mata menonjol keluar, dan bau busuk mengambang di sekitarku. Saat itulah, manusia-manusia yang terkecoh itu akan menjerit, takut dan ngeri luar biasa. 

"Setaaaan!" Mereka langsung bubar pasar.

"Hihihihihihihi...." Aku mengikik panjang, dan lama, sembari melayang pergi. 

Manusia memang makhluk seperti itu, gampang ditebak, mudah dipermainkan. Aku bosan. Sudah waktunya pulang ke rumahku. Ah, lebih tepatnya rumah manusia yang aku tumpangi selama satu dasawarsa ini. Rumah yang masih berdiri angkuh meskipun dirambati sulur-sulur tanaman liar, serta lumut yang menempel seperti kerak. Muram, tapi berwibawa. Dan paling penting: tak dihuni lagi setelah pemilik terakhir mati karena serangan jantung. 

Di perjalanan aku bertemu Guwo yang bertengger di pohon beringin. Ia melambaikan tangan, memintaku mendekat.

"Ke mana saja kamu, Tumbi? Lama tidak lewat sini," selidiknya dengan suara menggeram.

"Bukan urusanmu," jawabku tak acuh. "Jangan berani memanggilku untuk pertanyaan tidak penting, Guwo." Tanpa menunggu reaksinya, aku kembali terbang ke pohon lain.

"Aku mau kasih tahu, rumahmu sudah dihuni manusia lagi!" 

Teriakan si genderuwo gimbal sempat tertangkap telingaku. Benarkah? Hm, coba kulihat seperti apa manusianya. Aku mempercepat laju tubuhku.

Apa itu di depan sana? Mana rumah tua yang suram dan terpencil itu? Kenapa jadi terang benderang di setiap bagiannya? Ada taman kecil di samping rumah menggantikan semak-semak lebat. Lumutnya? Sulur tanaman rambat kesukaanku? Semua lenyap! Kurang ajar! Mana manusianya? Aku harus memberinya pelajaran.

Kemarahan membungkusku, sehingga cahaya merah memancar keluar dari wujudku. Aku terbang mengitari rumah itu, mencari tahu posisi penghuni barunya. Lalu mataku menangkap sosok manusia di balkon kamar atas. Tanpa ragu sedikit pun aku melesat ke arahnya.

"Woaaa, apa ini?" Manusia itu tertegun menatap sosokku yang mengapung di depannya. 

Aku melotot ke arahnya. Biasanya cukup begini saja orang-orang akan gemetar ketakutan. Bahkan ada yang pingsan, atau memilih kabur. Namun lelaki ini hanya tercengang sesaat. Ya, cuma sesaat. Setelah itu ia mendengus dan menyeringai kepadaku. Giliran aku terkesima. 

"Kamu makhluk apa? Sundel bolong? Kuntilanak? Hantu pohon trembesi?" Ia mengajukan pertanyaan padaku dengan nada mengejek. 

Aku balas menyeringai, lalu mengulurkan tanganku yang berkuku runcing ke arah lehernya. Ia bergeming. 

"Kau ingin tahu? Aku penguasa tempat ini! Kau pendatang yang mengganggu!" semburku. Jemariku kini melingkari lehernya yang hangat. 

Lelaki itu malah tertawa panjang. Lalu tanpa aba-aba ia menyentak lepas kedua tanganku. "Enyahlah!" bentaknya.

Aku terpental tanpa daya. Aura manusia ini sungguh kuat sekali. Aku tak kuat menghadapinya.

"Jangan berani-berani lagi makhluk hina sepertimu mengganggu kami. Ini adalah tempat tinggal manusia. Kau dan kawananmu sudah diberi wilayah sendiri!" Ia kembali membentak dan mengusirku. 

Kali ini aku terpaksa melesat pergi.

***

Jadi di sinilah aku berada, di cabang pohon trembesi yang bersebelahan dengan area rumah kuno. Mengawasi rumah yang pernah kutinggali tanpa berani mendekat lagi. Semua karena lelaki itu, Tirta namanya. Ia membuatku lemah dengan kharisma dan auranya yang menyala terang. 

Sepanjang hidupku, belum pernah ada manusia seperti Tirta. Seharusnya aku marah, kemudian mencari bala bantuan untuk menyerang lelaki itu. Namun, sejumput perasaan aneh malah bertunas di dadaku. Aku tak ingin ia terluka oleh teman-temanku. Maka, kuputuskan membiarkan saja yang sudah terjadi. Asalkan aku masih bisa memandang Tirta dari jauh.

Hanya saja, ada perempuan lain di samping Tirta. Perempuan bertubuh sintal dan berkaki jenjang, yang senang menggelayut manja di bahu lelaki itu. Pagi, siang, malam, perempuan itu sibuk merayu dan bergumul dengan Tirta. Aku tak suka!

Hm, aku tahu harus melakukan apa.

Cilacap, 260426

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda