Entertainment
6 Rekomendasi Drakor yang Menyimpan Kritik terhadap Sistem Peradilan Formal
Daya tarik drama Korea yang mengangkat kisah tentang kriminal atau hukum biasanya terletak pada penyelidikan kasus, adegan aksi dan kejar-kejaran yang menegangkan, hingga upaya pihak-pihak berwenang untuk menangkap pelaku kejahatan serta menghukumnya. Namun, selain itu semua, ada pula drakor kriminal yang di dalamnya menyimpan kritik cukup tajam terhadap sistem peradilan formal.
Kisah yang diangkat pun nggak kalah menarik. Mulai dari korban yang merasa gagal mendapatkan keadilan, pelaku yang menerima hukuman kontroversial, hingga munculnya pihak-pihak yang memilih menegakkan keadilan dengan cara mereka sendiri. Berikut enam rekomendasi drakor yang mengangkat persoalan tersebut melalui sudut pandang berbeda.
1. The Killing Vote: Sosok Misterius yang Menghukum Penjahat Melalui Voting

Korea Selatan dihebohkan dengan kemunculan sosok misterius bertopeng anjing (Gaetal) yang melakukan "penghakiman" pada pelaku kriminal melalui sistem voting. Di mana setiap warga negara yang sudah berusia 18 tahun ke atas akan menerima pesan singkat berisi polling. Jika lebih dari 50% warga setuju agar seorang penjahat dihukum mati, maka sosok itu akan mengeksekusi orang tersebut. Sementara itu, tim kepolisian yang bekerja keras memburu Gaetal kini juga terjebak rasa dilema karena mereka harus melindungi para penjahat yang dianggap "pantas mati".
Melalui sistem voting yang dicetuskan oleh Gaetal tersebut, drama ini mengkritik bagaimana hukum formal bisa dengan mudah dimanipulasi oleh uang dan kekuasaan. Drama ini juga membuat kita bertanya: bisakah suara mayoritas dianggap sebagai keadilan ketika sistem hukum resmi tak bisa diandalkan untuk mengadili penjahat?
2. The Devil Judge: Saat Proses Persidangan Disiarkan secara Live

Kisah drama ini berfokus pada Kang Yo-han (Ji Sung), seseorang dengan julukan "hakim iblis" karena vonisnya yang tak kenal ampun. Ia ditugaskan memimpin persidangan yang disiarkan secara live dan disaksikan oleh seluruh masyarakat. Selain bisa menonton proses sidang secara langsung, mereka juga bisa ikut menentukan hukuman melalui voting.
Melalui drama The Devil Judge kita diperlihatkan kritik tajam tentang kerapuhan sistem peradilan formal, manipulasi hukum oleh penguasa, serta bahaya populisme hukum saat kepercayaan publik terhadap pengadilan hancur. Selain itu, drama ini juga membuat kita mempertanyakan hal yang tak jauh berbeda dari drama The Killing Vote, yaitu bisakah keadilan yang diharapkan banyak orang terwujud jika putusan pengadilan bergantung pada suara terbanyak?
3. Juvenile Justice: Ketika Keterbatasan Sistem Peradilan Dijadikan Celah

Dalam beberapa kasus kriminal yang dilakukan oleh anak di bawah umur, rehabilitasi dianggap sebagai bentuk perlindungan sekaligus kesempatan kedua bagi mereka untuk memperbaiki diri. Sayangnya, hal itu justru menjadi celah dan membuat sebagian pelaku merasa bebas melakukan kejahatan karena bisa memperoleh perlindungan hukum. Hakim Shim Eun-seok (Kim Hye-soo) adalah hakim anak yang menentang sistem tersebut. Menurutnya, pelaku kriminal di bawah umur tidak akan jera jika tidak dihukum maksimal.
Menyoroti cara Hakim Shim membuat keputusan di pengadilan anak, Juvenile Justice menjadi kritik terhadap kelemahan dan batas toleransi undang-undang perlindungan anak terhadap pelaku kriminal berat yang masih di bawah umur.
4. Vigilante: Ketika Hukum Dianggap Tak Bisa Melindungi Korban Kejahatan

Berawal dari perasaan marah melihat pelaku yang membunuh ibunya hanya dihukum ringan, seorang mahasiswa universitas kepolisian, Kim Ji-yong (Nam Joo-hyuk) melakukan aksi vigilantisme tiap malam hari di akhir pekan. Ia memburu pelaku kriminal yang tetap melakukan kejahatan meski telah menjalani hukuman di penjara dan menegakkan keadilan dengan caranya sendiri.
Drama ini memberikan kritik tajam terhadap asas rehabilitasi hukum yang justru sibuk memberikan "kesempatan kedua" pada pelaku. Sementara, korban yang masih merasakan trauma mendalam karena kejahatan mereka malah diabaikan dan tidak diberi perlindungan yang layak.
5. Taxi Driver: Ketika Keadilan Hukum Resmi Tak Sesuai Harapan Korban

Taxi Driver bercerita tentang perusahaan taksi bernama Rainbow Taxi yang menawarkan jasa khusus terhadap korban kejahatan untuk melakukan balas dendam. Eksekusi operasi pembalasan itu nantinya dilakukan oleh Kim Do-gi (Lee Je-hoon) dan timnya yang bertugas di lapangan.
Aksi "penghakiman" yang mereka lakukan ini secara terang-terangan menyindir sistem hukum yang seolah "tumpul ke atas dan tajam ke bawah". Tim dari Rainbow Taxi seolah ingin menunjukkan bahwa ketika pengadilan resmi gagal memulihkan psikologis korban, maka balas dendam menjadi satu-satunya jalan yang bisa mereka pilih untuk menyembuhkan trauma dan kondisi mentalnya.
6. A Bona Fide Killer: Eksekusi Kriminal Kelas Kakap oleh Kingfisher

Bercerita tentang Yoo Bona (Gong Hyo-jin), seorang ibu dengan keluarga kecil yang tampak harmonis dan bahagia. Namun, di balik aktivitasnya sebagai pekerja kantoran biasa, ia menyimpan identitas sebagai Kingfisher, penembak jitu legendaris yang diburu kepolisian karena membunuh para pelaku kriminal yang berhasil lolos dari hukum.
Melalui aksi yang dilakukan oleh Bo-na dan "Tim Pemasaran 3", drama ini seolah menunjukkan bahwa ketika sistem hukum resmi tak bisa memberikan hukuman yang benar-benar layak pada pelaku, terkadang harus ada orang yang bergerak di luar batas hukum dan konstitusi suatu negara.
Itulah enam rekomendasi drama Korea yang menyimpan kritik tajam terhadap sistem peradilan resmi negara. Melalui keenam drama tersebut, penonton seolah kembali disadarkan bahwa keadilan bukanlah persoalan yang bisa dianggap sederhana. Terlebih jika keadilan yang diberikan oleh hukum yang berlaku ternyata belum mampu menjawab seluruh keresahan masyarakat.
Kalau Sobat Yoursay menyukai drama bertema kriminal yang bukan hanya mengandalkan adegan aksi, tapi juga punya premis yang berani, keenam drama di atas bisa menjadi bagian dari daftar tontonan kalian selanjutnya.