Krisis Empati dan Menakar Batas Etika Saat Mendengar Kabar Duka

M. Reza Sulaiman | Yayang Nanda Budiman
Krisis Empati dan Menakar Batas Etika Saat Mendengar Kabar Duka
Ilustrasi kabar duka dan krisis empati. (Gambar oleh GoranH dari Pixabay)

Kematian selalu membawa keheningan. Namun, di era media sosial, keheningan itu kerap hanya berlangsung beberapa menit sebelum akhirnya dipenuhi suara lain: spekulasi, analisis instan, hingga pengadilan moral.

Ketika kabar wafatnya seorang influencer terkemuka beredar, linimasa segera berubah menjadi ruang debat, bukan ruang duka. Alih-alih berhenti sejenak untuk berempati, publik justru sibuk menanyakan “mengapa?”, “apa sebabnya?”, dan “siapa yang salah?”.

Fenomena ini terus berulang. Setiap kali figur publik meninggal dunia, terutama mereka yang dikenal luas melalui media sosial, kematian tidak lagi dipandang sebagai peristiwa personal dan tragis, melainkan sebagai gudang pertanyaan. Algoritma mendorong kecepatan, bukan kehati-hatian. Komentar dilontarkan sebelum kabar benar-benar utuh, potongan informasi dikunyah ulang tanpa konteks, dan kesimpulan ditarik bahkan sebelum keluarga selesai berduka.

Di titik ini, empati menjadi barang langka. Duka yang semestinya bersifat privat berubah menjadi konsumsi publik. Kematian seolah-olah kehilangan sakralitasnya, direduksi menjadi bahan diskusi, tebak-tebakan, bahkan legitimasi untuk melontarkan prasangka. Hal yang terlupakan adalah di balik nama besar dan jutaan pengikut, ada manusia yang meninggal dan keluarga yang ditinggalkan dalam kondisi rapuh.

Obsesi pada Alasan dan Hasrat Menghakimi

Pertanyaan tentang sebab kematian memang wajar. Dalam konteks jurnalistik, hal itu penting untuk kejelasan informasi. Namun, yang terjadi di ruang digital sering kali melampaui kebutuhan informasi; ia berubah menjadi obsesi. Publik bukan sekadar ingin tahu, tetapi ingin menilai. Ada dorongan untuk menemukan kesalahan, menyusun narasi sebab-akibat, bahkan menunjuk pihak yang pantas disalahkan.

Pada fase inilah empati runtuh. Duka belum selesai, tetapi penghakiman sudah dimulai. Komentar-komentar bernada “seharusnya”, “kalau saja”, dan “ini akibat dari” berseliweran tanpa rasa bersalah. Seolah-olah kematian harus selalu memiliki pelajaran moral yang bisa dikonsumsi bersama; seolah-olah setiap tragedi wajib menghasilkan hikmah instan yang memuaskan rasa ingin tahu kolektif.

Masalahnya, tidak semua kematian dapat atau perlu dijelaskan secara terbuka dan rinci. Ada batas etika yang kerap dilupakan. Ketika publik memaksa transparansi total atas peristiwa kematian, yang dikorbankan adalah martabat almarhum dan hak keluarga untuk berduka dengan tenang. Dalam banyak kasus, rasa ingin tahu publik justru berubah menjadi kekerasan simbolik.

Influencer, karena posisinya yang berada di antara ruang privat dan publik, sering kali menjadi korban paling nyata dari krisis empati ini. Kehidupan mereka dikonsumsi sehari-hari sehingga kematiannya pun dianggap milik bersama. Padahal, kematian tidak pernah benar-benar menjadi milik publik. Ia selalu personal dan selalu menyisakan luka yang tidak bisa diukur dengan jumlah likes atau views.

Berhenti Sejenak, Mengembalikan Kemanusiaan

Krisis empati bukan berarti beberapa dari kita kehilangan nurani. Hal ini lebih sering lahir dari kebiasaan digital yang terbentuk tanpa disadari. Kecepatan berbagi, budaya berkomentar, dan algoritma yang memberi ganjaran pada reaksi emosional membuat publik lupa untuk berhenti sejenak. Padahal, berhenti adalah tindakan paling manusiawi dalam menghadapi duka.

Berhenti untuk tidak berspekulasi. Berhenti untuk tidak menyimpulkan. Berhenti untuk tidak menuntut penjelasan yang belum tentu perlu kita ketahui. Dalam konteks kematian, empati bukan soal memahami sebab secara detail, melainkan menghormati kehilangan.

Refleksi atas kematian seorang influencer, tokoh terkemuka, dan siapa pun itu, seharusnya mengajak kita bercermin: Apakah kita masih mampu melihat kematian sebagai peristiwa kemanusiaan, atau sudah sepenuhnya melihatnya sebagai berita semata? Apakah kita benar-benar peduli, atau hanya ingin menjadi bagian dari percakapan yang sedang ramai?

Empati tidak menuntut keheningan total, tetapi menuntut kesadaran batas. Ada waktu untuk bertanya, ada waktu untuk diam. Ada ruang untuk informasi, ada ruang yang harus dijaga agar tetap menjadi ruang duka. Ketika batas itu dilanggar, yang rusak bukan hanya perasaan keluarga yang ditinggalkan, melainkan juga kualitas kemanusiaan kita sebagai masyarakat.

Pada akhirnya, kematian tidak pernah meminta penilaian. Ia hanya meminta penghormatan. Di tengah hiruk-pikuk linimasa, mungkin hal yang paling radikal hari ini adalah keberanian untuk tidak ikut bersuara, lalu memilih untuk berempati dan mendoakan sebagai sebuah sikap yang tepat.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak