Kolom

Lebaran Ala Mahasiswa: Antara Silaturahmi sama Saudara dan Salaman sama Tugas

Lebaran Ala Mahasiswa: Antara Silaturahmi sama Saudara dan Salaman sama Tugas
Seorang mahasiswa duduk di kamar saat Lebaran, mengenakan baju rapi namun membuka laptop, dengan suasana keluarga di luar ruangan. (Pexels/Kaushal Moradiya)

Lebaran selalu identik dengan kata “libur”. Waktunya pulang, berkumpul dengan keluarga, makan opor tanpa memikirkan kalori, dan tentu saja menerima THR. Namun, bagi sebagian mahasiswa, ada satu hal yang tidak ikut libur: tugas.

Di tengah suasana hangat Idulfitri, notifikasi deadline justru terasa semakin dingin. Saat orang lain sibuk bersilaturahmi, tidak sedikit mahasiswa yang diam-diam membuka laptop di kamar. Bukan karena tidak ingin berkumpul, melainkan karena ada tanggung jawab yang tetap menunggu untuk diselesaikan.

Fenomena ini bukan hal baru. Tetapi setiap tahun, rasanya tetap saja mengejutkan.

THR Versi Mahasiswa: Tugas Hari Raya

Jika pekerja mendapatkan Tunjangan Hari Raya (THR), mahasiswa sering bercanda memiliki versi lain dari THR: Tugas Hari Raya.

Istilah ini bukan sekadar lelucon. Dalam praktiknya, banyak mahasiswa memang tetap menerima tugas dari berbagai mata kuliah menjelang atau bahkan saat libur Lebaran. Tidak hanya satu atau dua, tetapi bisa hampir dari seluruh mata kuliah yang diambil.

Akibatnya, libur yang seharusnya menjadi waktu istirahat justru berubah menjadi momen mengejar deadline. Ada yang mengerjakan laporan, membuat presentasi, hingga meninjau (review) jurnal—semua dilakukan di sela-sela suasana Lebaran.

Bayangan menikmati kue nastar pun kadang berubah menjadi “menikmati revisi”.

Libur yang Tidak Sepenuhnya Libur

Berbeda dengan masa sekolah, dunia perkuliahan memang menuntut kemandirian yang lebih tinggi. Mahasiswa dianggap mampu mengatur waktu dan tanggung jawabnya sendiri, termasuk saat liburan.

Namun, realitanya tidak selalu sesederhana itu. Pemberian tugas selama libur Lebaran membuat pikiran mahasiswa terbagi. Di satu sisi, mereka ingin menikmati momen bersama keluarga yang hanya datang setahun sekali. Di sisi lain, ada tekanan untuk menyelesaikan tugas tepat waktu.

Akibatnya, libur terasa “setengah”. Secara fisik mungkin berada di rumah, tetapi pikiran masih tertinggal pada deadline yang terus menghantui.

Tidak jarang, mahasiswa justru merasa tidak benar-benar beristirahat. Bahkan setelah Lebaran usai, rasa lelah tetap ada karena selama libur pun mereka tidak benar-benar lepas dari beban akademik.

Antara Tanggung Jawab dan Kehilangan Momen

Dari sisi akademik, pemberian tugas sebenarnya bukan tanpa alasan. Beberapa dosen menganggap tugas sebagai cara agar mahasiswa tetap produktif dan tidak kehilangan ritme belajar.

Namun, bagi mahasiswa, ada harga yang harus dibayar: kehilangan momen. Lebaran bukan sekadar hari libur biasa. Ini adalah waktu untuk berkumpul, mempererat hubungan keluarga, dan beristirahat secara mental. Ketika waktu tersebut terpotong oleh tugas, pengalaman Lebaran menjadi terasa berbeda.

Ada yang harus izin sebentar dari ruang tamu hanya untuk mengerjakan tugas. Ada yang memilih begadang setelah seharian bersilaturahmi. Bahkan, ada yang lebih fokus pada deadline daripada percakapan dengan keluarga.

Dan tanpa disadari, momen-momen kecil yang seharusnya berharga justru terlewat.

Realita yang Diam-Diam Diterima

Menariknya, banyak mahasiswa yang akhirnya menganggap situasi ini sebagai hal yang “biasa”.

Budaya begadang demi tugas, mengerjakan deadline di mana saja, hingga membawa laptop saat mudik seolah menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa. Bahkan muncul anggapan bahwa menjadi mahasiswa berarti siap dengan tugas kapan pun, termasuk saat Lebaran.

Ada semacam penerimaan diam-diam bahwa libur tidak selalu berarti bebas.

Namun, di balik itu, ada kelelahan yang sering tidak terlihat. Tekanan untuk tetap produktif, bahkan di momen yang seharusnya menjadi waktu istirahat, perlahan bisa berdampak pada kondisi mental.

Saatnya Menata Ulang Makna Libur

Fenomena ini mungkin tidak bisa sepenuhnya dihindari. Dunia perkuliahan memang memiliki tuntutan tersendiri. Namun, bukan berarti tidak bisa disikapi dengan lebih bijak.

Baik mahasiswa maupun dosen sebenarnya memiliki peran. Mahasiswa perlu belajar mengatur waktu dan menentukan prioritas, sementara dosen juga dapat mempertimbangkan beban tugas, terutama di momen-momen penting seperti Lebaran.

Karena pada akhirnya, libur bukan sekadar jeda dari aktivitas akademik, melainkan juga waktu untuk memulihkan diri—secara fisik maupun mental.

Lebaran, antara Bahagia dan Deadline

Lebaran seharusnya menjadi momen kembali. Kembali ke keluarga, kembali ke ketenangan, dan kembali pada diri sendiri.

Namun, bagi sebagian mahasiswa, Lebaran juga berarti kembali membuka laptop, kembali mengejar deadline, dan kembali bergulat dengan tugas. Di tengah opor dan ketupat, ada layar laptop yang tetap menyala.

Dan mungkin, di situlah realita mahasiswa hari ini: merayakan Lebaran, sambil tetap berdamai dengan deadline.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda