Cerita Misteri

Hutan yang Ditinggalkan

Hutan yang Ditinggalkan
Ilustrasi AI Arga di Hutan yang Seram (Gemini AI/Nano Banana)

Ia tidak tahu kapan jalan setapak berubah menjadi lorong gelap yang dipenuhi akar. Seingatnya, ia hanya mengikuti jalan pulang setelah mencari kayu bakar. Namun, setelah hujan turun dan kabut menelan pandangan, desa di belakangnya seperti menghilang. "Ini bukan jalan tadi," gumam Arga.

"Kau baru sadar?"

Arga membeku saat menyadari suara itu datang dari bawah. Sebuah lentera tua tergantung pada dahan rendah, memancarkan cahaya redup yang cukup untuk memperlihatkan wajah pucatnya. "Kau... berbicara?" kata Arga terbata.

"Aku sudah berbicara sejak tiga puluh tahun lalu," jawab lentera. "Hanya saja, manusia biasanya terlalu sibuk berteriak untuk mendengarkan."

Arga mundur perlahan. "Jangan lari," kata sebuah suara lain. Kali ini, sebuah kapak berkarat yang tertancap pada batang pohon bergerak sedikit. "Kalau dia lari ke arah barat, dia akan bertemu Sungai Hitam."

"Dan kalau bertemu Sungai Hitam?" tanya Arga.

Kapak itu diam. Lentera menjawab pelan, "Dia akan menjadi bagian dari hutan." Arga menelan ludah mendengarnya.

Di kejauhan, terdengar suara pohon tumbang. Braaak! Kemudian, sesuatu tertawa nyaring. Tawa itu jelas bukan suara manusia. "Dia sudah tahu kau datang," bisik lentera.

"Siapa?"

Kapak berkarat bergetar merespons, "Penghuni yang sebenarnya." Arga sebenarnya tidak ingin tahu jawabannya. Namun, kedua kakinya mulai bergerak sendiri mengikuti cahaya lentera yang bergoyang menuntun jalan.

Mereka berjalan semakin dalam. Di sepanjang jalan, Arga melihat benda-benda aneh berserakan. Ada sepatu tua yang tergantung di akar pohon, jam saku yang berdetak meski jarumnya tidak bergerak, serta boneka kayu tanpa wajah yang duduk di atas batu. Semuanya diam, tetapi Arga merasa benda-benda itu sedang memandanginya lekat-lekat. "Apa tempat ini sebenarnya?" tanyanya ragu.

Lentera seolah menghela napas. "Hutan."

"Tidak ada hutan seperti ini."

"Karena kau hanya mengenal hutan saat matahari masih bersinar."

Mereka tiba di sebuah pohon besar. Batangnya begitu lebar hingga sepuluh orang mungkin tidak cukup untuk memeluknya. Di bawah pohon itu berdiri seorang perempuan tua berambut putih dengan pakaian yang seperti terbuat dari daun-daun kering. "Jangan percaya pada mereka," katanya kepada Arga.

"Siapa kamu?"

"Aku Mbah Ranti."

Seketika lentera langsung meredup, sementara kapak berkarat berbisik, "Dia tidak boleh membawamu ke sana."

Mbah Ranti tersenyum tipis. "Aku hanya ingin membawanya pulang."

"Pulang?" Arga menatapnya penuh harap.

"Ya. Tapi kau harus memilih siapa yang kau percayai."

Arga memandang lentera, kemudian beralih ke kapak, lalu menatap Mbah Ranti bergantian. "Siapa sebenarnya kalian?"

Sebelum ada yang menjawab, suara tawa itu kembali terdengar. Kali ini jaraknya lebih dekat. Dari balik pepohonan muncul sosok tinggi tanpa wajah yang tubuhnya hitam kelam seperti batang pohon terbakar, dengan tangan panjang yang menjulur hingga menyentuh tanah. "Arga..." Suara berat itu memanggil namanya. "Akhirnya kau kembali."

Arga memundurkan langkahnya ngeri. "Aku tidak mengenalmu!"

"Benarkah?" sosok itu tertawa mengejek.

Lentera sontak berteriak, "LARI!" Kapak berkarat terlepas dari batang pohon dan melayang tepat ke tangan Arga. "Gunakan aku!" serunya.

Arga refleks menangkap kapak itu, namun Mbah Ranti justru berdiri diam menghalanginya. "Jangan," katanya memperingatkan.

"Apa maksudmu?"

"Kalau kau menyerangnya, kau akan mengingat semuanya."

Arga menatap perempuan tua itu dengan bimbang. "Aku memang harus mengingat apa?" tanyanya.

