Kolom
Masyarakat Jangan Mudah Diprovokasi, Tahun Politik Memang Kadang Kejam
Tahun 2023 sekarang ini disebut-sebut sebagai tahun politik karena Pemilihan Umum (Pemilu) Tahun 2024 sudah terasa. Sejak Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 204.807.222 untuk Pemilu 2024 seakan sudah sangat dekat. Hingga tahapan sampai saat ini pun, KPU sedang mempersiapkan DPTb dan DPK.
Terlebih dari itu, Pemilu 2024 bukan hanya tertuju pada lembaga KPU saja, tetapi juga kepada peserta pemilu dan partai politik yang akan berkontestasi dalam pesta politik nanti, dan yang tak kalah krusial sebenarnya rakyat adalah penentu utama dalam mewujudkan demokrasi yang sehat demi kesejahteraan rakyat Indonesia.
Saat ini kita bisa saksikan dan rasakan, bagaimana hangatnya perbincangan Pemilu 2024 selalu menghampiri beranda-beranda media sosial kita. Para politisi yang berkedok pejuang kesejahteraan rakyat, terpampang habis nama dan foto-foto mereka. Mulai dari calon presiden, sampai calon legislatif anggota DPRD Kabupaten/kota.
Kita bisa saksikan, nama Ganjar Pranowo yang dideklarasikan PDIP selalu menempati posisi penting dalam survey politik calon presiden 2024. Tak terkecuali juga, Prabowo Subianto dan Anies Baswedan juga tak pernah hilang dari beberapa lembaga survey. Bukan itu saja, deretan nama-nama Cawapres pun juga banyak diperbincangkan para pakar Indonesia.
Problem di tahun politik
Tak bisa dipungkiri, sekarang ini sudah marak terjadi sindir-menyindir para politikus Indonesia di media sosial. Tak terkecuali pula, ajang meraut reputasi dan menggerut popularitas pun berbagai cara telah dilakukan. Hingga menjadi ancaman besar, berita hoaks akan mudah tersebar.
Masyarakat perlu sadar, bahwa di era teknologi yang sangat canggih ini, berita bohong dan pelemparan isu SARA sangatlah mudah tersebar dan tak menutup kemungkinan bisa menodai pikiran kita. Apabila, masyarakat tidak mampu menyaring berita dan mengecek fakta yang sebenarnya, jelas itu dapat berakibat fatal pada jalannya demokrasi Indonesia.
Bentuk provokasi dan ajang adu damba bisa terjadi secara halus, berbagai cara pun yang bisa dilakukan di tahun politik ini untuk mendapatkan sebuah kemenangan di mata rakyat, walau dengan cara yang keliru dan merugikan banyak korban. Hanya karena dengan framing keselamatan umat, akhirnya itu dibenarkan.
Bukan membeberkan sebagai bentuk provokasi, terkait dengan pernyataan Rocky Gerung yang menjadi perbincangan hangat di media sosial soal dirinya telah mencaci Jokowi hingga ia ingin dilaporkan para relawan Jokowi. Meski demikian, memang Rocky selalu melontarkan kritik pedas kepada pemerintah, termasuk ke presiden.
Tetapi pernyataan Rocky Gerung kali ini, bisa saja akan menjadi polemik yang panjang jika ditanggapi secara berlebihan. Apabila hal ini ditanggapi secara berlebihan, bisa saja akan menyulut psikologi massa, yang nantinya bisa menjadi martir bagi gerakan sosial yang lebih besar. Apalagi sudah mendekati tahun-tahun politik yang penuh persaingan dan kontestasi.
Jangan sampai dengan makin membesarnya isu ini justru yang menjadi korban adalah rakyat yang ikut-ikutan secara tidak sadar dalam gerakan tertentu. Untuk itu, ada baiknya relawan Jokowi nggak usah terlalu menanggapi soal pernyataan Rocky Gerung, dikhawatirkan masyarakat justru terpancing tanpa tahu ada permainan politik sebenarnya.
Masyarakat jangan mudah terprovokasi
Sebagai masyarakat yang mempunyai peran penting dalam menentukan demokrasi ke depan, kita tidak boleh lengah dan terprovokasi dengan keadaan dan peristiwa yang terjadi. Tahun politik memang nggak asing bagi kita, sindir-menyindiri bahkan sampai pertengkaran bukan hal baru bisa terjadi. Tetapi atas kondisi tersebut, kita harus cerdas dan berani mengambil sikap setiap peristiwa yang terjadi, kita jangan mudah diprovokasi hanya demi kepentingan segelintir orang.
Pemilu 2024 mesti menjadi ajang untuk mewujudkan demokrasi yang sehat, dan memang politik menjadi salah satu jalannya. Tak bisa dipungkiri, kalau politik menjadi sarana untuk membentuk negara yang berdaulat dan makmur. Tetapi banyak orang yang justru menyalahgunakan arti dan nilai politik, sehingga tafsiran politik di masyarakat justru menjadi kotor atas perbuatan oknum tertentu yang melakukan berbagai cara untuk merebut suatu kekuasaan.
Oleh karena itu, ketika masyarakat tidak mudah tergiur provokasi yang tidak jelas, itu menjadi monumentul penting dalam menyukseskan Pemilu 2024 mendatang demi mewujudkan demokrasi yang sehat. Masyarakat mampu memilih pemimpin yang layak dan jelas keberpihakannya kepada masyarakat Indonesia dan kemajuan suatu bangsa.