Emas Lagi Gila, Dunia Lagi Takut: Safe Haven atau FOMO Massal?

Hayuning Ratri Hapsari | Leonardus Aji Wibowo
Emas Lagi Gila, Dunia Lagi Takut: Safe Haven atau FOMO Massal?
Ilustrasi emas batangan (Freepik/freepik)

Emas lagi naik gila-gilaan, dan semua orang panik masuk. Dari aset “aman” yang dulu cuma dipakai buat jaga nilai kekayaan, emas sekarang berubah jadi rebutan. Bukan cuma dibeli karena fungsinya sebagai pelindung nilai, tapi juga karena dianggap bisa jadi instrumen investasi yang menjanjikan, didorong rasa takut global dan euforia pasar.

Dalam beberapa bulan terakhir, emas bukan cuma naik, tapi juga bergerak ekstrem. Lonjakan tajam diikuti koreksi besar dalam waktu singkat membuat pergerakannya terlihat tidak wajar untuk ukuran emas yang selama ini dikenal stabil dan defensif.

Fenomena ini turut dibahas dalam sebuah video di YouTube oleh Raymond Chin. Dalam videonya, ia menyebut, “Ini aset lagi aneh banget… baru beberapa bulan yang lalu emas ngalamin kejadian yang cuma terjadi 40 tahun yang lalu.”

Raymond menjelaskan bahwa lonjakan emas bukan sekadar tren pasar biasa, tapi didorong euforia kolektif. “RSI-nya sampai di atas 90. Itu titik jenuh beli yang paling ekstrem sejak 40 tahun terakhir,” ujarnya, merujuk pada indikator teknikal yang menunjukkan pasar sudah terlalu penuh pembeli.

Ia juga menyoroti fenomena ikut-ikutan yang terjadi di masyarakat. “Gua yakin mayoritas dari orang yang beli itu cuma ikut-ikutan. Mereka enggak tahu kenapa emas ini naik kayak orang gila,” katanya dalam video tersebut.

Setelah euforia, emas justru sempat terkoreksi hampir 10 persen. Pergerakan ini jarang terjadi pada aset sekelas emas, bahkan disebut menyerupai pola aset spekulatif, bukan instrumen pelindung nilai.

Menurut Raymond, lonjakan harga emas saat ini bukan semata soal ekonomi, tapi soal ketakutan global. “Ini bukan sekadar panik biasa, ini fenomena wealth migration. Orang-orang kaya takut asetnya hilang karena sanksi global,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa harga emas digerakkan oleh tiga faktor besar: ketakutan global, kekuatan dolar Amerika Serikat, dan suku bunga riil AS. Ketika ketiganya saling bertabrakan, pasar menjadi tidak stabil dan harga emas bergerak tidak normal.

Raymond juga menegaskan bahwa emas bukan instrumen untuk kejar cuan cepat. “Emas itu safe haven untuk melindungi kekayaan, bukan untuk meledakkan kekayaan,” ucapnya.

Fenomena ini menunjukkan perubahan cara publik memaknai emas. Dari aset perlindungan jangka panjang, emas mulai diperlakukan sebagai alat spekulasi jangka pendek karena dorongan FOMO dan emosi kolektif.

Bagi generasi muda, tren ini menjadi pengingat penting bahwa investasi bukan soal ikut arus, tapi soal pemahaman. Naik bukan selalu berarti aman, dan viral bukan selalu berarti sehat.

Pada akhirnya, perdebatan “safe haven atau FOMO massal” bukan hanya soal emas, tetapi soal cara manusia bereaksi saat dunia terasa tidak aman. Ketika rasa takut mengalahkan logika, pasar pun bergerak bukan karena nilai, tetapi karena emosi kolektif.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak