Kolom

Mata Uang dan Martabat Bangsa: Menghapus Nol untuk Menghapus Inferioritas?

Mata Uang dan Martabat Bangsa: Menghapus Nol untuk Menghapus Inferioritas?
Ilustrasi rupiah (Pixabay/Iqbal Nuril Anwar )

Sobat Yoursay, pernahkah kamu memperhatikan sesuatu yang sederhana tapi mengusik rasa bangga kita? Misalnya, ketika melihat harga tiket pesawat ditulis Rp 1.500.000, sementara negara tetangga cukup menulis SGD 130 atau THB 3,500.

Nilai sebenarnya bisa saja sama, tapi entah kenapa, angka yang lebih banyak nolnya sering membuat kita merasa kecil di hadapan mata uang negara lain.

Nah, di sinilah redenominasi rupiah menemukan maknanya, bukan sekadar penyederhanaan angka, tapi soal martabat bangsa. Karena bagaimana kita menampilkan mata uang kita di panggung global, bisa memengaruhi cara dunia memandang Indonesia.

Rencana redenominasi yang kembali digodok pemerintah — di mana Rp 1.000 akan jadi Rp 1 — tampak teknis di permukaan. Tapi kalau kita gali lebih dalam, ini adalah bagian dari upaya panjang untuk mengembalikan kepercayaan diri nasional dalam sistem moneter.

Sejak lama, rupiah identik dengan angka besar. Bukan karena kita kaya, tapi karena inflasi masa lalu yang membuat satuan nilai kita membengkak. Akibatnya, kita terbiasa dengan uang bernilai jutaan bahkan untuk hal-hal sederhana.

Tapi dalam konteks internasional, angka yang terlalu besar kadang diasosiasikan dengan ekonomi yang lemah atau inflasi tinggi, meski faktanya tidak selalu begitu.

Sobat Yoursay, coba bayangkan kalau nanti satu dolar Amerika setara dengan 10 rupiah, bukan 15.000 rupiah seperti sekarang, apakah itu tidak terdengar lebih setara, lebih gagah?

Rupiah dengan nol yang terlalu banyak seringkali menanamkan kesan bahwa nilai barang, nilai kerja, bahkan nilai hidup kita rendah dibanding negara lain. Ini tentu tidak rasional, tapi psikologi ekonomi memang sering bekerja di bawah sadar.

Kita merasa bangga ketika melihat harga mobil di negara lain hanya 30 ribu tanpa menghitung bahwa itu dalam dolar. Kita lupa, nol yang banyak bukan dosa ekonomi, tapi hasil sejarah panjang. Namun tetap saja, ada rasa minder yang sulit dihapus,  seolah kita selalu berada di posisi murahan.

Jadi, apakah redenominasi bisa menghapus rasa minder itu? Mungkin tidak secara instan. Tapi setidaknya, ia memberi ruang bagi bangsa ini untuk berbicara dengan bahasa ekonomi yang lebih setara.

Negara-negara yang melakukan redenominasi bukan hanya karena alasan teknis, tapi juga sebagai simbol transisi menuju era baru. Korea Selatan, misalnya, beberapa kali mempertimbangkan redenominasi untuk memperkuat wibawa won-nya. Turki bahkan pernah memangkas enam nol dari lira pada 2005, sebagai bagian dari reformasi besar menuju stabilitas ekonomi, langkah yang kemudian membuat dunia menatapnya dengan hormat.

Indonesia, dengan kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, sebenarnya sudah pantas punya mata uang yang lebih ringkas dan elegan.

Apalagi kini kita tengah menuju ekonomi digital dan sistem pembayaran lintas negara seperti QRIS ASEAN. Dalam konteks global seperti ini, penyederhanaan nominal bukan lagi sekadar kebutuhan domestik, tapi juga soal branding nasional.

Rupiah yang berwibawa bisa menjadi representasi bangsa yang percaya diri.

Namun, Sobat Yoursay, jangan buru-buru mengira redenominasi otomatis membuat kita lebih bermartabat. Karena martabat sejatinya ada pada kejujuran sistem, kestabilan ekonomi, dan keadilan sosial.

Apa artinya nol berkurang, kalau korupsi tetap seribu cara? Apa gunanya mata uang baru, kalau daya beli rakyat tak ikut naik?

Redenominasi seharusnya datang bersama pendidikan ekonomi rakyat, stabilitas harga, dan penguatan kepercayaan terhadap pemerintah.

Kita boleh bangga jika rupiah baru nanti tampak lebih modern dan berkelas, tapi kebanggaan itu hanya akan bermakna jika rakyat kecil juga bisa merasakannya, bukan hanya mereka yang bermain di sektor keuangan.

Ketika dunia nanti melihat harga tiket konser di Jakarta tertulis Rp 500, bukan Rp 500.000, mereka tak lagi harus menghitung berapa nol yang harus dipangkas. Mereka akan melihat Indonesia sebagai negara dengan mata uang yang berani tampil proporsional dan percaya diri.

Sobat Yoursay, pada akhirnya uang adalah cermin yang merefleksikan cara sebuah bangsa menilai dirinya sendiri.

Dan mungkin, sudah saatnya kita bercermin dengan angka yang lebih sederhana, tapi dengan kebanggaan yang lebih besar. Karena menghapus nol bukan berarti menghapus nilai, bisa jadi, justru itulah cara kita menemukan kembali martabat yang sempat hilang di balik angka-angka panjang.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda