Kolom

Pergi Bukan Berarti Gagal: Memilih Diri Sendiri dari Jerat Toxic Relationship

Pergi Bukan Berarti Gagal: Memilih Diri Sendiri dari Jerat Toxic Relationship
ilustrasi pasangan (Pexels.com/cottonbro studio)

Saya pernah berada di hubungan yang membuat saya terus bertanya: ini cinta atau sekadar kebiasaan yang sulit dilepas? Awalnya semua terasa biasa. Bahkan mungkin terlihat “baik-baik saja” dari luar. Tapi semakin dijalani, saya mulai merasa ada yang tidak beres. Bukan karena konflik besar, tapi karena hal-hal kecil yang terus berulang dan perlahan menguras energi. Dan jujur, yang paling sulit bukan menyadari, melainkan menerima kenyataan bahwa saya harus pergi.

Toxic Relationship Tidak Selalu Terlihat Jelas

Selama ini, saya pikir hubungan tidak sehat itu selalu penuh drama besar. Ternyata tidak. Kadang, ia hadir dalam bentuk yang lebih halus seperti perasaan tidak dihargai, komunikasi yang selalu membuat saya merasa salah, atau ketidaknyamanan yang sulit dijelaskan.

Dalam situasi hubungan yang tidak sehat ini, kita mungkin jadi sering meragukan perasaan sendiri. Bahkan muncul pertanyaan yang meragukan diri sendiri, “Apa saya yang terlalu sensitif?” Dan itu membuat hubungan toksik bertahan lebih lama dari yang seharusnya.

Terjebak karena Terlalu Banyak Alasan

Salah satu alasan kenapa saya sulit pergi adalah karena saya selalu punya pembenaran. “Mungkin dia lagi capek.” “Mungkin saya yang kurang mengerti.” “Nanti juga berubah.” Saya terus memberi toleransi, berharap keadaan akan membaik. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Saya semakin lelah, semakin kehilangan diri sendiri, dan semakin sulit membedakan mana yang benar-benar saya rasakan.

Hal yang paling menyakitkan bukan perlakuannya, tapi bagaimana saya berubah tanpa sadar. Saya jadi lebih sering menahan diri. Lebih banyak diam. Lebih takut untuk jujur. Saya mulai menyesuaikan diri agar hubungan tetap berjalan, meski harus mengorbankan kenyamanan sendiri.

Titik Balik: Saat Saya Mulai Jujur pada Diri Sendiri

Tidak ada momen dramatis yang membuat saya tiba-tiba sadar. Hanya satu perasaan yang terus muncul: lelah. Lelah merasa tidak cukup. Lelah terus berusaha sendiri. Lelah mempertahankan sesuatu yang tidak memberi ruang untuk saya. Dan untuk pertama kalinya, saya berhenti mencari alasan untuk dia. Saya mulai bertanya: bagaimana dengan saya? Di titik ini, saya mulai memikirkan untuk pergi dan memilih diri sendiri lebih dulu.

Pergi Bukan Berarti Gagal

Salah satu hal yang membuat saya ragu adalah rasa takut dianggap gagal. Seolah-olah, jika hubungan berakhir, berarti saya tidak cukup berjuang. Padahal, saya sudah berusaha. Dan saya mulai menyadari kalau bertahan bukan selalu berarti kuat. Kadang, pergi justru bentuk keberanian. Bukan karena saya menyerah, tapi karena saya memilih mengutamakan diri sendiri.

Sayangnya, proses ini tidaklah instan. Pergi dari hubungan tidak sehat bukan hal yang mudah. Ada rasa rindu, ada keraguan, ada momen ingin kembali. Saya tidak langsung merasa lega. Justru ada kekosongan yang harus saya hadapi. Tapi di tengah proses itu, saya mulai menemukan kembali diri saya sedikit demi sedikit.

Memilih Diri Sendiri Bukan Egois

Salah satu hal yang saya jadikan pegangan adalah keputusan untuk memilih diri sendiri bukan berarti egois. Selama ini, saya terlalu fokus menjaga orang lain sampai lupa menjaga diri sendiri. Padahal, saya juga berhak merasa nyaman. Berhak dihargai. Berhak berada di hubungan yang sehat. Dan itu bukan tuntutan berlebihan; itu kebutuhan.

Belajar pergi dari toxic relationship adalah salah satu proses paling berat yang pernah saya jalani, tapi juga salah satu yang paling menyadarkan bahwa cinta tidak seharusnya membuat saya kehilangan diri sendiri. Bahwa hubungan tidak seharusnya terasa seperti beban. Dan bahwa saya punya pilihan untuk tetap bertahan, atau untuk pergi. Saat saya memilih pergi, bukan karena tidak peduli, tapi karena untuk pertama kalinya saya memilih diri saya sendiri.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda