Gisella Anastasia secara terbuka mengungkap pengalaman pribadinya terkait hubungan yang nyaris membuatnya terjebak dalam praktik love bombing.
Kisah tersebut menjadi pelajaran berharga bagi mantan istri Gading Marten itu dalam memandang sebuah hubungan, terutama soal kejujuran dan niat di balik perhatian berlebihan.
Pengakuan itu disampaikan Gisel saat di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pada Selasa (27/1/2026).
Ia tak menampik bahwa pengalaman tersebut sempat membuatnya lengah, meski akhirnya mampu mengambil jarak sebelum situasi berkembang lebih jauh.
Gisel mengungkapkan bahwa dirinya pernah berada dalam posisi hampir tertipu oleh pendekatan yang terkesan intens dan penuh perhatian. Ia menyebut pengalaman tersebut sebagai pelajaran yang membuatnya lebih waspada ke depannya.
"Tapi kalau yang mungkin ketipu love bombing, pernah. Ya jadi pembelajaran aja, jadi lebih aware ke depannya," kata Gisel, dikutip dari Suara.com.
Ia juga tak menutup kemungkinan bahwa suasana yang dibangun saat itu cukup membuatnya terbawa perasaan, meski kini ia bisa menertawakannya sebagai pengalaman hidup.
"Ketipunya iya, love bombing, sama ya dan kawan-kawannya," ujarnya sambil tertawa kecil.
Pentingnya Menjaga Logika
Saat ditanya bagaimana caranya keluar dari situasi tersebut, Gisel menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara perasaan dan logika. Ia mengaku beruntung karena terbiasa memaksa diri untuk berpikir jernih, bahkan ketika emosi sedang terlibat.
"Kalau aku untungnya lumayan logis. Biasanya perempuan banyak main perasaan. Tapi aku dipaksain buat mikir," ungkap Gisel.
Menurutnya, sikap tersebut sangat membantunya mengenali tanda-tanda hubungan yang tidak sehat sejak dini.
Berani Mengambil Keputusan
Gisel menilai bahwa keberanian mengambil keputusan menjadi kunci saat seseorang mulai menyadari adanya niat yang tidak baik dalam sebuah hubungan. Ia percaya bahwa menunda hanya akan memperpanjang situasi yang merugikan.
"Kalau udah tahu ini enggak bagus, ada maksud yang enggak baik juga, ya kita cabut. Kita harus keluar dari situ," tegasnya.
Baginya, memutuskan untuk pergi bukanlah tanda kegagalan, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.
Setelah keluar dari hubungan yang dirasa tidak sehat, Gisel menekankan pentingnya memberi waktu bagi diri sendiri untuk pulih. Ia percaya bahwa proses penyembuhan perlu dijalani agar tidak membawa luka lama ke hubungan berikutnya.
"Memulai sesuatu yang sehat setelah selesai sembuh," tambahnya.
Pelajaran Berharga tentang Hubungan
Pengalaman tersebut membuat Gisella Anastasia semakin berhati-hati dalam menjalin kedekatan dengan seseorang.
Ia berharap kisahnya dapat menjadi pengingat bahwa perhatian berlebihan tidak selalu mencerminkan ketulusan.
Bagi Gisel, hubungan yang sehat tetap membutuhkan waktu, kejujuran, serta kemampuan berpikir logis agar tidak terjebak dalam dinamika yang merugikan secara emosional.