Sosok hitam itu terus mendekat, setiap langkahnya membuat tanah bergetar hebat. Lalu, perlahan di dalam kepala Arga, bermunculan potongan-potongan ingatan yang menyakitkan. Terdapat kobaran api, pohon-pohon yang bertumbangan, raungan suara mesin, hingga rentetan teriakan panik manusia. Dan di antara semua kekacauan itu, ia melihat dirinya sendiri sedang memegang sebatang korek api yang menyala.

Arga terduduk lemas hingga lututnya menghantam tanah. "Tidak..." bisiknya.

Sosok hitam itu berhenti tepat di hadapannya. "Sekarang kau ingat?"

Ingatan itu kini utuh. Tiga puluh tahun lalu, Arga bukanlah seorang pemuda yang sekadar tersesat mencari kayu bakar. Ia adalah pekerja penebangan liar yang ditugaskan membakar sebagian Hutan Waringin untuk membuka jalan. Namun, api menyebar jauh lebih cepat dari perkiraan. Beberapa pekerja tewas terbakar hidup-hidup malam itu, termasuk seorang perempuan tua warga setempat. Termasuk dirinya sendiri.

Arga menatap Mbah Ranti dengan bibir bergetar. "Kamu berarti..."

"Aku mencoba menyelamatkanmu malam itu," kata Mbah Ranti lirih.

"Tapi aku sudah mati."

"Ya."

Arga menjatuhkan kapak dari genggamannya, lalu beralih memandang lentera. "Kalau begitu... kenapa kalian membawaku ke sini?"

Lentera terdiam, membiarkan kapak berkarat yang menjawab, "Kami tidak membawamu."

Arga mengernyitkan dahi. "Hutan ini selalu mengembalikan apa yang pernah mengambil nyawanya," sahut sosok hitam raksasa itu yang kini perlahan berubah. Batang tubuhnya menyusut menjadi pohon biasa, tangannya merambat menjadi akar, dan wujudnya menyatu sepenuhnya dengan tanah hutan.

Pada detik itulah Arga menyadari kenyataan yang jauh lebih mengerikan. Lentera tua itu pernah menjadi milik seorang rekan pekerjanya. Kapak berkarat itu adalah alat tebang yang mereka gunakan. Jam saku, sepatu kusam, hingga boneka kayu—semua benda itu bukanlah sekadar penghuni hutan magis. Mereka adalah sisa-sisa jiwa manusia yang tidak pernah berhasil pulang dari kobaran api. Dilanda kepanikan luar biasa, Arga bangkit dan berlari kencang menuju titik cahaya yang tampak di antara celah pepohonan. Ia terus berlari hingga akhirnya berhasil menembus batas hutan, disambut pemandangan desa di hadapannya.

Namun, semuanya terasa berbeda. Bangunan-bangunan telah berubah wujud menjadi lebih modern dan orang-orang berlalu-lalang mengenakan pakaian yang tampak asing baginya. Seorang anak kecil yang sedang berdiri di pinggir jalan menatapnya dengan raut bingung. "Pak, Anda dari mana?"

Arga menjawab dengan napas masih terengah-engah, "Dari Hutan Waringin."

Wajah anak itu mendadak pucat. "Hutan Waringin?"

"Ya."

Anak itu perlahan menunjuk ke arah belakang Arga. "Tapi Hutan Waringin sudah tidak ada sejak tiga puluh tahun lalu."

Arga perlahan menoleh ke belakang. Di sana tidak ada lagi deretan pohon menjulang. Tidak ada kabut tebal, tidak ada lentera yang menyala. Tempat itu kini hanyalah sebuah tanah lapang yang luas. Di tengahnya berdiri sebuah papan kayu tua bernada monumen dengan tulisan: "Di lokasi ini pernah terjadi kebakaran hutan tahun 1996."

Di bawah tulisan peringatan itu terdapat deretan panjang daftar nama korban jiwa. Mata Arga menyusuri nama demi nama, hingga ia menemukannya terukir di baris paling bawah. Arga Pratama - Belum ditemukan.

Angin malam berembus lembut menyapu tanah lapang. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar kembali suara lentera tua itu di telinganya. "Kau tidak tersesat, Arga," suara itu bergema pelan membawa kedamaian. "Kau pada akhirnya menemukan jalan pulang."

Arga tersenyum lega. Lalu perlahan-lahan, tubuhnya memudar dan menghilang sepenuhnya tersapu bersama kabut malam. Di tanah lapang itu, untuk pertama kalinya setelah tiga puluh tahun berlalu, tidak ada lagi jerit tertahan maupun suara gaib yang memanggil dari dalam hutan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda