Kolom

Jejak Intelijen dan Napas Pancasila: Belajar Keteguhan dari Seorang Asad Said Ali

Jejak Intelijen dan Napas Pancasila: Belajar Keteguhan dari Seorang Asad Said Ali
Beliau menyempatkan diri untuk foto bersama saya sebelum mengakhiri silaturahim di hari itu, di kantornya. Foto bersama pak Asad Said Ali. (Dok. Pribadi / Herlambang Kavin Huda)

Pagi itu, 6 April 2026, jarum jam baru saja menunjukkan pukul 09.00 WIB ketika saya melangkah menuju sebuah kantor di bilangan Tebet Timur Dalam II No. 36. Suasana tenang di samping Restoran Sambel Hejo menjadi saksi sebuah pertemuan yang sangat bermakna. Di sana, saya disambut oleh sosok yang sangat saya hormati dan kagumi sejak mulai mendalami dari luar tentang bagaimana sebenarnya dunia intelijen, Bapak As’ad Said Ali.

Beliau bukan sekadar tokoh nasional. Bagi publik, beliau adalah pemikir di balik buku Negara Pancasila: Jalan Kemaslahatan Bangsa. Namun bagi saya, pertemuan pagi itu adalah sebuah upaya tulus untuk menyambung kembali tali silaturahmi dalam ikatan keluarga besar.

Kehangatan di Tengah Keterbatasan

Diskusi yang berlangsung selama kurang lebih 1,5 jam itu terasa sangat melankolis namun inspiratif. Di usia senjanya, Bapak As’ad saat ini tengah berjuang melawan penyakit Alzheimer. Namun, yang membuat saya takjub adalah bagaimana sisa-sisa ingatan beliau masih memancarkan semangat kebangsaan yang kuat. Meskipun ada momen di mana ingatan beliau melambat, binar mata seorang pejuang tidak pernah bohong.

Ada satu momen yang menggetarkan hati saat saya memperkenalkan diri sebagai putra dari sesama warga Kudus, "Izin Pakde, saya putra Bapak Hilal Masykur. Saking Jekulo, Kudus." Beliau langsung bereaksi dengan antusias, "Oh ya? Beliau masih hidup? Dulu papamu naik motor, saya naik sepeda hehehe. Saya kenal dengan beliau," tuturnya.

Namun, karena kondisi kesehatannya, pertanyaan itu diucapkan berulang kali dalam rentang waktu yang singkat. Di satu sisi, saya merasa sangat bangga karena ayahanda saya diingat olehnya, namun di sisi lain, ada rasa sedih yang mendalam melihat bagaimana ingatan fisik mulai mengkhianati sosok jenius ini.

Masa Kejayaan di BIN: Era Syamsir Siregar

Nama Pak As’ad memang tidak bisa dipisahkan dari sejarah Badan Intelijen Negara (BIN). Beliau bercerita dengan jeda yang penuh makna tentang masa-masa ketika beliau mengemban amanah sebagai Wakil Kepala BIN (Wakabin) di bawah naungan Jenderal TNI (Purn) Syamsir Siregar.

Duet kepemimpinan mereka dikenal sebagai masa di mana integritas dan ketajaman analisis menjadi napas utama lembaga tersebut. Beliau mengenang bagaimana dinamika menjaga kedaulatan bangsa dilakukan dengan penuh kedisiplinan. Pengalaman inilah yang kemudian ia kristalisasi ke dalam pemikiran-pemikirannya bahwa menjaga negara bukan sekadar soal spionase, melainkan menjaga kemaslahatan seluruh rakyat melalui napas Pancasila. Yang saya kagumi adalah, beliau tetap menjaga napas Pancasilanya bahkan meski harus bertugas selama kurang lebih 9 tahun di Suriah, Timur Tengah.

Buah Tangan dan Pertanyaan Terakhir

Satu setengah jam berlalu tanpa terasa. Sebelum saya berpamitan, alhamdulillah saya mendapatkan buah tangan istimewa langsung dari beliau, yakni buku Negara Pancasila: Jalan Kemaslahatan Bangsa. Sebuah "estafet" pemikiran yang akan saya jaga baik-baik.

Namun, ada satu momen lagi yang takkan saya lupakan. Sesaat sebelum beliau menutup pintu kantornya, Pak As’ad menoleh dan melontarkan satu pertanyaan terakhir yang sangat personal.

"Sudah berkeluarga?" tanya beliau lembut.

Dengan sikap tegap dan suara lantang, saya menjawab, "Siap, sudah Pakde. Mohon doanya selalu, ya." Akan terasa biasa saja bila pertanyaan semacam itu dilontarkan oleh orang lain, namun tidak begitu apabila yang mempertanyakan itu adalah seorang kiai, ulama, dan seorang mantan pejabat tinggi Badan Intelijen Negara.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda