Berpuasa, Bekerja di Jakarta dan Menguatkan Iman di Tengah Tekanan Urban

Bimo Aria Fundrika | Yayang Nanda Budiman
Berpuasa, Bekerja di Jakarta dan Menguatkan Iman di Tengah Tekanan Urban
Ilustrasi gedung-gedung perkotaan (Pixabay)

Ramadan selalu datang dengan nuansa keteduhan. Ia menghadirkan ruang hening di tengah hiruk-pikuk hidup. Namun, bagi para pekerja di Jakarta, bulan puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan juga tentang menaklukkan kerasnya ritme kota yang nyaris tak pernah memberi jeda.

Di kota yang denyutnya berdetak sejak subuh hingga larut malam, berpuasa menjadi ujian kesabaran yang berlapis. Lapar bukan satu-satunya tantangan dan dahaga bukan satu-satunya godaan.

Ada kemacetan, udara yang tak bersahabat, target kerja yang menekan, serta perjalanan panjang yang menguras tenaga. Semua itu menyatu menjadi pengalaman spiritual yang konkret, bukan sekadar ritual tahunan.

Antara Waktu Imsak dan Pintu KRL

Hari dimulai ketika langit masih gelap. Selepas sahur dan shalat subuh, ribuan pekerja bergegas menuju stasiun. Di peron, tubuh-tubuh berbaris rapat menanti kedatangan kereta. Ketika pintu terbuka, desakan menjadi keniscayaan. Di dalam gerbong KRL, ruang pribadi hampir tak ada. Nafas bercampur, peluh menyatu, dan tangan-tangan berpegangan pada gantungan dengan sisa tenaga yang dijaga agar tak terkuras sebelum siang.

Berpuasa dalam situasi seperti itu menguji kesabaran secara nyata. Ketika kaki terinjak, ketika badan terdorong, atau ketika kereta terlambat datang, emosi mudah tersulut. Padahal, inti puasa adalah menahan diri, termasuk dari amarah. Di sinilah makna spiritual bertemu dengan realitas kota.

Setiba di kantor, ujian belum selesai. Pekerjaan menanti dengan daftar target yang tak mengenal Ramadan. Presentasi harus selesai. Laporan harus dikirim. Penjualan harus tercapai. Di ruang-ruang berpendingin udara, wajah-wajah tampak lelah, tetapi tuntutan profesionalitas tak berkurang. Teguran atasan karena target belum terpenuhi bisa terasa lebih tajam ketika perut kosong dan tenggorokan kering.

Jakarta, dengan segala dinamika ekonominya, tidak memperlambat langkah hanya karena bulan suci tiba. Ia tetap bergerak cepat, kompetitif, dan kadang keras. Pekerja dituntut produktif, sementara tubuh meminta istirahat. Di titik ini, puasa bukan hanya ibadah personal, tetapi juga negosiasi antara idealisme spiritual dan tuntutan profesional.

Sabar yang Diuji di Jalan dan Ruang Kerja

Sore hari sering menjadi fase paling berat. Energi menipis, konsentrasi menurun, dan waktu berbuka terasa berjalan lambat. Bagi yang pulang menggunakan kendaraan pribadi, kemacetan menjadi teman setia. Deretan lampu merah, klakson bersahutan, dan panas aspal yang memantul ke kabin kendaraan menghadirkan suasana yang mudah memancing emosi.

Bagi para komuter KRL, tantangan tak kalah berat. Mereka harus berlari mengejar kereta agar tak tertinggal dan tiba di rumah semakin larut. Berlari dalam keadaan berpuasa bukan perkara ringan. Nafas terengah, keringat bercucuran, sementara waktu berbuka kadang harus dilakukan di gerbong yang penuh sesak dengan seteguk air dan sepotong kurma.

Belum lagi lembur yang tak terhindarkan. Deadline proyek atau laporan bulanan sering kali tidak bisa ditunda. Ketika azan maghrib berkumandang, sebagian pekerja masih duduk di depan layar komputer. Berbuka seadanya di meja kerja, lalu kembali mengetik hingga malam. Tubuh lelah, tetapi tanggung jawab tetap harus ditunaikan.

Dalam situasi seperti itu, kesabaran menjadi lebih dari sekadar konsep. Ia menjadi praktik sehari-hari. Menahan komentar pedas saat dimarahi atasan. Menahan klakson panjang ketika terjebak macet. Menahan keluhan berlebihan ketika jadwal transportasi tak menentu. Puasa menjelma latihan pengendalian diri yang paling nyata di tengah tekanan urban.

Menemukan Makna di Tengah Kelelahan

Di balik semua kepenatan itu, tersimpan pelajaran yang jarang disadari. Puasa di Jakarta mengajarkan bahwa spiritualitas tidak selalu hadir dalam keheningan. Ia bisa tumbuh di tengah kebisingan. Ia bisa bersemi di sela rapat dan perjalanan panjang.

Bagi sebagian pekerja, Ramadan justru menjadi momentum refleksi. Ketika tubuh terasa lemah, kesadaran akan keterbatasan diri menguat. Mereka belajar bahwa kesuksesan profesional bukan satu-satunya ukuran hidup. Ada dimensi batin yang perlu dirawat, bahkan ketika target menekan dari berbagai arah.

Puasa juga mempertemukan empati dengan pengalaman sehari-hari. Lapar yang dirasakan sepanjang hari membuka ruang untuk memahami mereka yang kekurangan. Kelelahan di perjalanan membuat seseorang lebih menghargai rumah sebagai tempat kembali. Teguran atasan mengingatkan pentingnya komunikasi yang lebih bijak dan manajemen emosi yang lebih matang.

Jakarta memang tak berubah selama Ramadan. Udara tetap berdebu, jalanan tetap macet, dan persaingan kerja tetap ketat. Namun, yang bisa berubah adalah cara menyikapinya. Puasa memberi kesempatan untuk melatih kesabaran dalam konteks paling riil. Ia bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi menahan diri agar tetap jujur, disiplin, dan profesional.

Pada akhirnya, perjuangan berpuasa bagi pekerja di Jakarta adalah kisah tentang keteguhan. Tentang bagaimana seseorang tetap berdiri di gerbong yang penuh sesak, tetap fokus di tengah tekanan target, dan tetap tersenyum meski hari terasa panjang. Di sanalah puasa menemukan maknanya yang paling dalam, bukan di ruang yang sunyi, melainkan di tengah riuh kota yang tak pernah benar-benar tidur.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak