Lapar Ternyata Bisa Membuka Topeng Kesalehan yang Selama Ini Saya Pakai

Lintang Siltya Utami | Sherly Azizah
Lapar Ternyata Bisa Membuka Topeng Kesalehan yang Selama Ini Saya Pakai
Ilustrasi buka puasa (pexels/Sami Abdullah)

Jujur saja, saya pernah merasa menjadi orang paling suci sedunia saat jam menunjukkan pukul sepuluh pagi di hari pertama Ramadan. Rasanya tenang, khusyuk, dan penuh kendali.

Tapi, begitu jarum jam menyentuh angka empat sore, saat tenggorokan mulai terasa seperti amplas dan perut mulai berisik melakukan protes, "malaikat" dalam diri saya perlahan pamit. Berganti dengan sosok yang gampang tersinggung, malas diajak bicara, dan rasanya ingin marah kalau melihat orang menyetir motor dengan sembarangan di jalan.

Nah, ketika saya baca tulisan di American Psychological Association, fenomena ini sering disebut "Hangry" (Hungry and Angry). Saat kadar glukosa darah kita turun, otak kehilangan kemampuan untuk mengerem emosi negatif. Tapi bagi saya, ini bukan cuma soal sains. Ini adalah momen di mana "topeng" kesalehan saya luntur oleh rasa lapar.

Selama sebelas bulan lainnya, saya sering kali "menyuap" masalah saya dengan makanan. Sedang stres? Makan. Sedang bosan? Ngemil. Sedang sedih? Cari comfort food. Makanan telah menjadi pelarian termudah bagi saya untuk tidak berhadapan dengan emosi yang sebenarnya. Saya merasa menjadi orang baik hanya karena kebutuhan dasar saya selalu terpenuhi.

Lalu Ramadan datang dan merampas semua pelarian itu. Saya dipaksa duduk diam dengan rasa lapar saya sendiri. Di situlah saya sadar, ternyata ego saya selama ini sangat manja.

Saat perut kosong, saya baru menyadari betapa rapuhnya harga diri yang saya bangun. Saya yang biasanya merasa pintar dan berwibawa, mendadak merasa "tumbang" hanya karena aroma tumisan tetangga yang menyelinap masuk lewat jendela. Di titik itu, rasa lapar menjadi cermin yang sangat jujur. Ia menelanjangi siapa saya sebenarnya saat tidak ada makanan yang bisa membungkam keresahan saya.

Saya mulai bertanya pada diri sendiri: "Kalau tanpa makanan saja saya jadi pemarah, lantas di mana letak hasil ibadah saya selama ini?" Jika kesabaran saya hanya bertahan selama perut kenyang, berarti itu bukan sabar, itu hanyalah rasa puas karena keinginan sudah terpenuhi.

Mengenali diri dalam lapar adalah perjalanan yang melelahkan namun membebaskan. Saya belajar bahwa energi fisik yang menurun justru bisa menjadi cara untuk menaikkan energi spiritual. Saat energi untuk marah-marah berkurang karena lemas, saya mencoba menyalurkan sisa energi itu untuk mendengar suara hati yang lebih dalam. Suara yang biasanya tenggelam oleh bisingnya kunyahan dan obrolan tak penting di meja makan.

Lapar mengajarkan saya tentang kejujuran yang pahit. Bahwa di balik pakaian rapi dan senyum yang saya tunjukkan di kantor, masih ada "monster" ego yang perlu dijinakkan. Puasa bukan sekadar memindahkan jam makan, tapi memindahkan kendali hidup dari perut kembali ke hati. Saya belajar menjadi tuan atas tubuh saya sendiri, bukan budak yang disetir oleh rasa lapar.

Ramadan tahun ini, saya tidak lagi sekadar menghitung mundur menuju azan Maghrib. Saya justru mencoba "menikmati" setiap detak keroncongan perut sebagai pengingat: "Inilah aslinya kamu, manusia yang lemah tanpa pemberian Tuhan." Kemenangan sejati bagi saya bukan lagi saat berhasil menghabiskan tiga piring saat berbuka, melainkan saat saya bisa tetap tersenyum dan tenang meski perut sedang sangat meminta. Karena pada akhirnya, puasa bukan tentang seberapa kuat kita menahan lapar, tapi seberapa kenal kita dengan diri sendiri saat sedang tidak memiliki apa-apa untuk dimakan.

Jadi, sudahkah Anda menyapa "diri Anda yang asli" di balik rasa lapar hari ini? Saya sudah, dan ternyata, saya masih punya banyak PR untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak