Kolom

Self Love: Cintai Apa Adanya, Memangnya Cukup?

Self Love: Cintai Apa Adanya, Memangnya Cukup?
Ilustrasi bercemin (Freepik.com/freepik)

You are what you believe yourself to be.” -Paulo Coelho

Dalam era media sosial yang terus berkembang, kita sering terpapar dengan pesan-pesan tentang self-love atau mencintai diri sendiri. Cukup cintai apa adanya, kata mereka. Pesan ini didukung oleh kampanye body positivity, mengajarkan untuk merayakan tubuh kita sebagaimana adanya dan mengatasi standar kecantikan yang tidak realistis.

Namun, apakah self-love yang hanya "cukup cintai apa adanya" memang cukup? Bukan berarti kita tidak harus mencintai diri sendiri, tetapi pernyataan itu harus dilihat dengan hati-hati dan disertai dengan pemahaman yang lebih mendalam.

BACA JUGA: Masyarakat Jangan Mudah Diprovokasi, Tahun Politik Memang Kadang Kejam

Cinta pada diri sendiri adalah fondasi yang penting untuk kebahagiaan dan kesejahteraan mental. Menghargai diri sendiri dan menerima kekurangan serta kelebihan adalah langkah penting menuju kesehatan mental yang lebih baik. Namun, jika self-love diartikan sebagai merasa nyaman dengan status tanpa perlu tumbuh atau berubah, itu bisa menjadi bahaya.

Self-love tidak boleh menjadi pembenaran untuk tidak mencoba menjadi lebih baik atau tidak berusaha mencapai potensi penuh.

Mengutip psikolog Carol Dweck, mindset yang statis (fixed mindset) menganggap kemampuan dan kecerdasan sebagai sesuatu yang tetap dan tidak dapat berubah. Sebaliknya, mindset yang berkembang (growth mindset) percaya bahwa kemampuan dan kecerdasan dapat berkembang melalui usaha dan belajar. Memiliki self-love yang sehat berarti memegang growth mindset, yaitu mengakui bahwa kita bisa berkembang dan memperbaiki diri dari waktu ke waktu.

BACA JUGA: Meneropong Era GeoAI: Geo-Etika dan Kesiapan SDM Geospasial

Bukan berarti self-love itu merusak ambisi dan menciptakan ketidakpuasan tanpa henti. Sebaliknya, self-love yang sehat memupuk rasa hormat pada diri sendiri dan memberdayakan kita untuk mencapai tujuan dengan keyakinan diri. Ketika kita mencintai diri sendiri, kita akan lebih cenderung merawat tubuh dan pikiran kita dengan baik, termasuk membuat pilihan yang mendukung kesehatan fisik dan mental.

Dalam pandangan filosofi dan psikologi positif, self-love yang sejati mencakup empat dimensi: self-awareness (kesadaran diri), self-acceptance (penerimaan diri), self-care (perawatan diri), dan self-improvement (perbaikan diri). Semua dimensi ini saling melengkapi dan menciptakan fondasi yang kuat untuk mencapai keseimbangan dan kebahagiaan dalam hidup.

Jadi, self-love bukan sekadar "cukup cintai apa adanya," tetapi lebih merupakan perjalanan yang berkelanjutan untuk merangkul diri kita sendiri, menghargai potensi kita, dan tumbuh sebagai individu yang lebih baik dari sebelumnya. Saat kita menggabungkan self-love dengan motivasi untuk berkembang dan mencapai tujuan, kita akan menemukan kehidupan yang lebih bermakna dan memuaskan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda