Pernahkah Sobat Yoursay terbangun di pagi hari, melihat kalender, lalu menyadari bahwa hari ini adalah hari ulang tahunmu, namun perasaan kamu datar saja? Tidak ada letupan kembang api di dalam dada, tidak ada degup jantung kencang menunggu kejutan, bahkan mungkin kamu sempat lupa jika tidak ada notifikasi dari aplikasi bank atau operator seluler yang mengucapkan selamat paling awal.
Dulu, saat kita masih kecil, ulang tahun adalah sebuah peristiwa yang sangat besar. Kita menghitung hari menuju tanggal tersebut, membayangkan kue tart dengan karakter kartun favorit, dan menyusun daftar keinginan yang panjangnya melebihi struk belanja bulanan.
Namun, seiring bertambahnya usia—katakanlah saat kita mulai memasuki angka dua puluh akhir atau kepala tiga—ulang tahun perlahan bergeser dari "perayaan nasional" menjadi sekadar "hari yang biasa". Kenapa ya, kita semakin dewasa justru semakin merasa ulang tahun itu biasa saja?
Sebenarnya, fenomena ini punya penjelasan psikologis yang cukup masuk akal. Saat anak-anak, ulang tahun adalah simbol pencapaian. Menjadi lebih besar berarti mendapatkan lebih banyak kebebasan.
Tapi saat dewasa, bertambah usia sering kali berarti bertambahnya tanggung jawab, cicilan yang belum lunas, atau pengingat bahwa waktu terus berjalan sementara daftar life goals kita masih banyak yang belum dicentang. Alih-alih merasa menang, kita justru merasa sedikit terintimidasi oleh angka yang merangkak naik.
Sobat Yoursay, salah satu alasan kenapa kita tidak lagi berharap banyak pada hari ulang tahun adalah karena kita sudah terlalu lelah dengan ekspektasi.
Di dunia yang serba dipamerkan di media sosial, ada tekanan tidak tertulis bahwa ulang tahun harus dirayakan dengan makan malam mewah, buket bunga raksasa, atau kejutan dari lingkaran pertemanan yang solid. Namun, realitanya, banyak dari kita yang justru lebih menghargai waktu tidur delapan jam tanpa gangguan daripada pesta yang melelahkan sosial baterai kita.
Secara ilmiah, ini berkaitan dengan pergeseran prioritas di otak kita. Saat dewasa, kita menjadi lebih realistis. Kita mulai menyadari bahwa kebahagiaan tidak lagi bergantung pada validasi eksternal atau tumpukan kado yang dibungkus kertas warna-warni.
Kita mulai memahami bahwa hadiah terbaik sering kali bukanlah barang, melainkan kedamaian pikiran. Sebuah pesan singkat dari sahabat lama atau ucapan tulus dari orang tua terkadang terasa jauh lebih membahagiakan daripada seribu komentar dari orang asing di Instagram.
Namun, ada sisi melankolis yang juga menarik untuk dibahas. Menjadi dewasa berarti kita mulai terbiasa dengan kehilangan. Kita kehilangan masa kecil, kehilangan teman yang searah, bahkan mungkin kehilangan sosok yang dulu selalu merayakan ulang tahun kita paling meriah. Hal ini membuat kita membangun mekanisme pertahanan diri dengan cara menurunkan ekspektasi.
"Kalau aku tidak berharap apa-apa, maka aku tidak akan kecewa," begitu bisik hati kecil kita.
Tapi, Sobat Yoursay, apakah merasa ulang tahun itu biasa saja adalah hal yang buruk? Menurut saya, justru sebaliknya. Ini adalah tanda bahwa kita mulai berdamai dengan diri sendiri. Kita tidak lagi merasa perlu membuktikan kepada dunia bahwa kita dicintai melalui jumlah kado.
Kita menjadi lebih sadar bahwa setiap hari sebenarnya adalah kesempatan untuk memulai kembali, bukan hanya satu hari dalam setahun. Kedewasaan mengajarkan kita untuk merayakan hal-hal kecil setiap hari: kopi yang enak, pekerjaan yang selesai tepat waktu, atau sekadar bisa bernapas lega di akhir pekan.
Menariknya lagi, saat kita dewasa, kita cenderung melakukan "self-reward" tanpa menunggu tanggal lahir. Ingin sepatu baru? Beli saat gajian. Ingin makan enak? Pergi saja saat butuh mood booster. Karena kita sudah bisa memenuhi keinginan sendiri, fungsi ulang tahun sebagai "hari di mana permintaanku dikabulkan" otomatis luntur. Kita sudah menjadi "peri pelindung" bagi diri kita sendiri sepanjang tahun.
Sobat Yoursay, coba ingat-ingat kembali, kapan terakhir kali kamu benar-benar merasa antusias menyambut ulang tahun? Apakah itu sepuluh tahun yang lalu, atau mungkin kamu tipe orang yang sampai sekarang masih suka merayakannya dengan meriah? Tidak ada yang salah dengan keduanya. Yang menjadi masalah adalah jika kita merasa sedih hanya karena dunia tidak berhenti berputar saat kita bertambah usia.
Jadi, bagi Sobat Yoursay yang kebetulan hari ini atau sebentar lagi berulang tahun dan merasa tidak ingin melakukan apa-apa, jangan merasa bersalah.
Tidak merayakan apa-apa bukan berarti hidup kamu membosankan. Itu berarti kamu sudah tumbuh melampaui simbol-simbol, dan mulai menghargai esensi dari keberadaan itu sendiri.
Bagaimana dengan Sobat Yoursay? Apakah kamu termasuk tim yang masih menyiapkan outfit terbaik untuk hari ulang tahun, atau justru tim yang merasa hari ulang tahun paling pas digunakan untuk mematikan notifikasi HP dan maraton film sendirian di kamar?