Dalam persepakbolaan internasional, Tim Nasional Timor Leste tentu bukanlah sebuah negara yang memiliki prestasi gemilang. Jangankan di level benua, di level Kawasan Asia Teggara saja tim nasional dari negara yang pernah menjadi provinsi ke 27 Republik Indonesia tersebut masih belum bisa berbuat banyak. Di berbagai ajang, mulai dari AFF kelompok umur hingga AFF Senior, ataupun gelaran Sea Games, tim sepak bola Timor Leste lebih sering menjadi penggembira gelaran saja, dan tak mampu berbuat banyak. Namun, tahukah teman-teman, jika ternyata persepakbolaan usia muda Timor Leste pernah mencatatkan sebuah prestasi gemilang di level benua Asia? Semua cerita ini kemudian diangkat ke dalam sebuah film besutan Korea Selatan berjudul A Barefoot Dream.
Dalam film rilisan Korea Selatan tahun 2010 berjudul A Barefoot Dream, kita akan dibawa untuk melihat kejayaan persepakbolaan usia muda dari Timor Leste yang mampu menjadi juara di turnamen kelompok usia 14 tahun. Tak tanggung-tanggung, turnamen ini sendiri diadakan di Jepang, dan diikuti oleh 12 peserta, termasuk dari Jepang dan juga Timnas Indonesia U-14 yang kala itu diasuh oleh Fachry Husaini.
Film ini menceritakan tentang petualangan pelatih Kim Wong Kang (diperankan oleh Park Hee Son), mantan pemain sepak bola yang terjun menjadi seorang pebisnis namun mengalami kegagalan. Karena bangkrut, Pelatih Kim Won Kang pada akhirnya memutuskan untuk mengadu peruntungan ke sebuah negara bernama Timor Leste, yang saat itu masih sangat asing bagi dirinya.
Sesampainya di negara yang masih belum stabil secara politik dan juga perekonomian tersebut, Pelatih Kim diserahi tugas untuk melatih tim sepak bola remaja. Dan tentu saja, perbedaan kultur dan juga budaya menjadi sebuah hal yang sangat menyulitkan pelatih Kim di awal karir kepelatihannya.
Sedikit demi sedikit, pelatih Kim mulai beradaptasi dan mulai menerapkan dasar-dasar persepakbolaan kepada anak-anak asuhnya. Bukan sebuah hal yang mudah, karena seperti halnya di Indonesia, permainan anak-anak Timor Leste pun masih mengedepankan emosi dan fisik. Namun perlahan, hal tersebut dibenahi oleh pelatih Kim, demi menyongsong sebuah turnamen internasional di Jepang.
Disinilah semuanya harus dibuktikan, pola kepelatihan yang dikembangkan oleh pelatih Kim, dipertaruhkan dalam ajang yang diikuti oleh 12 negara tersebut. Dan diluar perkiraan, mereka mampu menampilkan permainan terbaik, dan keluar menjadi juara setelah menghempaskan tim-tim favorit di turnamen tersebut. Nah, penasaran dengan emosi yang disajikan dalam film ini? Saksikan film A Barefoot Dream ini di layanan streaming kesayangan masing-masing ya!
Oh iya, karena film ini didasarkan pada sejarah persepakbolaan Timor Leste, kita sedikit banyak akan mendapati “unsur-unsur” Indonesia dalam film ini, lho. Terlebih, film A Barefoot Dream sendiri juga melakukan pengambilan gambar di Timor Leste. Jadi, serasa menonton film Indonesia dengan setting tempat Indonesia bagian Timur. Selamat menonton!