Bulan Ramadan adalah momentum yang ditunggu umat Muslim di seluruh dunia. Satu bulan khusus untuk menjalankan ibadah puasa dan bulan yang juga mampu mendongkrak perekonomian masyarakat dengan adanya pelaku usaha berjualan takjil. Sebab, akan selalu ada "war takjil" antara umat Muslim dan umat nonmuslim. Seru pokoknya!
Namun, tahukah kamu kalau puasa ternyata berdampak besar pada kesehatan fisik dan mental?
Puasa Memengaruhi Metabolisme Lipid Manusia
Melansir laman National Library of Medicine, penelitian menunjukkan bahwa puasa selang-seling selama 8–12 minggu menyebabkan penurunan konsentrasi kolesterol LDL (20–25%) dan konsentrasi triasilgliserol (15–30%). Uji coba lain pada puasa 3–12 minggu tampaknya juga efektif dalam mengurangi kolesterol total (10–21%) dan trigliserida (14–42%) pada manusia dengan berat badan normal, kelebihan berat badan, dan obesitas. Uji coba puasa sehari penuh selama 12–24 minggu juga secara positif memperbaiki lipid darah (penurunan kolesterol total 5–20% dan penurunan trigliserida 17–50%).
Puasa juga mampu menurunkan kadar glukosa pada orang dewasa setelah puasa sehari selama 8 minggu, diikuti kadar insulin yang menurun walaupun tidak signifikan. Namun, dalam banyak penelitian juga disebutkan bahwa tingkat pengaruh berbagai faktor puasa terhadap metabolisme glukosa pada individu tergantung pada periode puasa dan karakteristik dasar subjek.
Puasa Terbukti Memengaruhi Fungsi Mental Manusia
Penelitian juga menemukan bahwa puasa jangka pendek dapat meningkatkan suasana hati, yang tercermin dari peningkatan suasana hati positif dan vitalitas serta menurunkan suasana hati negatif. Dalam puasa 18 jam pada wanita sehat, ditemukan bahwa puasa bisa menyebabkan peningkatan iritabilitas dan pengalaman afektif positif seperti rasa pencapaian, penghargaan, kebanggaan, dan kendali.
Lalu untuk puasa 16 jam menunjukkan puasa bisa meningkatkan retensi penghapusan rasa takut dan mencegah rasa takut, serta efeknya mampu bertahan at least 6 bulan.
Penelitian Puasa untuk Efek Psikologi Umum
National Library of Medicine juga menyebutkan bahwasanya aktivitas puasa sanggup memberikan dampak tertentu bagi individu tertentu juga. Sebagaimana disebutkan bahwa efeknya tentu mengekor pada periode puasanya sendiri dan karakteristik dasar subjek.
Puasa yang dilatarbelakangi oleh keyakinan agama yang kuat bisa memberikan dampak kesehatan fisik sekaligus mental. Sebab, sudah tentu hal itu sebagai wujud ibadah itu sendiri dan sebagai pengalaman yang seru serta bisa ditoleransi.
Sementara itu, puasa sendiri berkaitan erat dengan pengendalian emosi diri. Sebab, saat menjalankannya membutuhkan upaya kognitif yang besar termasuk pengendalian emosi diri seperti mengendalikan nafsu makan dan menjaga kesucian puasa itu sendiri. Begitu berhasil menyelesaikannya, maka rasa pengendalian diri semakin meningkat.
Penelitian puasa Ramadan di Jerman melalui metode Virtual Analog Scale (VAS) atau skala analog virtual juga berhasil menunjukkan bahwa kelelahan yang meningkat sebelum aktivitas puasa menjadi menurun. Selain itu, disebutkan juga bahwa kelompok dengan skor depresi, stres, dan kecemasan yang tinggi berhasil turun kadarnya setelah menjalani puasa.
Puasa itu Paket Komplit: Bisa Ibadah, Bisa Mengendalikan Emosi
Berkaitan dengan momentum masa ibadah umat Muslim, menurutku puasa Ramadan itu tidak serta-merta sebagai ibadah semata. Memang sih, kewajibannya adalah menyelesaikan puasa dengan syarat dan ketentuan berlaku, termasuk faktor-faktor bagi beberapa individu untuk tidak ikut berpuasa seperti: wanita haid, wanita nifas, musafir, orang sakit, orang gila, hingga ibu hamil dan menyusui yang khawatir akan bayinya.
Namun, tampaknya puasa ini bisa dijadikan momen untuk menahan diri. Menahan diri dari beragam nafsu duniawi termasuk nafsu makan dan keinginan untuk bicara yang tidak-tidak. Hal ini tentu saja berdampak baik untuk mental juga.
Dampak Keeratan Persaudaraan Sesama Manusia
Puasa Ramadan ternyata juga bisa mengeratkan tali persaudaraan antarsesama manusia, bukan hanya umat Muslim semata. Kehadirannya turut menyumbang ragam interaksi yang khas.
Semasa Ramadan, akan ada ibadah salat tarawih yang banyak dihadiri masyarakat Muslim. Kemudian momentum berbuka dan sahurnya sendiri bisa dijadikan ajang kumpul keluarga. Nah, fenomena "war takjil" pun bisa dikategorikan sebagai wujud toleransi antaragama, sekaligus sebagai pendongkrak ekonomi pelaku usaha.
After all, puasa Ramadan yang hanya setahun sekali ini adalah momentum manis dan luar biasa hebatnya, yang seharusnya dijalani dengan bersih dan tenang. Meskipun, dunia nasional dan internasional selalu menyajikan berita yang penuh gebrakan.