Kolom
Gen Z dan FOMO Hari Raya: Haruskah Momen Iduladha Juga Diposting?
Sebagai bagian dari generasi yang tumbuh bersama media sosial, saya sadar satu hal: sekarang hampir semua momen terasa “wajib” diposting. Mulai dari makanan, outfit, liburan, nongkrong, sampai momen hari raya Iduladha pun juga diunggah.
Belakangan saya sering melihat timeline penuh dengan konten suasana kurban, foto keluarga, hingga dokumentasi pembagian daging. Di satu sisi, saya paham bahwa orang ingin berbagi kebahagiaan.
Namun di sisi lain, saya mulai bertanya-tanya: apakah semua momen memang harus diunggah? Atau jangan-jangan, kita mulai mengalami FOMO bahkan dalam momen hari raya?
Media Sosial Membuat Kita Takut “Tidak Terlihat”
Menurut saya, salah satu hal yang paling terasa di era sekarang adalah tekanan untuk selalu terlihat aktif di media sosial. Rasanya aneh kalau tidak update sesuatu saat momen besar datang.
Hari raya jadi bukan cuma tentang menikmati suasana bersama keluarga, tapi juga soal “konten apa yang akan diposting”. Kadang tanpa sadar muncul pikiran: “Kalau orang lain update semua, aku juga harus upload”.
FOMO atau fear of missing out membuat banyak orang takut tertinggal dari aktivitas sosial di internet. Akhirnya momen yang seharusnya dijalani dengan tenang justru berubah jadi ajang dokumentasi.
Saya sendiri pernah merasakan itu. Bukannya menikmati suasana, malah sibuk mencari angle foto yang bagus atau memikirkan caption yang cocok untuk diunggah.
Ketika Momen Hari Raya Berubah Jadi Konten
Jujur saja, saya merasa media sosial sekarang membuat batas antara berbagi dan pamer jadi semakin tipis. Ada yang upload suasana keluarga dengan tulus, tapi ada juga yang terasa lebih fokus pada pencitraan.
Padahal menurut saya, Iduladha punya makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar konten media sosial. Ada nilai keikhlasan, rasa syukur, empati, dan pengorbanan yang sebenarnya lebih penting dirasakan daripada dipamerkan.
Namun di era digital, kadang semuanya terasa harus “layak posting” agar dianggap ada atau malah agar tidak merasa tertinggal dari orang lain.
FOMO Membuat Kita Sulit Menikmati Momen
Saya mulai sadar kalau terlalu sibuk memikirkan konten media sosial justru membuat kita kehilangan banyak hal kecil yang sebenarnya berharga.
Misalnya, ngobrol santai dengan keluarga, membantu pembagian daging kurban, menikmati suasana pagi Iduladha, atau sekadar duduk bersama tanpa sibuk membuka kamera.
Kadang kita terlalu fokus mengabadikan momen sampai lupa benar-benar hadir di dalam momen itu sendiri. Hal ini tidak lepas dari kebutuhan membagikan pengalaman agar terasa “valid”. Seolah sesuatu belum lengkap kalau belum diposting.
Haruskah Semua Hal Diposting?
Saya tidak merasa posting momen hari raya itu salah. Media sosial memang sudah menjadi bagian dari kehidupan sekarang, dan berbagi kebahagiaan juga hal yang wajar.
Namun yang saya pikir penting adalah alasan di baliknya. Apakah kita posting karena ingin berbagi rasa syukur? Atau karena takut merasa tertinggal kalau tidak ikut upload?
Kadang pertanyaan itu penting untuk direnungkan. Karena kalau semuanya dilakukan demi validasi sosial, lama-lama kita bisa kehilangan makna dari momen itu sendiri.
Menurut saya, ada kebahagiaan yang justru terasa lebih tenang ketika tidak selalu dibagikan ke banyak orang. Cukup dirasakan dan dinikmati.
Iduladha dan Pelajaran Tentang Keikhlasan
Yang saya pelajari dari Iduladha adalah tentang ketulusan dan kesederhanaan, memberi tanpa harus selalu dilihat orang lain. Di tengah budaya media sosial yang serba ingin dipamerkan, nilai seperti ini terasa semakin penting.
Kadang saya berpikir, mungkin bentuk “pengorbanan” modern bukan cuma soal materi, tapi juga kemampuan menahan ego untuk tidak selalu ingin terlihat. Karena sekarang godaan untuk mencari validasi memang besar sekali.
Sedikit-sedikit ingin diposting. Sedikit-sedikit ingin dipuji. Sedikit-sedikit ingin dianggap punya hidup yang menarik. Padahal hidup tidak harus selalu tampil sempurna di internet.
Gen Z dan Kebutuhan untuk “Terlihat Bahagia”
Saya merasa banyak anak muda sekarang hidup dengan tekanan untuk selalu terlihat bahagia dan produktif di media sosial, termasuk saat hari raya.
Akhirnya momen Iduladha pun kadang berubah jadi perlombaan kecil tentang siapa yang paling estetik, siapa yang paling ramai, siapa yang paling banyak aktivitasnya.
Padahal makna hari raya bukan tentang itu. Iduladha justru mengajarkan tentang empati, rasa cukup, dan kesederhanaan hati. Sesuatu yang sering tertutup oleh budaya flexing di media sosial.
Tidak Semua Momen Harus Jadi Konten
Sekarang saya mulai belajar menikmati momen tanpa merasa harus selalu mendokumentasikannya. Kadang saya ingin benar-benar hadir tanpa sibuk memikirkan postingan.
Karena pada akhirnya, Iduladha bukan tentang seberapa menarik konten yang kita unggah, tapi tentang seberapa tulus kita menjalani nilai-nilai di dalamnya.
Dan mungkin, di tengah budaya FOMO yang makin kuat ini, kemampuan untuk menikmati hidup tanpa selalu mencari validasi adalah bentuk ketenangan yang mulai langka.