Perut Kenyang tapi Tas Kosong: Ketika Nasi Gratis Tak Bisa Gantikan Buku Tulis

M. Reza Sulaiman | Juandi Manullang
Perut Kenyang tapi Tas Kosong: Ketika Nasi Gratis Tak Bisa Gantikan Buku Tulis
Ilustrasi anak-anak sedang belajar di sekolah. (Pixabay)

Begitu menyedihkan ketika fakta terungkap bahwa seorang siswa kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, meninggal dunia akibat gantung diri. Sebelum bunuh diri, YBS (10) meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena, namun tidak dikabulkan karena ibunya tidak punya uang.

Kondisi tersebut sangat memilukan. Seharusnya anak-anak memiliki fasilitas, sarana, dan prasarana yang baik dan cukup dalam proses pengembangan pendidikannya, namun harus berakhir tragis karena tidak punya buku dan pena. Kalau sudah begitu, ke manakah negara? Ironis!

Pasal 31 UUD 1945 menyatakan, "Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional."

Dalam konstitusi kita sudah mengamanatkan demikian, namun kenapa anak-anak masih sulit mendapatkan hak pendidikannya? Hanya untuk mendapatkan fasilitas, sarana, dan prasarana yang memadai saja sulit, jadi mau bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan dan kualitas SDM kita?

Jangan Terulang Lagi

Harapan selalu kita panjatkan kepada pemerintah dari semua kejadian yang sangat serius dalam negara ini. Masyarakat selalu mengkritik dan mengontrol setiap kebijakan pemerintah dalam penyelenggaraan negara agar berjalan dan bersesuaian dengan keinginan negara. Namun, dalam dunia pendidikan masih sering terjadi kejadian buruk yang memilukan.

Kita selalu berharap agar kejadian tersebut jangan terulang lagi. Namun, masih tetap saja dunia pendidikan berduka. Dari kejadian itu, apakah negara akan berbenah dan mencoba membuka mata terhadap kebutuhan pendidikan oleh anak-anak di Indonesia?

Pemerintah sibuk dengan program andalan Makanan Bergizi Gratis (MBG), namun lupa dengan sarana dan prasarana pendidikan. MBG bagus, tetapi lebih bagus lagi bila semua fasilitas pendidikan mendukung anak-anak untuk menjadi cerdas, berwibawa, dan bermartabat.

Apakah tidak bisa MBG berjalan beriringan dengan penyediaan sarana dan prasarana yang baik di dunia pendidikan? Tentu saja bisa apabila anggaran pendidikan yang diamanatkan oleh UUD 1945 dilaksanakan dengan baik.

Apa mungkin negara tidak bisa menyediakan buku dan pena bagi anak-anak di Indonesia? Buku dan pena dapat mengubah dunia. Buku merupakan jendela dunia yang di dalamnya ilmu pengetahuan bersemayam. Di dalam pena, anak-anak dapat menuliskan inspirasi, kecerdasan, dan kemampuannya yang selama ini dianut di sekolah.

Seharusnya negara berfokus juga untuk melakukan pendataan kepada sekolah-sekolah di Indonesia untuk menemukan siswa-siswi yang tidak mampu dan belum memiliki fasilitas pendidikan untuk menunjang proses belajar-mengajar di sekolah.

Pemerintah harusnya melihat dulu keperluan siswa-siswi di sekolah yang paling penting daripada harus memberinya makanan bergizi saja. Anak-anak akan merasa minder atau tersingkir ketika melihat teman-temannya memiliki buku dan pena, sedangkan dia hanya melihat saja, bengong, dan tidak bisa berbuat apa-apa di sekolah. Si anak akan merasa iri terhadap temannya yang mampu. Di situlah negara hadir untuk mengisi kekosongan tersebut dan menyiapkan kebutuhan pendidikan.

Dalam tulisan Umbu Pariangu mencatatkan bahwa Nelson Mandela pernah mengatakan, "Sebuah negara tidak seharusnya dinilai dari bagaimana ia memperlakukan warga yang paling tinggi/terhormat, melainkan dari bagaimana ia memperlakukan warga yang paling lemah/rentan."

Dari kondisi tersebut, dapat kita sampaikan bahwa pemerintah harus membuka mata terhadap setiap permintaan dan jeritan masyarakat. Pemerintah ada karena adanya masyarakat yang memilih dan mendukung. Karena itu, cobalah melihat sampai ke akar rumput, apa sebenarnya yang dibutuhkan masyarakat.

Di sinilah pentingnya kepekaan tanpa harus meminta maupun menjerit agar didengarkan. Bisakah kejadian tersebut tidak terulang lagi? Atau akan terus terjadi karena pemerintah menutup diri? Kita mau lihat respons setelah kejadian ini.

Hidup dalam Kemiskinan

Problem kehidupan kita saat ini adalah hidup dalam kemiskinan. Masyarakat masih banyak yang miskin sehingga sulit untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan anak. Untuk membeli pena dan buku saja sulit. Kondisi inilah yang sampai sekarang masih sulit untuk diatasi. Dari data-data yang ada, kemiskinan di Indonesia masih banyak. Oleh karenanya, harus dicari solusi dalam mengatasinya.

Tentu saja pembukaan lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya menjadi penting. Membentuk jiwa-jiwa entrepreneur juga penting. Di tengah sulitnya pekerjaan, mengedukasi masyarakat untuk menjadi entrepreneur atau minimal membuka usaha berskala mikro dan menengah menjadi sangat penting.

Semua itu terwujud dengan peran pemerintah yang memberi support dan pengetahuan. Pengetahuan itu didapat dari pendidikan dan pelatihan sehingga harus diperkuat dari hal tersebut. Banyak hal yang bisa dilakukan agar mendorong perekonomian rakyat lebih cepat dan berkembang. Tinggal jawabannya apakah kita mau atau tidak.

Generasi muda harus menjadi sasaran utama, karena merekalah tonggak penerus kemajuan bangsa. Memberi MBG tidaklah cukup, memberikan pendidikan dan pelatihan juga yang terpenting. Itulah masukan bagi pemimpin negeri ini untuk dapat diaktualisasikan dalam kehidupan. Jika beberapa hal tersebut dapat dilaksanakan, kita percaya akan tumbuh insan muda yang cerdas, cermat, dan berguna.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak