Ulasan

Wande: Tempat Jadul Bertukar Informasi yang Kian Ditelan Kemajuan Zaman

Wande: Tempat Jadul Bertukar Informasi yang Kian Ditelan Kemajuan Zaman
Ilustrasi warung kopi (Instagram/@ridwanramadhan_)

Dewasa ini, kita temui ada banyak coffee shop atau kafe bernuansa modern yang instagramable. Nggak hanya menyajikan menu-menu baru yang menawarkan rasa maknyus hingga estetika makanan yang bisa kita posting, mereka juga menawarkan fitur free wifi.

Selain itu, sistem pembayaran cashless juga kian mudah diakses, dengan kawasan bersih dan suasana tenang yang nyaman. Namun, entah mengapa seperti ada yang hilang.

Perbedaan Lokasi dan Eksekusinya

Sebagai warga kabupaten dan hidup di desa, aku sudah menemui beberapa kafe estetik dengan konsep coffee shop dan penuh modernitas. Ada yang dilengkapi dengan buku menu menawan, band lagu pengiring, sampai lokasi yang instagramable dan cocok sebagai feed media sosial.

Pun aku menemui beberapa warung kopi desa yang kami menyebutnya sebagai wande (bahasa krama yang berarti warung menurut KBJI), yang berkonsep lebih tradisional. Nggak ada buku menu, nggak ada menu-menu menawan macam cappucino atau macchiato, pun tempatnya sangat sederhana. Berlantai plesteran semen dengan dinding bercat kusam, dan lincak atau amben (dipan bambu), serta aroma rokok kretek.

Wande juga hanya menyajikan makanan utama seperti nasi pecel, nasi tumpang, dan nasi jangan (nasi sayur lodeh), serta aneka minuman tradisional macam kopi, teh, kopisusu, dan wedang jahe. Jajannya pun bukan tipe dimsum atau tiramisu, melainkan gorengan, kacang atom, atau kacang asin. Ada juga yang diwarnai dengan kripik singkong atau kripik pisang sih.

Pada eksekusinya, nggak ada sistem cashless, jadi kita harus membayar dengan uang tunai. Pun nggak ada waitress, sebab biasanya si owner sendiri yang menghandle wande. Meski begitu, wande alias warung memiliki keunggulan yakni harga yang lebih terjangkau, dan kadang boleh berhutang, hihi.

Wande adalah Lokasi Bertukar Informasi

Wande memang nggak se modern kafe atau coffee shop, jauh sekali perbedaannya. Pun pengunjungnya sudah pasti tidak sama.

Coffee shop atau kafe rata-rata dikunjungi oleh para anak muda, atau mereka yang perlu memposting foto di media sosial masing-masing. Disini, banyak dari mereka yang mengerjakan pekerjaan online dan remote, yang bakal sibuk dengan laptop masing-masing. Walau ada juga yang datang untuk menjajal menu baru. Namun, keadaan disini pastilah terasa lebih modern ya.

Sedangkan pengunjung warung atau wande cenderung didominasi oleh bapak-bapak atau malah kakek-kakek. Selain karena harga menu yang murah meriah, mereka juga turut bertukar informasi dan opini.

Di dekat rumahku, ada satu wande yang sudah berdiri selama puluhan tahun. Pengunjungnya pastilah bapak-bapak hingga kakek-kakek dengan aneka berita dan opini yang siap dipidatokan. Maksudnya, mereka selalu memiliki topik pembicaraan yang seru untuk didengarkan.

Ada yang berbicara seputar pekerjaan dan kendala di sawah ladang, ada yang berkeluh kesah sebagai pedagang di pasar, ada juga kisah kehidupan blantik (penjual ternak), atau kisah-kisah khas bapak-bapak lain. Mungkin membicarakan politik, ekonomi, sampai inflasi dan kinerja pemerintah. 

Mereka juga nggak segan berbagi aneka tips dan trik kehidupan. Entah seputar tanaman, pupuk, perawatan harian, sampai toko penjual pupuk terpercaya. Ada juga tips memelihara ternak, pakan yang cocok, sampai masa piara dan momentum jual beli. Umumnya, ternak bakal mencapai harga jual tinggi menjelang Idul Adha. Dan sekian informasi penting lainnya.

Keceriaan Wande yang Mulai Berkurang

Aku sendiri menyadari bahwa saat ini coffee shop dan kafe free wifi lebih diminati. Cukup membeli secangkir kopi, maka pengunjung bebas menggunakan fasilitas wifi untuk menyelesaikan pekerjaan, atau sekadar scrolling media sosial.

Kemudian realita bahwa semakin hari, semakin banyak pula generasi lama yang berpulang. Wajah-wajah yang senantiasa hadir dengan topik pembicaraan seru, mulai absen satu per satu. Sementara generasi baru banyak yang memilih ketenangan coffee shop. Memang nggak bisa dipungkiri bahwa warung kopi tradisional terdengar agak ‘berisik’ akan obrolan bapak-bapak, dengan kepulan asap kopi dan tembakau.

Kedekatan sosial perlahan menguap, menjadi hanya sekadar memori. ‘Kehidupan’ wande si warung kopi tradisional lantas digeser oleh jaman dan kemajuan, serta individualis yang disetir oleh kapitalis. 

Bila dulu para generasi lampau ngopi supaya bisa bertukar informasi dengan yang lain, maka generasi sekarang ngopi demi menikmati ketenangan. Tiada lagi perdebatan, diskusi opini, hingga gestur dan gimmick yang manusiawi. Semuanya pelan-pelan dikuasai oleh gadget dan AI.

Walau begitu, di tempatku masih ada kok beberapa warung kopi jadul. Meski tentu masa kejayaannya tidaklah sejaya dulu. Sekian.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda