Kolom

Monopoli Listrik Tapi Pelayanan Amburadul, Masih Pantaskah Dirut PLN Mempertahankan Jabatan?

Monopoli Listrik Tapi Pelayanan Amburadul, Masih Pantaskah Dirut PLN Mempertahankan Jabatan?
Foto ilustrasi suasana kota yang gelap gulita akibat pemadaman listrik. (Foto: Pexels/Matheus Natan)

Ada kabar yang lagi panas banget dan jadi bahan rasan-rasan di ruang rapat DPRD Provinsi Riau baru-baru ini. Jadi begini, mengutip berita yang dirilis sama media lokal cakaplah.com, Badan Musyawarah (Banmus) DPRD Riau sampai ikutan gerah dan mendesak pemerintah pusat biar segera mengevaluasi total kinerja Direktur Utama PLN. Langkah radikal ini mereka ambil bukan tanpa alasan kok. Pasalnya, wilayah Sumatra, terutama daerah Bumi Lancang Kuning, baru aja kena hantaman pemadaman listrik massal alias blackout yang durasinya parah banget, bikin dada sesak.

Coba bayangkan deh, pas cuaca lagi panas-panasnya ekstrem, eh listrik malah ikutan jebol berjam-jam tanpa ada info atau kejelasan kapan bakal nyala lagi. Ya jelas aja warga langsung ngamuk dan mencak-mencak di medsos. Nah, buat masyarakat kelas bawah yang setiap hari musti banting tulang demi sesuap nasi, desakan dari para wakil rakyat ini jelas bukan sekadar gertak sambal atau ajang cari muka politik doang. Ini murni jeritan riil dari ruang tamu warga yang pengap mirip oven, dari para pemilik warung nasi yang dagangannya terancam basi, sampai petugas medis yang kelimpangan di rumah sakit.

Pas Setrum Mokad, Urusan Perut dan Nyawa Ikut Dipertaruhkan

Kalau kita mau mikir pakai logika sehat, perkara mati lampu di zaman sekarang itu sebenarnya udah bukan masalah sepele lagi. Hari gini listrik itu bukan cuma sekadar alat biar rumah kita kelihatan terang benderang pas malam tiba. Malahan, setrum udah menjelma jadi urat nadi utama yang menggerakkan seluruh aktivitas kita sehari-hari. Begitu pasokan daya dari pusat mendadak lumpuh total, efek dominonya bakal merembet ke mana-mana tanpa permisi dan sukses merusak semua jadwal kerjaan kita.

Coba aja intip kejadian horor di rumah sakit pas mati lampu massal kemarin itu. Para perawat sama dokter dipaksa putar otak setengah mati biar mesin ventilator penunjang hidup tetap menyala, taruhannya nyawa manusia lho. Di sisi lain, masalah keamanan di kompleks perumahan langsung jadi momok yang bikin merinding. Gara-gara jalanan mendadak gelap gulita kayak kota mati, kondisi ini seolah-olah malah ngasih karpet merah bagi para pelaku kriminal buat melancarkan aksi nekat mereka.

Bagi para pelaku UMKM, ceritanya malah makin bikin elus dada lagi. Banyak emak-emak pedagang kecil yang mengeluh kulkas atau alat elektronik mereka langsung rusak mendadak. Hal itu terjadi gara-gara tegangan listrik yang mendadak naik-turun gak karuan pas arusnya mulai dialirkan kembali sama petugas. Bahkan, ada cerita apes yang agak unik tapi tragis dari komunitas pencinta ikan koi di Riau. Mereka harus gigit jari menelan kerugian sampai jutaan rupiah gara-gara ratusan ikan hias peliharaan mereka mati massal akibat generator oksigen di kolamnya mandek total. Kejadian-kejadian nyata kayak begini nih yang jadi bukti sahih kalau perkara blackout itu gak cuma bikin badan kita keringatan, tapi juga bikin dompet langsung boncos.

Monopoli Setrum Tapi Pelayanan Kok Masih Angot-angotan?

Kalau isu ini kita bawa ke obrolan yang lebih luas, ketahanan energi di suatu wilayah itu sejatinya jadi cermin utama buat menilai seberapa bagus infrastruktur di sebuah negara. Kalau urusan mendasar kayak pasokan daya di pulau segede Sumatra aja masih sering timbul-tenggelam alias byar-pet, gimana mungkin investor asing bakal percaya buat menanamkan modal gede mereka di sini? Yang ada mereka malah bakal mikir berulang kali sebelum berani buka pabrik atau kantor baru di Indonesia.

Satu hal krusial yang gak boleh kita lupain: posisi Perusahaan Listrik Negara (PLN) itu memegang kendali penuh alias monopoli mutlak atas urusan setrum di negeri ini. Secara moral, status monopoli tersebut sebenernya membawa beban tanggung jawab yang berat banget di pundak jajaran direksinya. Kenapa? Ya karena masyarakat kita kan gak punya pilihan vendor atau perusahaan saingan lain kalau mau beli daya listrik. Suka gak suka, ya belinya harus ke mereka.

Nah, pas terjadi kegagalan sistemik berskala besar sampai melumpuhkan satu pulau, kita sebagai konsumen gak bisa langsung pindah ke lain hati kayak pas lagi kecewa sama operator seluler. Kita dipaksa pasrah menerima nasib gitu aja, ngipas-ngipas badan pakai buku, sambil di sisi lain tetap wajib bayar tagihan bulanan tepat waktu tanpa boleh telat sehari pun. Ketimpangan relasi inilah yang bikin desakan dari DPRD Riau kemarin terasa masuk akal banget. Pemimpin tertinggi di perusahaan pelat merah itu udah sepatutnya berani pasang badan dan tanggung jawab penuh atas kerugian warga, bukannya malah hobi sembunyi di balik alasan gangguan teknis atau faktor cuaca yang kesannya klise dan itu-itu melulu.

Stop Gaya Manajemen Pemadam Kebakaran!

Ke depannya, kita semua pasti berharap manajemen PLN bisa tobat dan berubah total dalam mengelola sistem. Sudahlah, stop pakai gaya manajemen pemadam kebakaran, yang artinya baru sibuk grasak-grusuk bergerak pas apinya udah terlanjur membesar dan membakar semuanya. Publik sekarang lagi menagih janji nyata soal perbaikan di sistem cadangan daya (backup system) mereka, terutama buat mengamankan objek-objek vital pelayanan publik. Jangan sampai sistem pengaman cadangan kita justru ikutan melempem atau ikutan tumbang pas jalur transmisi utamanya lagi ada masalah teknis.

Pesan moral dari kekacauan massal ini sebenernya simpel banget: kekuasaan yang gede serta hak monopoli yang luas itu wajib dibarengi sama rasa tanggung jawab yang jauh lebih gede juga. Mengevaluasi kinerja kepemimpinan di tubuh BUMN itu bukan bentuk kebencian atau sentimen pribadi ya. Ini justru bagian dari mekanisme kontrol warga yang sehat supaya perusahaan milik negara gak gampang terlena di dalam zona nyaman mereka. Semoga aja para petinggi di pusat mau buka telinga lebar-lebar buat dengerin jeritan dari daerah, demi terwujudnya ketahanan energi nasional yang bener-bener tangguh dan gak bikin kecewa lagi.

Nah, menurut kalian gimana nih melihat kasus mati lampu massal yang sempat bikin lumpuh total aktivitas warga di seantero Sumatra kemarin? Apakah kalian setuju kalau jajaran direksi tertinggi PLN emang perlu dirombak atau dievaluasi total gara-gara insiden memprihatinkan ini? Atau mungkin kalian punya solusi lain yang lebih oke? Yuk, langsung aja tulis opini, unek-unek, atau pengalaman kocak sekaligus menyedihkan kalian pas mati lampu kemarin di kolom komentar bawah ya! Jangan cuma diam, belajar bersuara itu penting, lho!

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda