Kolom
Sepertiga Akhir Ramadan dan Muslim Indonesia yang Harus Berjuang Lebih Keras Berburu Lailatul Qadar
Bulan Ramadan Tahun 1447 Hijriah kini sudah menapaki hari-hari terakhir. Bagi para umat Islam di seluruh penjuru dunia, tentunya sudah mafhum jika sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan ini menjadi waktu yang ditunggu-tunggu.
Pasalnya, selain semakin mendekati Hari Raya Idulfitri, masa-masa sepertiga akhir bulan Ramadan juga berisikan malam kemuliaan yang dikenal luas dengan sebutan Lailatul Qadar.
Secara kebahasaan, Lailatul Qadar sendiri berarti "Malam Qadar atau Malam Takdir". Namun karena keutamaan-keutamaan yang dimilikinya, Lailatul Qadar juga diartikan sebagai "Malam Kemuliaan", karena memiliki kemuliaan yang setara dengan ibadah selaman 1000 bulan atau kurang-lebih 80 tahun.
Maka tak mengherankan jika pada akhirnya umat Islam di seluruh penjuru dunia berlomba-lomba dalam kebaikan dan beribadah, dengan harapan bisa menggapai kemuliaan yang dimiliki Malam Qadar ini.
Menurut informasi yang dirilis oleh laman NU Online (10/3/2026), sebagian besar ulama sepakat bahwa Lailatul Qadar sendiri akan terjadi di sepertiga akhir bulan Ramadan.
Pendapat ini disandarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, yang bersumber dari sayyidatina Aisyah.
"Dari Aisyah ra bahwa Rasulullah saw bersabda: “Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil dalam sepuluh terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari No. 2017)
Hadis ini juga diperkuan dengan HR. Bukhari No. 2024, di mana Rasulullah Muhammad bersabda: "Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan".
Berdasarkan hadis tersebut, Imam Ibnu Hajar Al-'Asqalani memberikan penjelasan dalam kitabnya yang berjudul Fathul Bari bi Syarhi Shahihil Bukhari.
Dalam penjelasan beliau, Lailatul Qadar akan turun di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, dan secara spesifik akan terjadi di malam-malam ganjil dalam rentangan tersebut.
"Dalam judul bab (tarjamah) ini terdapat isyarat mengenai kuatnya pendapat bahwa Lailatul Qadar hanya ada di bulan Ramadan, kemudian (lebih spesifik) pada sepuluh malam terakhir, kemudian pada malam-malam ganjilnya, dan tidak terbatas pada satu malam tertentu saja. Inilah yang ditunjukkan oleh kumpulan dalil-dalil (khabar) yang ada mengenai hal tersebut." (Fathul Bari bi Syarhi Shahihil Bukhari, [Mesir, Maktabah Salafiyyah: 1390 H], jilid IV, halaman 260).
Umat Islam di Indonesia Harus Berupaya 2 Kali Lebih Keras untuk Menggapai Lailatul Qadar
Hadis-hadis shohih dari Rasulullah dan penjelasan jumhur ulama yang menyatakan bahwa Lailatul Qadar berada di sepertiga akhir bulan Ramadan, tentunya menjadi pemantik bagi seluruh umat Islam untuk melipatgandakan amal ibadah mereka di fase-fase ini, termasuk umat Islam di Indonesia.
Namun sayangnya, jika dibandingkan dengan umat Islam di kawasan lainnya, umat Islam di Indonesia harus berjuang dua kali lipat lebih keras untuk bisa mendapatkan Lailatul Qadar ini.
Pasalnya, seperti yang telah kita ketahui bersama, umat Islam di Indonesia kerap kali terpecah dalam penentuan awal bulan Ramadan. Sehingga pada akhirnya berimplikasi kepada penghitungan hari-hari yang dijalani.
Berdasarkan lansiran laman Suara.com (26/9/2025), tahun 2026 ini umat Islam secara garis besar terpisah menjadi 2 kelompok ketika menentukan awal Ramadan.
Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Tanah Air, mengumumkan bahwa awal Ramadan 1447 Hijriah pada Rabu, 18 Februari 2026, Sementara Nahdlatul Ulama dan Pemerintah menetapkan awal Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Imbasnya tentu saja membuat hitungan malam sepertiga akhir Ramadan kali ini kembali terbagi. Ketika Muhammadiyah sudah memasuki malam ke-21 Ramadan, NU dan pemerintah masih berada di malam ke-20 Ramadan.
Pun demikian halnya ketika NU dan pemerintah memasuki malam ke-21 atau malam ganjil pertama di bulan Ramadan, Muhammadiyah sudah memasuki malam ke-22nya. Dan begitu terus sampai bulan Ramadan berakhir.
Akibat perbedaan ini, hitungan malam-malam ganjil pada sepuluh terakhir bulan Ramadan di Indonesia pun mengalami perbedaan. Ketika Muhammadiyah memasuki malam ganjil, NU dan pemerintah di saat bersamaan tengah memasuki malam genap.
Pun ketika NU dan pemerintah memasuki malam ganjil, Muhammadiyah di saat yang bersamaan tengah menikmati malam genap bulan Ramadan. Hal itu terjadi secara terus-menerus dan berulang.
Uniknya, fenomena khilafiyah ini tentunya menjadikan umat Islam di Indonesia memiliki dua opsi dalam berburu Lailatul Qadar.
Opsi pertama adalah tetap berburu di malam-malam ganjil dalam rentangan 10 hari terakhir bulan Ramadan sesuai dengan keyakinan yang dimiliki, atau yang kedua memilih untuk berburu Lailatul Qadar tanpa membedakan malam ganjil ataupun genap, sehingga mereka tetap beribadah maksimal di 10 malam terakhir, tak peduli ganjil-genap perhitungan malam Ramadan milik Muhammadiyah, NU maupun pemerintah.
Itu artinya, muslim di Indonesia harus berjuang dua kali lipat lebih keras untuk berburu Lailatul Qadar, karena mereka tak berfokus di malam ganjil-genap versi manapun.
Nah, kalau Sobat Yoursay, cenderungnya ke mana nih? Penghitungan ganjil-genap milik salah satu kelompok, atau justru lebih memilih untuk memaksimalkan waktu-waktu terakhir malam Ramadan tanpa terikat perhitungan salah satu pihak?
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS