Puasa Beduk: Refleksi Dosa Lucu yang Saya Ingat Ketika Lihat Anak Kecil Mokel

M. Reza Sulaiman | Sherly Azizah
Puasa Beduk:  Refleksi Dosa Lucu yang Saya Ingat Ketika Lihat Anak Kecil Mokel
Ilustrasi anak makan. (Pexels/MarsBars)

Saya masih ingat betul rasanya menjadi detektif paling andal di rumah sendiri saat berusia tujuh tahun. Misinya hanya satu: mencapai dapur tanpa terdeteksi oleh radar Ibu, lalu menenggak segelas air dingin secepat kilat. Setelahnya, saya akan keluar dengan wajah paling lemas sedunia, seolah-olah seluruh energi saya telah terkuras habis demi menahan lapar sejak subuh.

Kita semua mungkin punya folder "dosa lucu" serupa di ingatan masa kecil. Kalimat "Puasa Beduk" atau berbuka di tengah hari diam-diam seolah menjadi ritual tidak tertulis bagi anak-anak yang sedang belajar beribadah. Namun, jika kita melihat lebih dalam, fenomena ini sebenarnya adalah bagian dari tahap perkembangan moral manusia.

Melansir laporan dari Journal of Moral Education, anak-anak pada usia dini biasanya berada pada tahap "moralitas heteronom", di mana mereka patuh pada aturan hanya karena takut pada hukuman atau ingin menyenangkan orang dewasa. Itulah sebabnya, bagi saya saat itu, membatalkan puasa di balik pintu kamar mandi terasa seperti kemenangan kecil, selama tidak ketahuan oleh Ibu atau Kakak.

Namun, yang menarik untuk dibedah adalah momen transisi dari "takut ketahuan manusia" menjadi "malu pada Tuhan". Dalam psikologi perkembangan, ini disebut sebagai internalisasi nilai.

Saya teringat momen ketika saya sedang asyik mengunyah biskuit di pojok kamar, tiba-tiba ada perasaan tidak nyaman yang menyelinap di dada. Bukan takut tertangkap basah, melainkan rasa bersalah yang halus. Saat itu, saya baru menyadari konsep yang sering disebut Jean Piaget sebagai otonomi moral—ketika aturan bukan lagi beban dari luar, melainkan komitmen dari dalam diri.

Mari kita jujur pada diri sendiri. Kenangan "mokel" diam-diam itu sebenarnya adalah laboratorium kejujuran pertama kita. Di sana, kita belajar bahwa ibadah puasa adalah satu-satunya ritual yang paling privat. Tidak ada yang tahu kita benar-benar puasa atau tidak, kecuali diri sendiri dan Sang Pencipta. Puasa adalah latihan pertama saya untuk memahami bahwa ada "Mata" yang tetap melihat meski semua pintu sudah dikunci rapat.

Saya sering tersenyum sendiri melihat anak-anak kecil zaman sekarang yang bibirnya putih karena bedak—trik lama agar terlihat pucat dan lemas, padahal baru saja menelan sisa sirup di meja makan. Kehadiran "dosa-dosa lucu" ini seharusnya tidak membuat kita menjadi hakim yang galak. Itu artinya, mereka sedang dalam proses mencerna makna amanah.

Bagi saya, mengenang masa-masa itu adalah pengingat yang sangat tajam. Jika dulu saya merasa berdosa hanya karena segelas air putih, mengapa sekarang, saat sudah dewasa, saya kadang lebih berani "membatalkan" nilai-nilai puasa yang lebih besar?

Kita mungkin tidak lagi minum diam-diam di siang hari, tapi sering kali kita "mokel" secara spiritual lewat ghibah, sombong, atau mengabaikan hak orang lain di balik wajah kita yang tampak suci di masjid.

Ramadan tahun ini, saat melihat anak kecil yang tampak mencurigakan keluar dari dapur dengan sisa air di ujung bibir, saya memilih untuk tidak menghardik. Saya justru ingin berbisik pada diri sendiri: "Dulu kamu juga begitu, dan itulah cara Tuhan mengajarimu tentang kejujuran."

Puasa bukan sekadar tentang perut yang kosong, melainkan tentang membangun integritas di saat tidak ada seorang pun yang melihat. Kenangan masa kecil itu adalah fondasi. Bahwa pada suatu titik, kita harus berhenti bersembunyi di balik pintu kamar mandi dan mulai belajar tegak berdiri di hadapan-Nya.

Jadi, sebelum kita merasa menjadi orang dewasa yang paling taat, mari kita cek dulu, apakah kejujuran kita hari ini masih sekelas "puasa beduk" yang hanya rapi di depan manusia, atau sudah benar-benar tulus karena merasa diawasi oleh-Nya?

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak