Kolom

Tradisi THR Lebaran saat Ekonomi Sulit: Antara Berbagi dan Tuntutan Sosial

Tradisi THR Lebaran saat Ekonomi Sulit: Antara Berbagi dan Tuntutan Sosial
Ilustrasi berbagi THR Lebaran (Pexels/bangunstockproduction)

Setiap Lebaran tiba, ada satu momen yang selalu terasa hangat sekaligus menggelisahkan bagi saya, yaitu membagikan THR. Di satu sisi, ada kebahagiaan sederhana saat melihat senyum anak-anak kecil menerima amplop berisi uang.

Di sisi lain, ada perhitungan diam-diam di kepala saya soal cukup tidak ya untuk kebutuhan setelah hari raya nanti. 

Saya tumbuh dalam lingkungan yang menjadikan THR sebagai tradisi yang nyaris tak tertulis, tapi wajib dilakukan. Sejak dulu, orang tua saya selalu menyisihkan sebagian rezeki untuk dibagikan kepada keponakan, anak tetangga, bahkan kadang kepada orang-orang yang datang bersilaturahmi. Dari situ saya belajar bahwa THR bukan sekadar uang, melainkan simbol berbagi kebahagiaan.

Berbagi THR dan Tanggung Jawab Sosial

Namun, semakin dewasa, saya mulai menyadari bahwa tradisi ini tidak sesederhana yang terlihat. Ada fase ketika saya masih menjadi penerima THR, di mana semuanya terasa ringan. Lebaran pun identik dengan uang saku tambahan, baju baru, dan makanan enak. 

Tapi begitu saya beralih peran menjadi pemberi, perspektif saya berubah total. THR tidak lagi sekadar amplop, melainkan tanggung jawab sosial yang datang bersamaan dengan ekspektasi. Dan jujur saja, ekspektasi itu sering kali terasa berat.

Di tengah kondisi ekonomi yang tidak selalu stabil, saya kerap berada dalam dilema. Harga kebutuhan pokok naik, pengeluaran rutin meningkat, dan kebutuhan pribadi pun tak bisa diabaikan. Tapi di saat yang sama, Lebaran datang dengan “tradisi berbagi” yang seolah tidak memberi ruang untuk menolak.

Saya pernah mencoba mengurangi jumlah THR yang saya berikan. Bukan karena tidak ingin berbagi, tapi karena memang harus menyesuaikan dengan kondisi keuangan. Namun, keputusan itu sempat membuat saya merasa bersalah. 

Ada perasaan seolah saya tidak cukup “baik” dalam menjalankan tradisi yang sudah mengakar ini. Padahal, kalau dipikir-pikir, esensi THR seharusnya bukan pada nominalnya.

Memaknai Ulang Tradisi THR

Saya kemudian mulai belajar memaknai ulang tradisi ini. Bahwa berbagi tidak harus selalu besar, tidak harus memaksakan diri, dan tidak harus mengikuti standar orang lain. THR, bagi saya sekarang, adalah bentuk niat baik, bukan ajang pembuktian kemampuan finansial.

Masalahnya, lingkungan sosial sering kali tidak sesederhana itu. Ada momen ketika anak-anak membandingkan jumlah THR yang mereka terima. Ada juga orang dewasa yang secara tidak langsung memberi tekanan, entah lewat candaan atau komentar ringan seperti, “Masa segitu doang?” 

Kalimat-kalimat seperti itu mungkin terdengar sepele, tapi cukup untuk membuat saya berpikir ulang tentang apa yang saya berikan. Di situlah saya merasa tradisi THR mulai bergeser. Dari yang awalnya tulus, perlahan berubah menjadi sesuatu yang sarat ekspektasi.

THR di Tengah Kondisi Ekonomi yang Goyah

Saya tidak ingin berhenti memberi. Saya masih percaya bahwa berbagi adalah bagian penting dari Lebaran. Tapi saya juga tidak ingin mengorbankan kondisi keuangan saya sendiri hanya demi memenuhi standar sosial yang tidak jelas batasnya.

Akhirnya, saya mencoba mencari jalan tengah. Saya mulai membuat anggaran khusus untuk THR, jauh sebelum Lebaran tiba. Saya menentukan batas yang realistis, bukan ideal. Saya juga mulai mengubah cara pandang saya bahwa tidak semua orang harus saya beri, dan tidak semua pemberian harus dalam bentuk uang besar.

Kadang, saya mengganti sebagian THR dengan bentuk lain, seperti hadiah kecil atau bahkan sekadar traktiran sederhana. Dan ternyata, kebahagiaan itu tetap ada. Senyum anak-anak tidak selalu bergantung pada angka di dalam amplop.

Dari situ saya belajar satu hal penting bahwa kebahagiaan dalam berbagi itu lebih tentang kehadiran dan ketulusan, bukan jumlah.

Lebaran: Momen untuk Kembali

Lebaran seharusnya menjadi momen untuk kembali ke makna—bukan justru terjebak dalam tekanan sosial yang melelahkan. Tradisi THR memang indah, tapi akan kehilangan maknanya jika dijalankan dengan rasa terpaksa.

Saya juga mulai berdamai dengan diri sendiri. Bahwa kemampuan setiap orang berbeda, dan itu tidak perlu dibandingkan. Bahwa memberi dalam batas kemampuan bukanlah sesuatu yang memalukan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.

Karena pada akhirnya, saya sadar kalau saya tidak bisa membahagiakan orang lain jika saya sendiri sedang merasa terbebani.

Tradisi THR Lebaran akan selalu menjadi bagian dari hidup saya. Tapi kini, saya memilih menjalaninya dengan cara yang lebih jujur, tanpa tekanan, tanpa paksaan, dan tanpa kehilangan makna.

Saya tetap ingin berbagi kebahagiaan, tapi bukan dengan mengorbankan kestabilan saya sendiri. Sebab bagi saya, Lebaran bukan tentang seberapa banyak yang kita beri, melainkan seberapa tulus kita melakukannya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda