Kolom
Dampak Kepopuleran Drama Korea Melalui Media Massa Selama Pandemi Covid-19
Persebaran budaya Korea Selatan saat ini tidak pernah lepas dari peran media massa. Pasalnya, media massa berperan sebagai penyebar berbagai informasi dan hiburan kepada masyarakat.
Budaya Korea Selatan berkembang pesat dan telah diterima oleh masyarakat Indonesia, terutama dikalangan remaja, mulai dari drama, film, lagu, fashion, serta gaya hidup. Seperti yang dikatakan oleh (Simbar, 2016) bahwa berbagai produk budaya Korea mulai dari drama, film, lagu, fashion, gaya hidup, sampai produk-produk industri mulai mewarnai kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia, terutama dikalangan remaja Indonesia.
Budaya Korea berkembang begitu pesatnya dan meluas serta diterima publik sampai menghasilkan sebuah fenomena demam Korean Wave.
Fenomena demam Korean Wave sudah menjadi hal yang menarik di massa pandemi Covid-19. Industri Korea Selatan memanfaatkan kemajuan teknologi seperti media massa atau platform online lainnya dalam menyebarkan kebudayaannya, melalui drama Korea kepada masyarakat. Dengan begitu, maka drama Korea tetap menjadi eksis dan populer di masyarakat Indonesia, terutama di kalangan remaja pada masa pandemik Covid-19 seperti ini.
Berdasarkan penelitian terdahulu Indonesia, P. C.-, & Septadinusastra, V. A. (2021). “Eksistensi Drama Korea pada Masa Pandemik Covid-19 di Indonesia. 49–58”, menyatakan bahwa berdasarkan hasil survey Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang dikutip oleh katadata.co.id 30 November 2020, menunjukan 824 responden dari 924 responden yang disurvei, setara dengan 91.1 persen, memilih untuk menonton drama Korea selama pandemi Covid-19. Adanya peningkatan jumlah penonton sebanyak 3.3 persen dari sebelum pandemi Covid-19.
Pandemi Covid-19 di Indonesia tidak membuat kepopuleran drama Korea menghilang begitu saja. Justru sebaliknya, drama Korea saat ini semakin diminati banyak orang dan semakin eksis. Sebab dampak dari pandemi Covid-19 tersebut mengharuskan masyarakat di rumah. drama Korea menjadi pilihan untuk menemani keseharian dan menjadi hiburan masyarakat Indonesia, terutama dikalangan anak remaja.
Tidak bisa dipungkiri bahwa kehadiran media massa dalam menyebarkan informasi kebudayaan Korea Selatan melalui drama Korea sangat sukses saat ini. Selama di rumah saja, melalui kepopuleran drama Korea masyarakat jadi lebih mengetahui kebudayaan Korea Selatan, sehingga drama Korea memberikan dampak kepada perilaku masyarakat Indonesia terutama dikalangan anak remaja yang disebarkan oleh media massa di masa pandemik Covid-19.
Dampak yang dihasilkan melalui tayangan drama Korea seperti :
1. Perilaku Imitasi
Mereka seringkali menirukan berbagai gaya hidup di Korea Selatan seperti makeup, fashion, makanan, berbicara dll yang ditampilkan melalui tayangan drama Korea. Gaya hidup yang ditampilkan melalui tayangan drama Korea sudah menjadi kebiasaan dan bisa dibilang sudah menjadi kebudayaan baru yang ada dikalangan remaja saat masa pandemi Covid-19 ini.
Bahkan dari mereka tidak jarang menyukai drama Korea dikarenakan ingin melihat berbagai gaya hidup yang ditampilkan melalui tayangan drama Korea. Tidak jarang mereka mencari inspirasi melalui tayangan drama Korea, dan melalui idola mereka yang menjadi model untuk ditirunya. Sehingga tren budaya Korea ini sangat mudah sekali diikuti dan diterima dikalangan remaja saat masa pandemik Covid-19. Gaya makeup dan fashion dari Korea Selatan ini sudah menjadi gaya hidup baru di Indonesia dan menjadi suatu budaya baru dengan pakaian serba minim dan kekinian.
Penjelasan tersebut diperkuat dengan penelitian terdahulu yaitu Tian, K., & Logahan, J. M. (2019) pada penelitian “Dampak Tayangan Korean Drama Di New Media Terhadap Perilaku Remaja Kota Korean Lovers Di Jakarta”. Hasil dari penelitian menyatakan bahwa melalui konsumsi serial drama Korea tersebut, telah mengubah perilaku remaja menjadi imitasi. Dikarenakan bahwa fashion Korea menjadi salah satu faktor yang menyebabkan remaja begitu tergila-gila dengan terus menerus menyaksikan serial drama Korea. Cara berpakaian yang dijelaskan pada penelitian ini tidak sesuai dengan kebudayaan atau adat kita sendiri, seperti memakai baju pendek rok di atas lutut. Mereka menganggap apa yang dikenakan oleh idola mereka pada tayangan drama Korea kesukaan mereka akan sama juga apabila mereka memakainya sehingga menyalahi norma-norma kebudayaan yang ada.
2. Perilaku Konsumtif
Anak remaja cenderung melakukan kegiatan konsumtif dengan membeli merchandise para aktor, aktris dan idola di drama Korea yang mereka gemari. Selain itu juga ada album, photocard, aksesoris, skincare, makeup, dan baju style Korea. Mereka akan memiliki barang tersebut agar sama dengan aktor, aktris dan idola mereka. Bahkan para remaja tersebut melakukan perilaku konsumtif karena hanya ingin memenuhi kesenangan mereka saja tanpa memikirkan kegunaan dari barang tersebut.
Hal tersebut juga agar mereka dianggap sebagai dari bagian menggemari Idolanya. Dengan kata lain, hal yang akan menyebabkan perilaku konsumtif dan cenderung membeli barang tanpa kepentingan semata dan hanya kesenangan semata menyebabkan gaya hidup yang boros.
Dampak dari perilaku konsumtif diatas diperkuat oleh penelitian terdahulu yaitu Nirisna, D., Widodo, I. A,. Larassari, I. B., & Rahmaji, F. (2020). “Dampak Konsumerisme Budaya Korea (Kpop) di Kalangan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang”. Hasil dari penelitian menyatakan bahwa keinginan penggemar Kpop pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang didasari pada hasrat mereka dalam memenuhi sesuatu berupa Kpop Stuff baik photocard, baju, lightstick, maupun Kpop Stuff lainnya.
Perilaku tersebut dapat mengarahkan pada perilaku konsumtif, hal tersebut dikarenakan biaya yang dikeluarkan untuk membeli Kpop Stuff tergolong mahal. Para penggemar Kpop akan berusaha dengan berbagai cara agar mampu memenuhi keinginannya dalam mengoleksi Kpop Stuff.
Penjelasan dampak tersebut sesuai dengan pendapat Albert Bandura (1986) melalui social learning theory menyatakan bahwa social learning theory ini adalah manusia cukup fleksibel dan sanggup mempelajari bagaimana kecakapan bersikap maupun berperilaku. Fokus dalam pembelajaran ini melalui pengalaman yang tak terduga, melalui aktivitas mengamati dari perilaku orang lain.
Dengan kata lain bahwa adanya tayangan drama Korea membuat remaja akan mengamati dan mempelajari bagaimana para aktor, aktris dan idola yang mereka sukai dalam mengenakan fashion, makeup ataupun menampilkan gaya hidup Korea Selatan dengan sangat baik. Sehingga mereka akan tertarik untuk mengikuti gaya hidup yang disajikan oleh drama Korea melalui media massa dan membuat mereka akan cenderung berperilaku konsumtif dengan mengkonsumsi atau membeli barang yang dilakukan secara berlebihan hanya untuk mengikuti gaya hidup seperti aktor, aktris dan idolanya.
Hal tersebut juga sesuai dengan pendapat Maxwell E. McCombs dan Donald L. Shaw melalui teori agenda setting. Maxwell E. McCombs dan Donald L. Shaw percaya bahwa media massa memiliki kemampuan untuk mentransfer hal yang menonjol yang dimiliki sebuah berita dari news agenda mereka kepada public agenda. Pada saatnya, media massa mampu membuat apa yang penting menurutnya, menjadi penting pula bagi masyarakat. (Nuruddin, 2007: 195).
Kepopuleran drama Korea dan kebudayaan Korea Selatan berkembang sangat pesat saat ini, disebabkan media berperan besar dalam mengatur agenda agar membuat pesan tersebut penting dikonsumsi dan untuk mudah ditiru masyarakat.
Kebudayaan Korea Selatan saat ini menjadi banyak yang menyukai bahkan menjadi yang ditiru banyak masyarakat, dan menjadikan tren tersebut suatu panutan dalam gaya hidup dikalangan remaja dengan mengikuti gaya hidup budaya Korea Selatan saat ini.