alexametrics

Monyet, di Antara Pisang dan Uang: Ironi Misteri Tsunami Pandemi Covid-19

wa
Monyet, di Antara Pisang dan Uang: Ironi Misteri Tsunami Pandemi Covid-19
Monyet yang selalu memilih pisang dibandingkan uang (pexels/Erik Karits)

Setelah bertarung cukup lama melawan pandemi Covid-19, masyarakat menjadi seperti terbiasa dengan ancaman yang ada. Berkurang atau bahkan hilang rasa takut yang semula menggila.

Padahal sebenarnya ancaman Covid-19 tersebut masih terus menggelayuti kehidupan dan aktivitas manusia. Namun sedikit strategi untuk menghentikan penyebarannya sudah semakin dimengerti dan dipahami oleh sebagian besar manusia. Yaitu apa yang disebut dengan protokol kesehatan (prokes) dan gaya hidup baru (new normal). 

Sementara program vaksinasi yang diharapkan mampu segera mendorong terbentuknya kekebalan komunitas belum terbukti keampuhannya dan obat yang paten menyembuhkan infeksi Covid-19 belum juga ditemukan formulanya, maka pelaksanaan protokol kesehatan yang ketat serta disiplin menjalankan gaya hidup baru (new normal) merupakan pilihan yang tak bisa diabaikan.

Sayangnya ternyata banyak juga kalangan yang malas menjalankan prokes dengan semestinya dan gagal untuk menjalankan new normal secara disiplin bagi dirinya sendiri maupun demi keselamatan orang-orang yang ada di sekitarnya atau berhubungan dengannya.

Mendadak, serangan kedua pandemi Covid-19 kembali menyentak kesadaran kita dengan telak. Diawali dengan munculnya mutasi-mutasi baru dari varian Covid-19 yang ada sebelumnya, kemudian badai Covid-19 kedua kembali menyerang beberapa negara.

Serangan tsunami Covid-19 yang membuat shock pun memporak-porandakan India. Negara yang sempat begitu percaya diri karena merasa berhasil dalam mengatasi serangan pertama pandemi Covid-19 ini benar-benar ambyar dihajar Tsunami Covid-19. 

Varian virus Corona hasil mutasi baru yang lebih ganas dan cepat menyebar ini benar-benar menebar teror kejam di India.

Masyarakat India yang terlena dan lengah karena merasa sudah bisa mengalahkan pandemi ini seperti diingatkan. Jangan pernah lengah sedikitpun dalam menjalankan prokes dan new normal jika tak ingin mendapatkan kejutan yang mengerikan.

Kabarnya terjadi Tsunami Covid-19 ini awalnya dipicu oleh terjadinya kerumunan masyarakat yang sangat luar biasa ketika warga India melakukan perayaan tradisi hari besar keagamaan yang mereka yakini.

Seperti membuka bendungan yang selama ini dijaga dengan baik, sontak kasus kerumunan masyarakat tersebut seperti membuka pintu lebar-lebar bagi serangan Covid-19 yang mematikan.

Laksana air bah yang membuncah, pemerintah India kalang kabut dalam mengantisipasi dan membendung arus infeksi virus Covid-19 mutasi baru itu, sehingga fasilitas pendukung keselamatan dan kesehatan yang mereka miliki tak berkutik sama sekali. Korban terus berjatuhan sampai akhirnya bantuan dari negara-negara sekitar dikerahkan untuk meringankan.

Giliran Indonesia?

Setelah memporakporandakan India, virus mutasi baru yang disebut dari India ini pun menjadi momok menakutkan yang diwaspadai oleh negara-negara di dunia termasuk Indonesia.

Namun sepintar-pintarnya tupai meloncat, akhirnya jatuh juga. Sepandai-pandainya masing-masing negara menjaga ketat peluang masuknya virus Covid-19 varian India ini, toh akhirnya bocor juga. Mutasi virus varian India berhasil ditemukan menyebar di sejumlah negara lain, termasuk di Indonesia.

Mobilitas masyarakat Indonesia karena adanya lebaran dan liburan dianggap menjadi biang keladi penyebaran ini. Apalagi mobilitas tersebut tidak mengindahkan prokes yang sebenarnya selalu diwanti-wanti oleh berbagai pihak yang berwenang dan peduli.

Harus diakui, situasi genting lonjakan penyebaran Virus Covid-19 memang disebabkan oleh kelemahan kita dalam menjalankan prokes dengan semestinya. Selalu saja ada orang-orang Indonesia yang malas memakai masker, enggan mencuci tangan, bahkan tak perduli membuat kerumunan serta mengabaikan aturan jaga jarak yang dibutuhkan. 

Boleh jadi pelanggaran-pelanggaran yang terjadi tersebut bukan disebabkan oleh kebandelan, kenakalan atau ketidaksadaran para pelakunya. Melainkan lebih banyak karena minimnya pengetahuan yang mencukupi bahwa prokes itu adalah salah satu kunci yang harus kita pegang dalam menghentikan pandemi ini.

Sebagai penggambaran sederhana yang mudah dipahami, saya jadi teringat oleh sebuah cerita tentang monyet, pisang dan uang yang viral di banyak platform social media orang-orang.

Adalah sebuah ironi nyata bahwa ketika manusia ditawarkan hidup sehat asalkan mau memakai masker, cuci tangan pakai sabun, jaga jarak, hindari kerumunan, kurangi mobilitas, makan sehat dan bergizi, olahraga dan lain sebagainya, banyak manusia yang merasa enggan dan bahkan  tidak mau melakukan.

Padahal, ketika mereka akhirnya jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit, maka mau tidak mau barulah mereka mau melakukan apa saja, membayar berapa saja mahalnya, asal bisa sembuh dan sehat kembali.

Slogan mencegah lebih baik daripada mengobati memang sudah sangat dikenal dan dihapal oleh sebagian besar masyarakat. Sayangnya, meskipun sangat dihafal tapi seperti tidak dipahami untuk dipraktekan dalam kehidupan nyata. Slogan tinggal slogan semata.

Monyet, Uang, dan Pisang

Mungkin ada yang pernah mendengar atau membaca apa yang dikisahkan oleh Bos Alibaba, Jack Ma. Ia dalam sebuah sambutan pernah mengatakan: "Jika pisang dan uang diletakkan di hadapan seekor monyet, maka monyet pasti akan memilih pisang. Itu karena monyet tidak mengerti bahwa uang bisa digunakan untuk membeli banyak pisang." 

Mungkinkah keadaan seperti monyet itulah yang dialami oleh mereka-mereka yang tidak mengindahkan prokes dan gaya hidup new normal? Ketika kepada mereka ditawarkan untuk memilih antara uang dan kesehatan,  tentunya banyak yang memilih uang. 

Barulah ketika mereka tertimpa penyakit bisa menyadari bahwa kesehatan lebih penting dari uang. Mereka tidak mau mengeluarkan sedikit tenaga, pengorbanan, kedisiplinan tingkah laku dan gaya hidup untuk mencegah terkena penyakit dan menjaga kesehatan. 

Ketika sudah masuk rumah sakit lagi-lagi barulah mereka mau melakukan apa saja yang diperlukan, mau membayar berapapun mahal biaya yang harus dikeluarkan asal bisa sembuh & sehat kembali.Bahkan meskipun mereka terpaksa harus berhutang. 

Ada lagi sebuah cerita menarik yang baru-baru ini banyak beredar di grup-grup sosial media yang penting untuk kita bagi sebagai bahan renungan  bersama:

Ceritanya pada sebuah pintu masuk sebuah Kebun Binatang, tertulis tarif “Tiket: Rp  50.000,-/orang’. Namun hingga beberapa waktu lamanya, ternyata tidak ada pengunjung yang berkunjung di kebun binatang ini. Karenanya harga tiket kembali diturunkan menjadi: Rp 25.000,-/orang. Namun tetap saja tidak ada juga pengunjung yang datang. Lagi-lagi, akhirnya harga tiket kembali  diturunkan menjadi hanya Rp 10.000,-/orang. 

Menyedihkan, ternyata kebun binatang itu tetap tidak mampu menarik satu pengunjung pun yang mau masuk.  Sampai akhirnya, pemilik kebun binatang yang frustasi, memutuskan  untuk menulis begini:

"MASUK GRATIS". Sontak, ternyata tiba-tiba banyak orang yang berebutan ingin masuk ke dalam kebun binatang. Namun ketika pengunjung di dalam sudah penuh, Ia meminta Sang Pawang membuka semua pintu kandang binatang buas yang ada. Singa, Harimau, Macan, Serigala, Ular, dan lain-lainnya segera dibuka kandangnya. 

Dus, para pengunjung pun sontak panik dan ketakutan. Mereka segera berlarian menuju pintu keluar. Namun ternyata pintu keluar tersebut telah terkunci rapat. Di papan daun pintunya tertulis jelas: “Keluar Bayar Rp 500.000,-” Tanpa banyak berpikir lagi, orang-orang pun segera berebut membayarnya untuk menyelamatkan diri. 

Seperti inikah potret ironi perhatian kita pada kepada kesehatan diri sendiri, keluarga dan orang-orang yang kita cintai. Jangan lengah, jangan kendor! Ayo disiplin jalankan prokes untuk keselamatan bersama. Tabik.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak