Entertainment
Negeri Sakura Berduka, Seniman Multitalenta Akihiro Miwa Meninggal Dunia
Meninggalnya aktor, penyanyi, dan pengisi suara legendaris Jepang, Akihiro Miwa, menjadi kabar duka yang menyelimuti dunia hiburan Negeri Sakura. Melalui situs resminya, diumumkan bahwa Miwa mengembuskan napas terakhir pada 20 Juni 2026 karena faktor usia. Sosok yang lahir dengan nama Akihiro Maruyama itu meninggal dunia pada usia 91 tahun, meninggalkan warisan panjang di dunia musik, teater, film, televisi, hingga anime.
Pihak agensi menjelaskan bahwa selama sekitar satu tahun terakhir Miwa memang telah mengurangi aktivitasnya karena kondisi fisik yang semakin menurun. Sekitar tiga bulan sebelum wafat, kesehatannya mulai memburuk sehingga ia menjalani masa pemulihan di rumah.
Dalam pernyataan resmi tersebut disebutkan bahwa di saat-saat terakhir hidupnya, Miwa mengucapkan satu kalimat sederhana, yaitu "terima kasih", sebelum menutup mata dengan tenang. Sesuai keinginannya, prosesi pemakaman digelar secara tertutup hanya bersama keluarga dan kerabat dekat, dengan altar yang dihiasi mawar kuning, bunga favoritnya.
Bagi penggemar anime, Akihiro Miwa dikenal luas sebagai pengisi suara Witch of the Waste dalam film Studio Ghibli, Howl's Moving Castle. Ia juga mengisi suara Moro dalam Princess Mononoke, Arceus dalam Pokemon: Arceus and the Jewel of Life, Froy dalam Harmagedon, serta Queen of the Night di Maeterlinck's Blue Bird.
Kabar kepergian Miwa juga memunculkan berbagai ucapan belasungkawa dari kalangan industri hiburan Jepang. Salah satunya datang dari aktor Takuya Kimura, yang pernah beradu akting suara dengannya di Howl's Moving Castle. Melalui Instagram Stories, Kimura menuliskan pesan singkat namun menyentuh, "Witch of the Waste, terima kasih dari saya juga. Beristirahatlah dengan tenang."
Akihiro Miwa lahir di Nagasaki pada 15 Mei 1935. Saat berusia 10 tahun, ia menjadi salah satu penyintas tragedi bom atom Nagasaki pada 1945. Pengalaman tersebut membentuk pandangannya terhadap kehidupan dan perdamaian. Sepanjang hidupnya, Miwa aktif menyuarakan pentingnya hidup tanpa diskriminasi, prasangka, maupun peperangan. Ia berkali-kali mengajak masyarakat untuk menjaga perdamaian agar tragedi serupa tidak kembali terulang.
Setelah lulus sekolah menengah pertama, Miwa pindah ke Tokyo dan memulai karier profesionalnya sebagai penyanyi pada usia 16 tahun. Ia tampil di Ginpari, sebuah kafe chanson terkenal di kawasan Ginza. Dengan membawakan lagu-lagu bergenre chanson, klasik, tango, Latin, hingga jazz, namanya mulai dikenal publik. Pada 1957, lagu Meke Meke, adaptasi dari lagu Prancis yang diterjemahkannya sendiri ke dalam bahasa Jepang, menjadi hit besar dan mengangkat popularitasnya.
Puncak karier musik Miwa datang melalui lagu Yoitomake no Uta yang dirilis pada 1965. Lagu berdurasi hampir enam menit tersebut ditulis dan dikomposisi sendiri berdasarkan kisah nyata mengenai hubungan orang tua dan anak. Liriknya menyampaikan penghormatan kepada para pekerja keras sekaligus rasa terima kasih kepada para ibu. Lagu itu kemudian menjadi salah satu karya paling ikonik dalam sejarah musik Jepang dan beberapa kali dibawakan di ajang bergengsi NHK Kohaku Uta Gassen.
Selain sukses sebagai penyanyi, Miwa juga memiliki perjalanan panjang di dunia seni peran. Ia tampil dalam berbagai pertunjukan teater, termasuk Black Lizard yang diadaptasi dari karya Edogawa Ranpo oleh Yukio Mishima. Penampilannya di panggung mendapat banyak pujian dan penghargaan, termasuk dari Yomiuri Theater Awards. Ia juga membintangi sejumlah film dan serial televisi, termasuk film Takeshis' karya Takeshi Kitano.
Miwa dikenal memiliki penampilan yang sangat khas. Rambut kuning terang, gaun elegan, serta gaya androgini menjadikannya sosok yang melampaui batas-batas gender di Jepang pascaperang. Pada 2018, Pemerintah Metropolitan Tokyo menganugerahinya gelar Warga Kehormatan Tokyo sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya di dunia seni sekaligus karena dinilai menghadirkan cara hidup yang melampaui norma gender konvensional.
Tak hanya di dunia hiburan, Miwa juga aktif sebagai penulis dan pembicara. Ia menerbitkan berbagai buku yang membahas kehidupan, kebahagiaan, hingga nilai-nilai kemanusiaan. Pada periode 2005 hingga 2009, ia semakin dikenal publik melalui acara bincang-bincang televisi Aura no Izumi. Program tersebut bahkan disebut turut memicu meningkatnya minat masyarakat Jepang terhadap tema spiritualitas.
Kepergian Akihiro Miwa menandai berakhirnya perjalanan seorang seniman multitalenta yang telah berkarya selama lebih dari tujuh dekade. Meski telah tiada, karya-karyanya di bidang musik, teater, film, televisi, hingga anime akan terus dikenang oleh berbagai generasi. Sosoknya bukan hanya dikenang sebagai artis besar, tetapi juga sebagai penyintas perang, pejuang perdamaian, dan simbol keberanian untuk menjadi diri sendiri di tengah perubahan zaman.