Entertainment
The Disciple Tayang 16 Oktober di Netflix, Album Rahasia Wu-Tang Terungkap
Sebuah album yang hampir tidak pernah didengar publik justru tercatat sebagai salah satu rekaman musik paling kontroversial sekaligus paling mahal yang pernah terjual.
Album tersebut adalah Once Upon a Time in Shaolin milik Wu-Tang Clan, sebuah proyek musik yang sejak awal dirancang untuk menjadi karya eksklusif dan berbeda dari industri musik pada umumnya.
Kini, kisah di balik album langka tersebut akan diangkat melalui film dokumenter terbaru Netflix berjudul The Disciple: A Wu-Tang Fable.
Setelah melakukan pemutaran perdana dunia di Festival Film Sundance 2026, film dokumenter ini dijadwalkan hadir secara global di Netflix pada Oktober 2026.
Album Rahasia Wu-Tang Clan yang Dijual dengan Harga Fantastis
Once Upon a Time in Shaolin merupakan album studio ketujuh Wu-Tang Clan yang pengerjaannya dilakukan secara rahasia selama enam tahun.
Proyek tersebut tidak diperlakukan seperti album musik biasa. Setelah selesai direkam, satu-satunya salinan fisiknya ditempatkan di dalam sebuah kotak perak dengan desain ornamen khusus.
Pada 2015, album tersebut kemudian dilelang dan dilaporkan terjual dengan harga sekitar 2 juta dolar AS. Namun, pembelinya tidak mendapatkan kebebasan untuk merilis atau mendistribusikan album tersebut secara komersial. Berdasarkan kesepakatan penjualannya, karya tersebut tidak boleh dirilis secara komersial hingga tahun 2103.
Keputusan tersebut membuat Once Upon a Time in Shaolin semakin sulit diakses sekaligus memperkuat statusnya sebagai salah satu proyek paling misterius dalam sejarah hip-hop.
Bagi banyak penggemar, album ini bukan hanya tentang musik, tetapi juga tentang eksperimen terhadap cara sebuah karya seni diproduksi, dimiliki, dan dikonsumsi.
Kisah di Balik Album Akan Diungkap dalam Film Dokumenter
The Disciple: A Wu-Tang Fable membawa penonton mengikuti perjalanan Tarik Azzougarh, seorang penggemar berat Wu-Tang Clan asal Belanda-Maroko yang dikenal dengan nama panggung Cilvaringz. Ia bukan sekadar pengagum grup tersebut.
Dalam perjalanan kariernya, Cilvaringz berhasil masuk ke lingkungan internal Wu-Tang Clan dan kemudian menjadi salah satu sosok penting di balik lahirnya Once Upon a Time in Shaolin.
Film ini memperlihatkan bagaimana sebuah ide yang terdengar hampir mustahil akhirnya berkembang menjadi proyek musik berskala besar.
Album tersebut sejak awal memang dirancang sebagai bentuk perlawanan terhadap perubahan industri musik, khususnya ketika layanan streaming membuat musik semakin mudah dikonsumsi dan dianggap sebagai konten yang dapat digantikan kapan saja.
Bagi Wu-Tang Clan dan orang-orang di balik proyek tersebut, Once Upon a Time in Shaolin dimaksudkan sebagai karya seni yang memiliki nilai eksklusivitas. Mereka ingin menciptakan sesuatu yang tidak dapat diperlakukan seperti produk musik biasa.
Ambisi Besar dan Kontroversi di Baliknya
Proyek tersebut lahir dari dua dorongan yang sangat berbeda. Di satu sisi, ada keinginan untuk menciptakan sebuah pernyataan artistik yang besar dan berpotensi memecah opini publik.
Di sisi lain, terdapat ambisi Wu-Tang Clan untuk memastikan bahwa karya yang mereka hasilkan tetap memiliki kualitas yang layak disebut sebagai mahakarya.
Konsep tersebut kemudian memunculkan perdebatan panjang mengenai kepemilikan karya seni, nilai musik, eksklusivitas, serta hubungan antara seniman dan pendengar.
Album yang seharusnya menjadi simbol perlawanan terhadap budaya konsumsi musik justru berubah menjadi fenomena budaya yang terus dibicarakan selama bertahun-tahun.
Joanna Natasegara Menjadi Sutradara
Film dokumenter ini disutradarai oleh Joanna Natasegara, pembuat film peraih Academy Award yang sebelumnya dikenal melalui The White Helmets dan The Edge of Democracy. The Disciple: A Wu-Tang Fable menjadi debut penyutradaraannya dalam film fitur.
Natasegara juga mengungkapkan bahwa proyek tersebut memiliki hubungan personal dengan kecintaannya terhadap Wu-Tang Clan. Ia mengaku tertarik sejak mengetahui kisah mengenai album rahasia tersebut dan kemudian menemukan sisi yang jauh lebih luas dari sekadar kontroversi musik.
“Selama lima tahun terakhir, membuat film ini menjadi sebuah perjalanan yang penuh cinta dan penemuan,” ujar Natasegara, dikutip dari Tudum. “Awalnya, saya terinspirasi oleh kecintaan saya terhadap Wu-Tang sejak remaja dan sebuah kisah tentang album rahasia Once Upon a Time in Shaolin yang terlalu menarik untuk dilewatkan. Namun, selama proses pembuatannya, saya menemukan jauh lebih banyak hal tentang alasan Tarik, saya, dan begitu banyak orang mengidolakan mereka.”
Ia melanjutkan, “Mereka mewakili begitu banyak hal yang sangat dibutuhkan saat ini, yaitu komunitas, bakat, ketekunan, inovasi, dan cinta. Saya sangat bahagia karena penonton akhirnya bisa menghabiskan waktu di dunia yang selama ini sangat saya cintai.”
Tim Produksi dan Pemeran di Balik Dokumenter
Abigail Anketell-Jones, Lauren Dark, dan Vanessa Kirby bertindak sebagai produser. Sementara itu, jajaran produser eksekutif mencakup RZA, Joe Gebbia, Jason Ropell, dan Abazar Khayami.
Dari pihak Film4, David Kimbangi, Farhana Bhula, dan Ollie Madden turut menjadi produser eksekutif. Trevor Burgess, Gary Hess, dan James Costa juga menjalankan posisi serupa untuk Bird Street Productions.
Proses penyuntingan film ditangani oleh Chloë Lambourne dan Chris Dickens. Dokumenter ini diproduksi oleh Aluna Entertainment dan Violet Films melalui kerja sama dengan Studio Gebbia, Film4, 36 Cinema, serta Sony Music Vision.
Tayang Global di Netflix pada Oktober
Dengan sejarah album yang penuh kontroversi, perjalanan Cilvaringz menuju lingkaran Wu-Tang Clan, serta ambisi besar di balik penciptaan Once Upon a Time in Shaolin, The Disciple: A Wu-Tang Fable berpotensi menjadi tontonan menarik bagi penggemar musik maupun penonton yang ingin mengetahui bagaimana sebuah karya dapat berubah menjadi fenomena budaya.
Film dokumenter The Disciple: A Wu-Tang Fable akan tayang secara global di Netflix pada 16 Oktober 2026. Kehadirannya menjadi kesempatan bagi penonton untuk melihat lebih dekat kisah di balik album yang selama bertahun-tahun lebih dikenal karena misterinya daripada musik yang bisa didengar publik.