Kolom

Keresahan Sarjana Pendidikan: Haruskah Jurusan Menjadi 'Penjara Profesi'?

Keresahan Sarjana Pendidikan: Haruskah Jurusan Menjadi 'Penjara Profesi'?
Ilustrasi Toga Sarjana (Freepik/upklyak)

Ketika seseorang mengatakan bahwa ia kuliah di jurusan pendidikan, ada satu respons yang paling sering muncul dari masyarakat. “Nanti jadi guru, ya?” Pertanyaan yang terdengar begitu sederhana, tetapi menyimpan asumsi yang cukup kuat bahwa lulusan sarjana pendidikan pasti berakhir di ruang kelas sekolah.

Bagi banyak mahasiswa pendidikan, asumsi ini sudah seperti “takdir” yang dilekatkan sejak awal kuliah. Bahkan sebelum lulus, pertanyaan seperti “Nanti ngajar di mana?” sering kali sudah mulai bermunculan.

Sebagai lulusan sarjana pendidikan, saya pun mengalami hal demikian. Setelah sidang skripsi dan mengunggah foto selebrasi di media sosial, sebuah pertanyaan masuk ke pesan pribadi, “Ngajar di mana?” Padahal kelulusan belum benar-benar diresmikan dan ijazah pun belum ada kabar. Lalu selang beberapa waktu, saat bertemu dengan teman lama, muncul lagi pertanyaan serupa. “Kamu sudah ngajar?”

Hal ini kemudian menimbulkan sedikit keresahan dan pertanyaan di benak saya. Apakah karier seorang sarjana pendidikan hanya terbatas mengajar di sekolah?

Realitasnya, menjadi guru di Indonesia bukanlah hal yang mudah. Persaingan untuk mendapatkan posisi sebagai guru tetap cukup ketat, sementara jumlah lulusan pendidikan setiap tahun terus bertambah. Tidak sedikit lulusan yang akhirnya bekerja sebagai guru honorer dengan gaji yang masih jauh dari kata ideal. Di sisi lain, beban kerja seorang guru seringkali tidak hanya mengajar, tetapi juga mengurus berbagai administrasi dan tanggung jawab lain yang cukup menyita waktu.

Kondisi ini bukan berarti profesi guru tidak mulia atau tidak penting. Justru sebaliknya, peran guru sangat vital dalam membentuk generasi masa depan. Namun, kenyataan di lapangan membuka mata kita bahwa menjadi guru di sekolah formal bukanlah satu-satunya jalan yang bisa ditempuh oleh lulusan sarjana pendidikan.

Kemudian jika dipikirkan lebih jauh, definisi “guru” sebenarnya jauh lebih luas daripada sekadar seseorang yang mengajar di ruang kelas. Secara esensial, guru adalah orang yang membantu orang lain belajar, memahami sesuatu, dan berkembang melalui ilmu pengetahuan. Dalam pengertian ini, proses belajar tidak hanya terjadi di sekolah.

Di era ini, ruang belajar bisa ditemukan di banyak tempat. Kursus, komunitas belajar, pelatihan, bahkan platform digital telah menjadi bagian dari ekosistem pendidikan modern. Banyak orang belajar melalui video, podcast, kelas daring, atau konten edukasi di media sosial maupun website. Artinya, peran seorang pendidik tidak lagi terbatas pada papan tulis dan ruang kelas.

Sebab itu, rasanya tidak sepenuhnya tepat jika menganggap bahwa lulusan sarjana pendidikan harus selalu berakhir sebagai guru di sekolah.

Setiap orang memiliki hak untuk menentukan jalur kariernya sendiri. Pendidikan yang ditempuh di bangku perkuliahan seharusnya menjadi bekal kompetensi, bukan "penjara profesi" yang membatasi pilihan hidup seseorang. Ketika seorang lulusan pendidikan memilih profesi lain, hal itu bukan berarti ia menyia-nyiakan ilmu yang dipelajari selama kuliah.

Sebaliknya, banyak sekali profesi yang tetap bisa menjadi wadah bagi sarjana pendidikan untuk berbagi ilmu. Mereka bisa menjadi tutor di lembaga kursus, pengembang modul dan media pembelajaran, penulis buku, hingga fasilitator pelatihan. Ada pula yang memilih menjadi kreator konten edukasi yang membagikan pengetahuan melalui berbagai platform digital, baik dalam bentuk video ataupun karya tulis.

Selain itu, lulusan pendidikan juga memiliki kemampuan pedagogis yang sebenarnya sangat berharga di berbagai bidang. Kemampuan menjelaskan konsep secara sederhana, menyusun materi secara sistematis, serta memahami cara orang belajar adalah keterampilan yang tidak dimiliki semua orang. Keterampilan ini dapat diterapkan dalam banyak profesi, mulai dari pelatihan karyawan, pengembangan kurikulum, hingga komunikasi edukatif di berbagai institusi.

Hal ini menunjukkan bahwa esensi dari pendidikan bukanlah sekadar tempat seseorang bekerja atau belajar, melainkan bagaimana ilmu yang dimiliki dapat dibagikan dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Menjadi guru di sekolah tentu tetap merupakan pilihan yang sangat baik dan mulia bagi lulusan sarjana pendidikan. Namun, menjadikan sekolah sebagai satu-satunya jalur karier juga bisa menjadi cara pandang yang terlalu sempit terhadap dunia pendidikan itu sendiri.

Sebab pada akhirnya, peran seorang pendidik tidak selalu ditentukan oleh ruang kelas tempat ia mengajar, tetapi tentang bagaimana ilmu yang dimiliki tetap dapat dibagikan kepada orang lain. Dan sebagai seorang sarjana pendidikan, salah satu cara yang saya pilih untuk berbagi ilmu adalah dengan menulis. Melalui tulisan, saya berharap tetap bisa menjalankan satu hal yang menjadi inti dari pendidikan itu sendiri, yakni berbagi ilmu kepada siapa pun yang ingin belajar.

Satu kalimat yang ingin saya sampaikan sebagai penutup tulisan ini: Tempat berbagi ilmu bukan hanya di sekolah, ruang belajar bukan hanya ruang kelas, dan ilmu bukan terbatas pada apa yang ada dalam buku pelajaran dan diajarkan di kelas.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda